Tampilkan postingan dengan label sekolah kreatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekolah kreatif. Tampilkan semua postingan

“Bunda, kok Adek belum ada PTS (Penilaian Tengah Semester) ya? Padahal sekolah lain sudah selesai semua,” tanya si bungsu saat kakaknya mengajak memancing. 


Kami memang menjanjikan duo krucil kami untuk mencoba kegiatan memancing dengan syarat sudah selesai kegiatan PTS agar mereka bisa fokus untuk mempersiapkan ujian yang biasanya memakan waktu lebih dari seminggu tersebut. Akan tetapi, alih-alih kami malah mendapat surat pemberitahuan dari sekolah tentang kegiatan yang cukup anti-mainstream dan membuat dua krucil kami penasaran. Isinya adalah sebuah kegiatan yang diberi nama Madrasah Ibtidaiyah Thoriqul ‘Ulum Outdoor Study Activity.


Bus Tayo siap mengajak siswa MI Thoriqul 'Ulum berkeliling sebelum acara utama.

Anak kami merupakan siswa kelas 2 di sekolah Ibtidaiyah yang bernama Madrasah Ibtidaiyah Thoriqul ‘Ulum atau kami sering menyebutnya dengan MITU, sebuah sekolah di bawah naungan YPPI  Thoriqul ‘Ulum yang diasuh oleh KH. Abdul Wahib Muhammad Ikhsan atau sering disebