Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan

"Sudah tengah malam, tapi kamu kok belum tidur, Sayang?" tanya saya pada si sulung sambil setengah mengantuk. 

"Aku pengen belajar membaca, Bunda. Aku pengin tahu dia ngomong apa. Jadi nanti aku enggak usah tunggu bunda bacain buku karena aku bisa baca sendiri," jawabnya sambil menunjuk salah satu tokoh di buku cerita bergambar yang berada di pangkuannya. 

Rupanya dia masih penasaran dengan cerita dalam buku tersebut yang belum sempat selesai saya bacakan untuknya. Saya hanya mengangguk dan tersenyum kemudian mengajaknya kembali tidur. 

Keesokan hari, akhirnya saya "terpaksa" memenuhi permintaannya untuk mengajarkan ia membaca meski saat itu dia baru berusia 5 tahun. Sejak awal saya sudah berniat untuk tidak mau terburu-buru mengajarkan si kecil membaca jika secara fisik maupun psikologis ia belum siap. Namun melihat tekadnya yang kuat, saya pun memutuskan untuk mulai mengajarkan ia membaca. 

Mendukung keingintahuan anak lewat bacaan. (Foto: dok. pri)

Saya pun menyesuaikan ritme pengajaran membaca tersebut sesuai dengan kemampuan pada usianya. Sejak saat itulah, membaca dan buku menjadi kegemaran dan aktivitas yang sangat disukainya. Bahkan, adiknya yang berbeda usia dua tahun darinya juga punya ketertarikan membaca dan gandrung pada buku sebagaimana kakaknya. 

Parenting itu penting

Setelah mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai editor pada tahun 2010 dan berkomitmen untuk menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, saya benar-benar menikmati peran sebagai seorang ibu. Saya termasuk yang setuju bahwa pendidikan yang tinggi dari seorang ibu juga memberi pengaruh signifikan dalam pengasuhan buah hatinya kelak. Oleh karena itu, saya sangat percaya diri dengan status sebagai ibu rumah tangga dan tidak pernah menyesali keputusan tersebut. 

Sebagai seorang ibu yang concerned dalam bidang parenting dan pendidikan, saya sering mencari info seputar dunia tersebut. Saya juga sering berdiskusi dengan para ibu atau orangtua yang memiliki masalah dalam pengasuhan anaknya. Mereka melihat bahwa kedua anak kami merupakan salah satu contoh pengasuhan yang dianggap berhasil. Menurut mereka, anak-anak kami yang gemar membaca dan suka buku adalah bukti sebab sebagian besar orangtua di tempat kami tinggal cukup sulit mengajarkan anaknya agar suka membaca. 

Membangun kebiasaan membaca di rumah adalah langkah awal yang positif. (Foto: dok. pri)

Secara khusus, saya tidak membuat tips atau cara melatih agar anak-anak saya agar suka membaca. Namun kami secara langsung mempraktikkan dalam keseharian karena kami memang punya tradisi dan kegemaran membaca. Pekerjaan sebagai editor lepas dan penulis lepas (yang hingga kini masih terus saya geluti) menambah peran bahwa membaca adalah sebuah keharusan. Akan tetapi, kami tetap menanamkan nilai pada mereka bahwa apa pun pekerjaan atau profesi yang mereka pilih ketika dewasa kelak, mereka akan tetap membutuhkan keterampilan membaca dan menulis.

Fun reading adalah kunci

Sejak anak kami berada dalam golden age (0-5 tahun), kami sebagai orangtua benar-benar berusaha agar kedua buah hati kami mendapatkan segala hal yang dibutuhkan dalam masa emas tumbuh kembang tersebut. Asupan nutrisi yang sehat dan pemenuhan zat-zat gizi yang diperlukan untuk tumbuh kembang kami upayakan sebaik mungkin. 

Syukurlah anak-anak kami tidak memiliki kesulitan dalam hal makan. Namun bagi orangtua yang cukup kewalahan dengan anak yang sering melakukan GTM (Gerakan Tutup Mulut) alias tidak mau makan atau pilih-pilih makanan, tentu harus memiliki strategi yang jitu. Vitamin dan suplemen seperti Generos sebagai penunjang kebutuhan nutrisi untuk tumbuh kembang optimal bisa menjadi solusi yang sangat dibutuhkan. Menguntungkan bagi orangtua, juga anak.

Generos sahabat anak Indonesia, mendukung tumbuh kembang secara optimal.

Sebagai produk herbal vitamin untuk anak, Generos sangat bagus untuk mengatasi gangguan speech delay atau terlambat bicara, anak autis, dan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Karena mampu mengaktifkan syaraf otak, maka Generos membantu anak untuk meningkatkan daya ingatnya selama kegiatan bermain dan ketika sedang belajar.

Kandungan ikan sidat dalam Generos, misalnya, menjamin asupan protein yang cukup tinggi. Setidaknya ada tiga asam lemak omega 3 yang dikenal sangat berperan dalam kesehatan manusia yaitu asam linolenat ALA, EPA dan DHA. Dengan demikian, Generos menyediakan manfaat untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal agar bergerak aktif dan cerdas.  

Anak bergerak bebas dan aktif leluasa saat bermain sambil belajar. (Foto: dok. pri)

Nah, khusus dalam pola pengembangan belajar, terutama membaca, pada masa golden age itulah kami menanamkan fondasi agar aktivitas membaca dapat menjadi cara belajar yang menyenangkan sehingga mereka merasa asyik tanpa merasa terbebani atau terpaksa menjalaninya. Beberapa cara kami terapkan untuk memberikan suasana yang tidak menjemukan ketika mereka melakukan aktivitas memilih buku atau membaca. 

Beberapa cara itu di antaranya: kami memberikan kebebasan kepada mereka untuk memilih buku yang mereka sukai, memberikan hadiah berupa buku pada hari istimewa atau ketika mereka mendapat prestasi, keberhasilan, atau pencapaian tertentu, memberikan buku-buku bacaan yang sesuai dengan usia mereka, dan kami juga tidak memberi batasan terhadap mereka dalam memilih jenis buku tertentu yang menjadi favorit, seperti sains, seni, komik, dan lain-lain. 

Selain hal-hal itu, kami senantiasa menciptakan ekosistem yang nyaman untuk membaca, dengan membuatkan rak-rak khusus buku yang menarik atau menyiapkan camilan sehat saat membaca, termasuk menjadikan diri kami sebagai role model bagi mereka dalam aktivitas membaca. 

Kami yakin setiap anak adalah peniru yang ulung sehingga orangtua sebagai orang terdekat mereka memiliki kesempatan yang besar untuk bisa menanamkan nilai-nilai positif pada buah hatinya, termasuk kesukaan membaca ini pada tahun-tahun keemasan mereka. Alih-alih memberikan gadget, kami lebih nyaman untuk melibatkan mereka dengan beraktivitas bersama buku.

Manfaat membaca buku bersama anak

Kami mengusahakan sebisa mungkin untuk menjadikan kegiatan membaca buku sebagai gaya hidup bagi kedua putra kami. Sejak usia balita mereka pun sudah dibiasakan dengan keberadaan buku di sekitar mereka. Membaca di perpustakaan umum, pergi ke toko atau pameran buku, atau mengikuti acara seminar dan bedah buku bukan sesuatu yang aneh bagi mereka. 

Memanfaatkan perpustakaan daerah sebagai tempat baca gratis dan menyenangkan. (Foto: dok. pri)

Mengisi waktu luang atau saat-saat menunggu dan mengisinya dengan kegiatan membaca juga membuat hal-hal tersebut tidak lagi menjadi sesuatu yang menjemukan atau membosankan. Mereka jarang sekali mengalami tantrum di tempat-tempat umum akibat ketidaknyamanan yang dirasakan sebab bisa mereka alihkan dengan kegiatan bersama buku. 

Kami mengakui bahwa di kota kecil tempat tinggal kami kebiasaan atau kegemaran kami dalam membaca buku belum menjadi hal yang lumrah. Apalagi semakin banyaknya anak yang lebih terbiasa bermain game atau memegang gadget ketimbang buku membuat kegiatan membaca buku, terutama buku fisik, menjadi agak “unik”. Padahal dr. Dian Pratamastuti, Sp.A., seorang dokter spesialis anak  menyatakan bahwa gadget, baik secara langsung maupun tidak, bisa menyebabkan speech delay pada anak. 

Oleh karena itulah, kami sebisa mungkin tetap mempertahankan kebiasaan dan kegemaran membaca ini karena memiliki begitu banyak manfaat positif dan tak ternilai harganya bagi kedua buah hati kami. Kebiasaan tersebut terbukti sudah memberikan manfaat dan banyak hal yang tidak didapat dari gadget seperti beberapa hal berikut ini.

1. Membuat bonding semakin erat antara orangtua dan anak

Sejak golden age hingga saat ini, kedua putra kami merupakan anak-anak yang terbilang sangat dekat dengan kami, orangtuanya. Meski demikian, mereka tidak memiliki masalah dalam bersosialisasi dengan teman sebayanya. Kedekatan kami terbentuk dari berbagai aktivitas berharga yang kami lakukan bersama. Kegiatan fisik seperti bersepeda, memasak, mencuci pakaian, bersih-bersih rumah, dan lain-lain, termasuk membaca buku terbukti memberi pengaruh yang luar biasa untuk mengeratkan hubungan.

Membaca bersama dapat menciptakan bonding yang kuat dengan anak. (Foto: dok. pri) 

Membacakan buku sebelum tidur (saat mereka masih balita) atau membaca buku favorit masing-masing, kemudian mendiskusikan isi buku tersebut menjadi ajang yang membuat kedekatan itu semakin bertambah. Mereka sangat terbuka dan mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan tanpa merasa takut atau terintimidasi karena kami memberikan keleluasan akan hal tersebut. Mereka merasa percaya bahwa orangtuanya menjadi tempat aman dan nyaman untuk mencurahkan segala hal yang mereka pikirkan atau rasakan.

2. Nalar dan kreativitas semakin terasah 

Melalui kegiatan membaca buku dan mengulas isinya, kedua anak kami mengerahkan kemampuannya untuk berpikir kritis dan menggunakan nalar untuk menjelaskan serta mengungkapkan pendapatnya. Dari bahan bacaan itu pun, mereka mulai menggabungkannya dengan kegiatan lain yang menjadi bakat dan minat mereka, salah satunya adalah menulis dan membuat komik.

Banyak hal yang mereka dapatkan dari membaca, lalu mereka ungkapkan kembali dalam bentuk tulisan di buku harian atau saat mengerjakan tugas dari sekolah dan membuat gambar-gambar atau komik. Pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan bacaan itu memperkaya hasil gambar atau komik yang mereka buat dan semakin menyeleksi buku-buku yang mereka anggap bagus dan layak untuk mereka baca dan koleksi. 

3. Memperbanyak kosakata 

Kegiatan membaca bersama, baik dengan read aloud ketika masih batita dan jadwal membaca bersama buku favorit masing-masing saat ini terbukti menambah banyak perbendahaaan kosa kata yang mereka miliki. Salah satu yang tampak nyata adalah kemampuan mereka dalam memilih diksi atau frasa yang mereka gunakan saat mengungkapkan gagasan, baik dalam tulisan atau ketika berbicara. 

Hal itu cukup menjelaskan bahwa membaca memberikan stimulasi kepada otak untuk merespon dan menyimpan begitu banyak memori berupa kosa kata serta pengembangannya serta bisa memprosesnya untuk digunakan dalam menulis dan berbicara. Bahkan si kecil kini sudah bisa melakukan editing apabila membaca buku atau suatu teks yang dirasakannya keliru, baik dalam bentuk kata maupun tanda baca. 

4. Belajar menulis dari membaca

Banyak membaca akan merangsang anak untuk bisa menulis. (Foto: dok. pri)

Saat krucil kami mulai bisa membaca dan menulis, mereka memang lebih sering berinteraksi dengan buku ketimbang gadget. Bukan tanpa tujuan, tetapi kami memang menghindari sebisa mungkin untuk memberikan gawai tersebut ketika media buku dan pena masih lebih aman dan bermanfaat bagi mereka. Ketika kedua putra kami sudah terbiasa membaca, secara otomatis mereka membutuhkan media untuk mengalirkan kembali hasil bacaan tersebut dalam bentuk kegiatan menulis. 

Oleh sebab itulah kami memberikan mereka sebuah wadah untuk mencurahkan hal tersebut, salah satunya adalah buku harian (diari). Mereka dibimbing untuk menuliskan apa yang ingin mereka ungkapkan dari pikiran, perasaan, pengalaman hingga gagasan atau ide. 

Kebiasaan menulis di buku diari ini memberikan sebuah bonus ketika si sulung mengikuti lomba menulis surat tingkat SD/MI Nasional yang diselenggarakan oleh PT Pos Indonesia. Ia mendapat juara harapan 2 dan mendapat hadiah berupa piagam dan uang senilai 1,5 juta rupiah. 


Sebelumnya ia pun mendapat juara 1 dalam kontes menulis yang diadakan oleh seorang bloger yang tinggal di Korea dan mendapat hadiah piagam dan uang saku senilai 900 ribu rupiah. Kemenangan yang ia dapatkan dari kesukaannya membaca dan menulis ini semakin menguatkannya bahwa membaca sangat penting dan bisa mengantarkannya menuju sukses di masa depan.

Tentu saja ini kemenangan ini bukanlah tujuan kami. Namun hal tersebut menjadi pembuktian dan motivasi bagi keluarga-keluarga lain, terutama di sekitar kami bahwa membaca sangat penting dan memiliki manfaat, apalagi dengan gencarnya gerakan sadar literasi. 

Tak heran jika membaca menjadi jendela ilmu. Melalui banyak membaca, maka kita akan semakin banyak pengetahuandan kesempatan. Kalau nanti anak-anak bisa jadi penulis, maka mereka akan membuka jendela-jendela baru. Bukan layaknya jendela rumah atau apartemen yang terlihat, melainkan jendela batin dan pikiran yang saling memperkuat dan mencerahkan.  


Mungkin tak ada yang menyangka bahwa awal tahun 2020 pandemi akibat penyebaran virus Covid-19 ternyata mampu melumpuhkan hampir semua aspek kehidupan masyarakat di seluruh belahan dunia. Pandemi juga membuat semua orang terlibat dalam upaya dan perjuangan mengatasi kesulitan hidup dengan beragam cara. 


Dampak yang paling jelas terasa tentu saja pada sektor kesehatan dan perekonomian. Tak sedikit orang mengalami beratnya pergulatan untuk bertahan hidup akibat menurunnya kesehatan dan terganggunya sumber pendapatan. Namun dampak yang tak kalah besar ternyata menimpa anak-anak. Mereka merasakan beban cukup berat akibat pandemi yang tak terprediksi datangnya. 

Selain sebagai selingan kreatif, menggambar mendorong anak berimajinasi.

Akibat wabah yang berlangsung secara global, anak-anak tak lagi bisa belajar di kelas dan kehilangan kesempatan untuk berjumpa teman-teman mereka. Pandemi memang memaksa sekolah menyesuaikan proses belajar mengajar dengan menerapkan learning from home atau pembelajaran jarak jauh. Di satu sisi pola pengajaran semacam ini memang efektif menekan laju penyebaran virus berbahaya tersebut. Namun di sisi lain ada satu kelemahan penting, yakni kesiapan guru dan sekolah yang ternyata belum terbiasa mengelola kelas dalam bentuk distance learning yang kreatif dan tetap menyenangkan. 


Di sinilah pentingnya peran orangtua untuk mengambil inisiatif kreatif karena anak bisa mudah bosan lantaran materi dari sekolah cenderung monoton, apalagi anak jarang bersosialisasi dengan bertemu teman-teman sekelas. 


Namun jangan khawatir karena orangtua bisa mengondisikan learning from home dengan menyenangkan sebagaimana semangat Merdeka Belajar dengan serangkaian kiat yang bisa dicoba sendiri di rumah.

1. Memanfaatkan Internet

Era Industri 4.0 menandai kecanggihan teknologi informasi yang semakin menemukan momentumnya. Dunia digital membuat kehidupan manusia modern serbatekoneksi. Inilah era IoT atau Internet of Things yang memungkinkan kita terhubung tanpa sekat ruang dan waktu untuk bertukar informasi dalam bentuk pesan, audio. video, dan bahkan kolaborasi proyek. 


Anak-anak generasi Z yang merupakan digital natives sangat menggandrungi teknologi. Agar belajar di rumah menyenangkan, coba manfaatkan Internet untuk mendukung minat dan bakat mereka. Apa yang tak bisa diberikan oleh sekolah konvensional bisa terpenuhi oleh sumber-sumber berharga dari Inernet. Keingintahuan anak akan materi sekolah bisa dipasok dengan referensi dan informasi memadai yang tidak terbatas dari Google dan Youtube. Lewat situs tersebut, mereka bisa mendapat gambaran lebih lengkap dan menarik mengenai materi yang dibutuhkannya. 


Animasi atraktif dan video memikat akan menarik minat mereka untuk mengeksplorasi tema dengan penuh kegembiraan. Mereka bisa mempelajari sesuatu tanpa merasa sedang belajar. Tentu saja pendampingan dan pengawasan dari orangtua sangat diperlukan karena mereka belum memiliki kematangan dalam memilah dan memilih informasi.

2. Menuangkan materi jadi gambar 

Anak-anak selalu suka menggambar. Apa pun yang digambar dan bagaimana pun hasil gambar mereka, mengajak mereka mengolah materi menjadi bentuk visual akan sangat menyenangkan. Trik ini kami terapkan dalam proses belajar kedua anak kami. Hasilnya, mereka bisa lebih cepat memahami materi pembelajaran. Di sisi lain, sensasi relaks dan rekreatif pun terpenuhi. 


Mereka merasa enjoy dan menjadikan belajar sebagai kegiatan yang menghibur. Misalnya ketika membahas cuaca, si bungsu saya arahkan untuk menggambar bagaimana tornado terjadi. Belakangan ini ia memang sangat tertarik pada angin topan dan semacamnya sehingga menggambar materi itu akan mendorongnya belajar lebih jauh lewat buku-buku lainnya. 

Gambar karya si bungsu yang menjelaskan tahap-tahap angin tornado.

Gambar bisa berbentuk manual atau digital, sesuaikan dengan kebiasaan anak. Tak harus bagus dan sempurna, yang penting mereka mengekspresikan diri dengan bebas tanpa ada tekanan sehingga hasilnya akan menciptakan kepuasan dan bahkan ketagihan. Silakan tentukan bersama anak gambar apa yang akan dibuat. 

3. Menulis diari

Cara lain untuk menghilangkan kebosanan dalam belajar adalah menuangkan segala pengalaman, ide, cita-cita, dan apa saja yang anak rasakan selama belajar dari rumah melalui catatan di buku harian atau diari. Curahan hati yang diekspresikan dalam bahasa mereka sendiri dalam bentuk diari memiliki efek positif yakni melepaskan beban stres layaknya yang dirasakan orang dewasa. 


Saya teringat pada kisah Zlata Filipovic yang dijuluki "Anne Frank dari Sarajevo", salah seorang anak korban perang di Bosnia. Teman-teman sebayanya yang tinggal di rumah sakit atau panti disebut mengalami trauma mendalam, sedangkan Zlata agak berbeda karena dia punya kebiasaan mencatat peristiwa dan mengabadikan pengalamannya dalam bentuk diari. Ia melihat dunia di sekelilingnya dengan sudut pandang yang agak jauh, seolah-olah ia hanyalah pemeran dalam film yang ia tonton.

Menulis diari menambah kosa kata anak dan melatih menuangkan gagasan.

Selain melepas stres, menulis diari akan melatih anak-anak untuk menghasilkan tulisan tangan yang bagus alih-alih terbiasa menulis di gawai. Mereka juga jadi terbiasa menuangkan gagasan dan pikiran dalam bentuk tertulis. Dengan selingan gambar-gambar yang mewakili imajinasi mereka, diari akan semakin hidup dan bahkan mendatangkan keuntungan.


Ini terjadi pada si sulung ketika menuliskan cita-citanya dalam secarik kertas lalu mengirimkannya untuk meramaikan sebuah giveaway. Tulisannya ternyata memikat hati sepuluh juri Chuseok Angpao yang digagas oleh blog Creameno bertajuk "Jika aku besar nanti aku ingin menjadi...." Tulisannya jadi luwes salah satunya berkat kebiasaan menulis diari yang sudah dimulai sejak lama. 

4. Mengikuti kelas online sesuai hobi

Karena hobi bikin komik, maka kedua buah hati kami sering ikut kelas online yang banyak ditawarkan secara cuma-cuma oleh berbagai penyelenggara. Mengikuti kelas online bukan hanya menambah wawasan, tetapi juga jaringan pertemanan baru--sesuatu yang mereka rindukan selama pandemi karena tak bisa bertemu teman-teman di kelas.

Hal ini dilakukan selain bisa mendapatkan wawasan dan ilmu pengetahuan yang lebih luas tentang suatu hal, mereka juga tak jarang mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi lebih luas dengan teman-teman baru dari daerah lain atau bahkan dari negara lain. 

5. Bermain teka-teki

Mengisi teka-teki bisa mengasah otak dan berlatih strategi.


Salah satu cara belajar yang menyenangkan adalah lewat permainan, seperti bermain teka-teki atau tebak-tebakan. Ketika suntuk belajar buku-buku teks, kami biasanya menawarkan kepada anak-anak untuk bermain tebak-tebakan. Selain berlatih public speaking, permainan ini juga bagus untuk menguji sejauh mana daya ingat (kognitif) mereka dalam suatu bidang.

Kami biasanya menggunakan buku sains sebagai sumber tebakan. Materi bahasa, pengetahuan agama, dan matematika juga tak lepas kami coba bersama. Kami bermain secara bergantian: satu orang bertanya dan sisanya menjawab dengan cepat. Orang yang menjawab tercepat menjadi pemenang dan berhak mengajukan pertanyaan selanjutnya. Sebagai pancingan, kami memulainya dengan pernyataan seperti "Aku adalah ...." dan memberikan ciri-ciri benda tersebut.

Sebagai variasi, anak-anak bisa mengisi teka-teki silang yang bisa dikerjakan sendirian dan kami siap siaga memberikan bantuan jika mereka menemukan kesulitan. Intinya, orangtua harus siap mendampingi untuk memberikan dukungan sehingga anak merasa percaya diri.
  

6. Bermain games bersama

Sepertinya tak ada anak yang tidak suka main games. Bahkan bukan hanya anak-anak, orang dewasa pun gandrung pada gaming. Hanya saja berbeda jenis dan kompleksitas game yang dimainkan. Kami membolehkan anak-anak bermain games sebagai selingan dari aktivitas lain yang mungkin membosankan. Bagaimanapun juga, bermain games secara digital menghadirkan pengalaman berbeda dibandingkan jenis permainan lainnya. 

Mereka boleh bermain game dengan tiga syarat. Pertama, menaati waktu yang disepakati. Kedua, memainkan games yang edukatif, bukan hanya menghibur. Ketiga, game itu tak perlu kami instal di smartphone mengingat ponsel kami sudah penuh memorinya. Tiga patokan ini rasanya cukup sebagai bekal memilih game yang tepat.

Setelah membaca sebuah blog post, saya tertarik pada plays.org. Ada ratusan games di website ini yang segera kami coba mainkan dengan memilih lewat kategori yang tersedia di bagian bawah. Tinggal pilih mana tema yang disuka. Si sulung yang suka olahraga langsung kesengsem sama Funny Soccer sedangkan si bungsu yang suka binatang tak bisa lepas dari Cut for Cats.

Yang menyenangkan dari situs ini adalah kita tak perlu menginstal aplikasi game khusus baik di ponsel maupun di laptop agar bisa memainkannya. Jadi enggak boros memori hape atau komputer. Kita juga tak perlu mendaftar atau signup dulu. Kita bisa langsung pilih game yang disuka dan memainkannya seketika. Selain koleksinya lengkap, game yang ditawarkan sangat ringan dan mudah dioperasikan. 



Dalam Funny Soccer, tugas kita sebagai pemain sangat mudah: menggiring bola ke gawang lawan untuk mencetak gol dengan menyundul atau menendang bola. Tips yang bisa dipetik setelah memainkan game ini, usahakan agar bola selalu berada di depan kita sehingga kita bisa mencetak gol sebanyak mungkin melebihi lawan. Suara latar sangat mendukung gerakan lincah kaki dan sundulan seolah-olah tengah berada di stadion.

Untuk memainkan game ini, kita cukup mengandalkan tombol panah ke kanan dan ke kiri untuk maju mundur menyesuaikan posisi bola dan mengimbangi lawan. Untuk menendang bola, kita bisa menekan tombol X dan tombol Z untuk menyundul jika bola berada di atas. Sangat mudah kan? Cobalah sendiri.

Kegirangan waktu menang, yeay!

Sedangkan Cut for Cats lebih menguji strategi dan logika lewat ilmu fisika. Tugas kita adalah memberi makan kucing hitam yang kelaparan. Dia mengincar candy roll atau permen yang digantung di atas. Karena terikat, maka kita harus memotong (cut) tali agar permen menggelinding menuju si kucing. Namun ada syarat yang tak boleh terlewat: permen harus melewati tiga bintang dulu untuk membuka mulut kucing hitam.

Makin penasaran kan? Memang sangat menarik kok dan bisa bikin ketagihan meskipun game-nya sederhana. Pemain harus memperhitungkan ayunan tali setelah dipotong agar bisa menyasar bintang. Semakin tinggi levelnya, semakin menantang ikatannya, bahkan berupa rantai sehingga butuh gergaji untuk memotongnya.



Untunglah game-game yang kami coba di plays.org sangat ringan sehingga cepat dan responsif saat dimainkan. Di sana disedikan cara bermain yang sangat mudah, bisa dilakukan anak dan orang dewasa. Bukan hanya mudah, tapi memberi hiburan dan bahkan mengasah otak anak-anak sebagai selingan kreatif dari kegiatan belajar buku-buku sekolah yang mungkin membosankan.

7. Berkebun

Aktivitas lain yang sangat kami tekankan di rumah adalah berkebun. Dengan berkebun anak-anak bukan hanya belajar sabar dengan menanti biji bertunas dan tumbuh menjadi pohon, tetapi juga menyadari pentingnya menyediakan oksigen sebanyak mungkin di alam. Saat berkebun mereka juga kami ajak berkolaborasi dan mengamati tanaman secara saintifik.

Mereka begitu gembira ketika berhasil menemukan ilmu atau fakta baru tentang tumbuhan. mereka akan lebih happy tatkala biji yang ditanam tumbuh menjadi pohon yang bunganya bisa kami manfaatkan. Misalnya bunga telang yang bisa kami seduh menjadi teh hangat nikmat atau sebagai pewarna alami untuk menanak nasi lemak nan ungu ala Kuala Lumpur.  

Selain mengasyikkan, berkebun juga banyak manfaatnya bagi anak. 


Kedekatan dan kecintaan mereka pada alam dan lingkungan yang dilakukan melalui berkebun akan memberikan pemahaman bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa pepohonan yang menyuplai oksigen, memberikan keindahan, dan hasil yang bisa dikonsumsi manusia. Anak-anak akan belajar mencintai alam dan tidak suka untuk merusaknya.

Itulah sejumlah kiat yang menjadi rahasia kami selama anak-anak menjalani proses learning from home saat pandemi. Tentu saja setiap keluarga memiliki rumus atau kiat tersendiri yang bisa ditiru dan disesuaikan sesuai kondisi dan hobi anak. Meskipun pandemi sudah mulai reda, sejumlah sekolah masih belum membuka opsi tatap muka. Jadi pastikan menemani anak-anak dengan cara-cara kreatif agar mereka semangat belajar.

Semoga Sahabat Xibianglala tetap sehat dan semangat terus menjalani salah satu periode menantang dalam sejarah umat manusia.  
"Alhamdulillah ...." Rumi langsung sujud syukur setelah yakin bahwa ia tidak salah lihat namanya tertera sebagai pemenang lomba menulis bertema "Jika aku besar nanti, aku ingin menjadi .... " Ia berseru dengan senangnya, "Beneran aku yang menang, Bund?"
 
Tanggal 30 September 2021 adalah hari terakhir bulan tersebut yang dirayakan Rumi dengan penuh suka cita. Tulisannya berhasil memikat seluruh juri (10 orang) sehingga terpilih sebagai pemenang dalam gelaran Chuseok Angpao yang digagas oleh blog CREAMENO. Saya sendiri terkejut dengan keputusan itu karena sama sekali tak menyangka Rumi bisa terpilih. Malah saya sempat menyampaikan sedikit rasa pesimis, yang saya sesali belakangan, karena berpikir Rumi termasuk peserta yang didiskualifikasi. 


Isi tulisan Rumi memang lebih cenderung curhat tentang keinginannya jadi atlet dan sabeum taekwondo. Rumi pun mengisahkan awal mula ia bisa menyukai olahraga bela diri tersebut. Salah satu yang mendorongnya adalah peristiwa bullying atau perundungan yang dialaminya ketika duduk di kelas satu SD. 

Perlunya adaptasi

Sebagai orangtua yang benar-benar mengikuti perkembangan Rumi, saya tahu betul bahwa Rumi mengalami momen-momen berat yang membuatnya terpaksa berjuang untuk mengatasinya. Mungkin perbedaan aksen, postur tubuh hingga pencapaian di kelas yang terbilang bagus membuat beberapa anak merasa iri dan tidak menyukainya. 

Ada beberapa anak yang melakukan hal-hal "mengerikan" dengan mengekspresikan ketidaksukaannya dengan perilaku yang membahayakan anak-anak lainnya. Akan tetapi, saya sama sekali tidak menyalahkan si anak yg membully Rumi karena banyak faktor yang pasti mempengaruhi perilakunya tersebut. Salah satunya pola asuh atau parenting yang buruk di keluarganya dan hal tersebut akhirnya memang terbukti. 

Walhasil, saya dan suami berusaha mencari solusi utk ikut meringankan dan mengatasi masalah Rumi tersebut. Mulai dari menemui kepala sekolah untuk mengatasi para pem-bully Rumi, mempertimbangkan untuk mencari sekolah lain hingga mencarikan aktivitas di luar sekolah yang bisa membuat Rumi mengalihkan perhatian dan melampiaskan emosi secara positif hingga bisa menghilangkan traumanya. 

Hal itu jujur saja sangat sulit dilakukan. Kami benar-benar sering dibuat kelimpungan dengan kepribadian Rumi yang cenderung berubah menjadi terlalu peka (baper), mulai temperamental tapi mudah cengeng, malas belajar, dan mood swing yang sangat cepat berubah-ubah. Kami bersyukur hal tersebut tidak terlalu berimbas pada hubungan Rumi dengan adiknya. Setidaknya ia tetap memperlakukan adiknya dengan penuh kasih sayang. 

Bergerak aktif solusinya

Beberapa upaya akhirnya kami coba dan sedikit demi sedikit angin mulai berubah ke arah yang positif, seperti contohnya ketika ia mau dan tertarik untuk melakukan kegiatan-kegiatan seperti menggambar, menulis diari, ikut bela diri Taekwondo, dan sering ikut kegiatan berbagi lewat komunitas NBC juga ikut kajian di Masjid Namira kesayangannya. 

Satu per satu benang kusut trauma bullying yang dialami oleh Rumi mulai terurai. Ia menikmati kegiatan-kegiatan tersebut. Bahkan beberapa di antaranya ada yang menghasilkan pencapaian di luar ekspektasinya. Sebut saja ketika ia mendapat apresiasi menggambar dari salah satu blogger di Jepang yang membeli karyanya dengan harga fantastis bagi ukuran Rumi. Ia sangat senang dengan apresiasi tersebut. Pernah pula ia memenangkan hadiah buku-buku yang lumayan banyak dari lomba menggambar yang diselenggarakan oleh penerbit Noura. Rumi juga mendapat kenaikan sabuk dua tingkat langsung di ujian kenaikan tingkat taekwondo yang hingga saat ini rekor tersebut belum terpecahkan. 

Beberapa kali ia pun mengikuti event atau lomba (saya tahu betul bahwa Rumi benar-benar ingin berusaha mencapai sesuatu) dan ia membuktikan bahwa ia mampu. Ia juga mulai menggandrungi komik yang baginya dianggap bisa mengekspresikan ide atau gagasannya. Ia mulai memahami dan percaya bahwa ketika ia dapat mencapai sesuatu yang baik, akan ada reaksi positif atau negatif di sekelilingnya. Namun hal yang negatif harus berusaha dia enyahkan dan berupaya untuk memilih serta mengambil hal-hal yang positif saja. 

Jadilah tantangan menulis ala diari mengenai keinginan seorang anak jika ia besar nanti menjadi salah satu kegiatan favorit dan mengisi sebagian besar waktu Rumi di sela-sela pembelajaran sekolahnya yang memasuki penilaian tengah semester. 

Butuh terus memotivasi

Perjalanan Rumi mengatasi trauma perundungan yang ia alami memang belum sepenuhnya selesai. Bagaimanapun, alam bawah sadarnya kadang muncul mengingat peristiwa perundungan yang pernah Rumi alami. Sebagai orangtua, kami dituntut untuk terus sabar dan memberi penguatan serta motivasi yang bisa membangun kembali rasa percaya diri, keberanian, kerja keras dan kemandirian, tetapi tanpa kehilangan rasa empati, kasih sayang, dan kejujuran. 

Masih banyak anak-anak lain yang kini masih bergulat dengan bullying, baik sebagai pelaku maupun korban. Tidak ada hal yang tidak mungkin untuk memutus mata rantainya selain dengan upaya belajar memperbaiki pola asuh atau parenting sehingga bisa menciptakan ruang yang positif bagi anak-anak tersebut. Semoga! Apakah Sahabat Xibianglala juga punya pengalaman tentang bullying juga? Yuk kita sharing .... 

Saat kami sedang bercengkerama sambil menikmati teh dan camilan, Bumi (9 tahun) bertanya, “Bunda, kalau nanti aku sudah bekerja dan tinggal di luar negeri, Bunda mau ikut aku atau Mas Rumi?”


Aku tidak terkejutsoalnya sudah seringdan hanya tersenyum mendapat pertanyaan seperti itu. “Kenapa kamu tanya kayak gitu, Dik? Memang nanti kamu mau tinggal di mana?” Saya balik bertanya karena sejujurnya itu termasuk pertanyaan yang sangat sulit. Memang agak curang sih, heuheuheu.


Rumi (11 tahun) yang tadi sedang asyik membaca komik ikutan nimbrung, “Aku kan mau tinggal di Belanda karena pabrik truk DAF itu ada di sana. Kalau adik tinggal di Jerman karena pabrik truk MAN ada di Jerman. Aku dan adik pengin jadi insinyur truk di sana. Nanti Bunda dan Ayah bisa ikut aku atau adik supaya ada yang jagain.”


Truk besar karya Bumi menggunakan program Paint di komputer

Saya tertawa sampai menangis mendengar mereka mengucapkan kata-kata itu. Mengkhayal banget sih, tapi bukankah mimpi itu memang harus setinggi langit? Namun impian itu setidaknya sudah tecermin dalam hobi Bumi yang sangat gemar menggambar aneka kendaraan, terutama truk besar yang memukaunya.  


Percakapan random dengan beragam tema seperti contoh di atas sering terjadi di antara kami. Bagi sebagian orangtua, terutama di lingkungan kami, percakapan seperti ini mungkin hal yang aneh dan tidak banyak dilakukan. Namun bagi kami, hal-hal yang mereka katakan seperti itu menjadi sangat penting, salah satunya untuk menilai pola pikir dan sikap mereka.

Tak ada sekolah menjadi orangtua 

Sebagai orangtua, saya dan suami sangat menyadari keterbatasan ilmu dan pengetahuan yang kami miliki. Oleh karena itu, kami tak pernah berhenti untuk mencarinya dari berbagai sumber, termasuk mengenai hal parenting


Waktu masih tinggal di Bogor kami rajin ikut seminar, bergabung dalam komunitas, dan membaca literatur yang berkaitan dengan parenting agar pengasuhan semakin produktif. Banyak hal yang kami dapat dari sana dan sedikit demi sedikit kami terapkan sesuai nilai-nilai yang kami pegang sejak awal. Ketika pindah ke Lamongan dan pandemi melanda seluruh dunia, belajar parenting menghadapi tantangan tersendiri.


Tak ada lagi sesi curhat atau bertemu konselor dalam acara komunal di gedung atau offline. Untunglah kecanggihan teknologi menghadirkan solusi. Tinggal di daerah memang punya keterbatasan, tapi era serbadigital memungkinkan kami memperbarui dan menambah ilmu parenting dengan mengakses parentsquads.com portal parenting yang lengkap. Bukan hanya mudah, tapi juga beragam sajiannya, tepat untuk mendukung orangtua atau calon orangtua menemani pertumbuhan anak-anak mereka.   


Seiring bertambahnya usia, anak-anak kami pasti membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan apa yang kami dapat dari orangtua kami dahulu. Alhamdulillah, kami dianugerahi dua anak laki-laki yang sangat membanggakan dan sejauh ini kesulitannya masih bisa teratasi. Namun jelas kami tidak boleh jumawa dan lengah.


Hal inilah yang membuat kami terus berusaha memantaskan diri sebagai pribadi yang sudah mendapat anugerah sedemikian besar. Pertumbuhan dan perkembangan mereka tak pernah lepas dari pengamatan kami, terutama saya yang rela melepaskan karir pekerjaan demi mengasuh sendiri kedua buah hati kami.  


Sembilan "aturan" penting dalam parenting keluargaku

Banyak teman yang sering curhat mengenai pengasuhan putra atau putri mereka. Sebagian besar mengaku memiliki masalah yang sulit mereka atasi. Kami tidak berani untuk memberikan jaminan solusi sebagaimana para pakar parenting karena tentu bukan kapasitas kami untuk melakukannya. 


Kami hanya sering menceritakan pada mereka mengenai pengalaman-pengalaman mengasuh kedua buah hati kami. Pengalaman itu merupakan upaya kami menerapkan ilmu parenting yang kami dapat.


Dari pengalaman keluarga kami tersebut, saya membuat sebuah pola yang kemudian menjadi semacam panduan parenting keluarga kami. Ada sembilan hal yang harus dihindari, bukan hanya oleh anak-anak, tetapi juga oleh kami sebagai orangtua. Larangan ini dibuat sebagai rambu agar kami mampu menjadi keluarga bahagia, lahir dan batin. Bukankah bahagia itu merupakan hal terbaik yang harus kita upayakan?


Apa saja sih larangan yang mesti dihindari itu? Mengapa harus dihindari? Bagaimana cara menanamkan pemahaman tersebut kepada anak-anak? Yuk simak 9 "jangan" yang sangat penting bagi keluarga kami.


1 |  Jangan jauh dari Tuhan

Kecanggihan teknologi informasi telah menyebabkan perubahan tren yang cepat di seluruh dunia. Ribuan konten terus diproduksi setiap hari baik dalam bentuk tulisan seperti blog, video di Youtube, atau microblog populer seperti Twitter dan Tumblr, hingga Instagram dan TikTok yang tak mungkin dihindari.


Masifnya arus informasi mesti diimbangi dengan bekal spiritual yang mumpuni. Oleh sebab itulah kami senantiasa mengajak mereka untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Jangan sampai jauh dari agama. Lazimnya sebuah keluarga muslim, kami belajar bersama dan tak lelah saling mengingatkan. Mulai dari cara berwudhu yang benar, shalat, dan membaca Qur'an yang akan sangat bermanfaat bagi masa depan mereka.


Sisi ruhani harus ditempa dan dibekali sejak dini agar anak siap di masa nanti.

Bukan hanya mereka yang ikut kelas tahfiz agar memahami adab dan manfaat membaca Al-Qur'an, tetapi kami pun berusaha menambah hafalan surah sehingga mereka merasa mendapat spirit untuk maju. Merasa tak sendiri sehingga bisa murajaah bersama-sama dan saling mengingatkan saat dilanda kemalasan. 

 

2 | Jangan berhenti belajar

Jangan berhenti belajar adalah larangan kedua dalam keluarga kami. Semangat untuk menambah ilmu, wawasan, dan pengalaman tak boleh lekang oleh usia. Belajar tak harus lewat bangku sekolah, tapi bisa dari mana saja. Lewat pengajian, tayangan televisi, buku, Internet, hingga obrolan singkat dengan pemulung bisa membentuk pelajaran yang sangat bermanfaat. 


3 |  Jangan malas membaca

Membaca buku, juga bahan tertulis lainnya, bisa menjadi gerbang pembuka cakrawala menuju dunia nyaris tak terbatas. Kami upayakan untuk menyediakan buku-buku sesuai minat mereka sehingga minat baca sedikit demi sedikit tumbuh secara alami. Tentu saja kami mesti mengawali dengan memberi contoh tentang betapa asyiknya membaca.



Mereka tak jarang kami ajak ke perpustakaan daerah agar mereka bisa memilih banyak bahan sesuai hobi atau preferensi. Selain itu, kami berikan kebebasan mereka untuk membeli buku lewat marketplace agar dapat membaca buku favorit mereka. Ada kegembiraan tersendiri saat mereka menerima paket berisi buku yang diidamkan.


4 | Jangan takut melakukan kesalahan

Membuat kesalahan memang terlihat menyebalkan, apalagi jika dilakukan anak di mata orangtua. Namun tanpa keberanian mencoba hal baru, anak-anak tak akan belajar sesuatu. Justru lewat kesalahanlah mereka bisa mengetahui sejauh mana kemampuan dan ketahanan mereka diuji. Kami berikan kesempatan untuk eksplorasi, mulai dari melakukan percobaan, membantu memasak, hingga belajar bahasa menggunakan aplikasi.


Belajar hal baru bisa membangun kepercayaan diri anak.

Tak apa awalnya terjadi kesalahan tapi lambat laun mereka mendapatkan pengalaman berharga lewat pembelajaran langsung dan mandiri. Dari sini kami bisa membangun bonding misalnya saat memasak atau berkebun bersama. Kami tak melulu melakukan koreksi tapi lebih mengutamakan membangun koneksi. Agar mereka merasa dekat dan melekat pada orangtua tanpa takut berbuat. Mereka juga tumbuh percaya diri tanpa takut dihakimi.


5 |  Jangan tinggalkan budi pekerti

Masih ingatkah teman-teman saat seorang ibu menghardik bahkan menggoblokkan seorang kurir yang dianggap salah mengirimkan barang pembeli tersebut? Ya, video itu sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu padahal itu sepenuhnya kesalahan penjual yang salah mengemas barang. Serangan verbal wanita tersebut segera direspons secara negatif oleh warganet di Tanah Air. Betapa seorang ibu mestinya memberi contoh sang anak, tapi malah mengumbar kata-kata kecaman dengan penuh amarah.


Terus terang akhlak menjadi poin penting yang kami tanamkan dalam jiwa kedua anak kami. Alh-alih sekadar mengejar kecerdasan kognitif, kelembutan hati dan kesopanan sangat kami prioritaskan. Mendidik anak yang berbudi pekerti atau akhlak mulia memang bukan perkara mudah. Butuh konsistensi teladan dan pengajaran yang tak kenal waktu. Godaan masif dari konten berupa teks dan video di dunia maya sungguh bikin terlena.


Berfoto bersama pendongeng asal Amerika pada sebuah festival dongeng internasional di Surabaya tahun 2019

Salah satu cara mendorong anak agar punya budi yang luhur adalah mengikuti sesi dongeng bersama saat pandemi belum terjadi. Dengan mendengarkan dongeng bermuatan pekerti yang luhur, anak-anak bisa menyerap pelajaran penting tanpa merasa digurui. Mereka merasa terlibat dalam cerita dan mencoba menaksir di mana posisi mereka seharusnya tanpa didikte orangtua. Lewat dongeng juga mereka bisa belajar memahami sudut pandang orang lain agar tak gegabah menyalahkan atau menghakimi.


6 | Jangan segan bergerak

Selama pandemi anak-anak tetap kami ajak untuk melakukan aktivitas fisik sesuai kebutuhan. Kadang bermain badminton di depan rumah, kadang mengunjungi sawah eyangnya yang tinggal tak jauh dari kami. Selain mendapatkan udara bersih, anak-anak bisa belajar tentang tanaman atau sumber pangan yang selama ini mereka konsumsi. Bagaimana padi berasal atau buah-buahan bisa tumbuh menjadi pengalaman langka bagi mereka yang dilahirkan di kota besar (Bogor).


Dengan bergerak, mereka juga akan memiliki badan yang sehat. Gerakan fisik menjadi makin relevan selama wabah Covid-19 karena bisa menyegarkan badan dan meningkatkan imunitas. Gerakan-gerakan aktif akan mendukung terbentuknya pikiran yang sehat pula. 


Sehat dan berprestasi, juga sanggup menghadapi bully

Saya teringat bagaimana si sulung merengek untuk pindah sekolah saat masih kelas 1 SD empat tahun silam. Ia mengalami bullying yang segera kami respons dengan mendaftarkannya ke klub Taekwondo setempat. Kebetulan latihan digelar di lantai dua perpustakaan daerah sehingga anak-anak bukan hanya melakukan olah fisik yang menyehatkan tapi juga kesempatan mebaca buku selepas latihan.


Berkat latihan yang tekun, si sulung tak lagi ingin pindah sekolah dan bahkan menyabet medali emas untuk kategori poomsae semi prestasi pada Kejurprov di Pasuruan Jawa Timur tahun 2019 silam. Bukan hanya kepercayaan dirinya yang meningkat, tapi keberaniannya menghadapi perundung juga bangkit.   


7 | Jangan takut berbeda

Larangan berikutnya bagi anak-anak adalah jangan takut berbeda. Tak masalah jika sesekali mereka memilih gaya atau kebiasaan yang tak sama dengan teman-teman sekolah, misalnya. Jika teman-temannya sudah mendapat gawai berupa smartphone, maka kami tegaskan mereka belum memerlukannya. Toh mereka bisa menggunakan ponsel milik ayah dan bunda.


Yang kami tekankan justru proses belajar karakter karena itu yang butuh waktu lama. Sedangkan menggunakan ponsel pintar sangatlah mudah bagi mereka generasi Z yang merupakan digital native. Bukan hanya itu, jika orang masih asyik buang sampah sembarangan, mereka harus menunjukkan kebalikannya. Menjaga lingkungan dan alam adalah wujud cinta kita kepada kehidupan. Itu yang kami tekankan.  


8 | Jangan enggan berekspresi

Mengekspresikan gagasan atau ide sering menjadi isu krusial bagi anak-anak di negeri ini. Sebenarnya bukan hanya anak-anak, remaja dan dewasa pun kerap mengalaminya. Saat tak setuju dengan sebuah hal, mereka jadi urung mengutarakannya sebab tak terbiasa ekspresif padahal punya kepentingan untuk diperjuangkan.


Kalaupun akhirnya menyatakan pendapat, tak jarang bentuknya seragam dengan muatan yang tidak unik atau spesifik lantaran takut dicemooh atau dinilai rendah oleh orang lain. Inilah yang coba kami kikis pada diri anak kami. Sejak belia kami ajak mereka untuk berani berkomunikasi dengan orang lain demi memuluskan hajat mereka. 


Berani mengekspresikan maksud dan gagasan adalah modal penting agar anak berkembang.

Misalnya saat membuka rekening bank khusus anak dan menyetorkan uang dari uang saku mereka. Mereka awalnya enggan dan bahkan malu, tapi lambat laun memiliki kecenderungan untuk mengungkapkan apa yang menjadi kebutuhan sehingga dipahami orang lain. Untuk tahap pertama, kami biasakan dalam bahasa Indonesia, dan selanjutnya beralih ke model presentasi dalam bahasa Inggris yang akan sangat mereka butuhkan kelak. 


9 | Jangan lupa berbagi

Akhirnya value yang sangat utama untuk dibentuk dan ditanamkan pada anak-anak adalah kebiasaan untuk peduli lewat kegiatan berbagi. Sejak masih tinggal di Bogor, mereka kami libatkan dalam acara berbagi nasi yang ngider keliling Bogor setiap dua pekan sekali. Mereka juga kami ajak berkunjung ke sebuah pantai yang kebakaran di bilangan Sukasari agar mereka mensyukuri keadaan apa pun sambil membangun rasa empati.


Rumi dan Bumi ikut serta membagikan nasi bungkus suatu pagi untuk warga yang terdampak pandemi.

Kepedulian ini semakin kontekstual saat pandemi melanda dunia tanpa terkecuali. Selain diskusi tentang acara sosial, mereka sering kami ajak ikut langsung kegiatan membagikan nasi bungkus siap santap setiap Jumat pagi lewat komunitas sedekah Nasi Bungkus Community (NBC). Komunitas ini juga membagikan puluhan truk air bersih ke lima kecamatan saat Lamongan dilanda kekeringan parah 2018 silam.


Besar harapan kami aktivitas positif semacam itu akan menjadi energi baik yang akan menyalakan semangat kepedulian dan cinta kasih sampai kapan pun dan di mana pun mereka berada. Mereka harus mampu memberikan kontribusi atau andil untuk memberdayakan masyarakat sesuai peran yang mereka ambil. Mereka harus tumbuh penuh kebahagiaan dan menikmati setiap pencapaian, termasuk membantu orang.


Rasa syukur dalam setiap pencapaian kecil, apalagi melibatkan bantuan pada orang, adalah tonggak penting yang akan menyempurnakan kecerdasan majemuk mereka sebagai bagian vital untuk memasuki dunia kerja. Tepat seperti yang saya baca di parentsquads.com yang kini menjadi portal langganan untuk belajar seputar pengasuhan.


Entah mengabdi di Indonesia dalam posisi sebagai apa pun, ataupun bekerja sesuai passion mereka seperti yang diidamkan yakni di Jerman dan Belanda, satu hal yang kami wejangkan agar sembilan hal ini terus terpatri sebagai bagian tak terpisahkan sampai kapan pun. Agar mereka menikmati kebersamaan bersama warga dunia lainnya dalam membentuk masyarakat yang sehat dan produktif menurut skill dan empati yang sudah mereka siapkan.

Ah, akhirnya ngeblog lagi setelah begitu lama hiatus, Bumi anak nomor dua kami semakin besar dan tumbuh sebagai anak yang energik, juga kreatif. Di usianya yang belum genap lima tahun, kemampuan motorik maupun kognitifnya semakin mumpuni. Yang lebih menggembirakan lagi, ia mau berbagi dan membela kakaknya yang tulen.



Kami sadar sebagai orang tua harus membantu melejitkan kemampuan mereka sesuai bakat dan potensi pribadi masing-masing--terutama Rumi si sulung. Di rumah tahfiz kemampuan mereka lumayan bagus dan semoga semakin bagus sehingga terpupuk nilai-nilai Qurani sebagai bekal masa depan. 

Dengan mode homeschooling, kami banyak belajar dan berdoa agar kiranya karakter dan kualitas mereka sebagai manusia betul-betul mencerminkan jiwa keimanan, yang akan memberi kemanfaatan bagi orang lain. Semoga. Aaamiin.

Sekian update kali ini. Salam :)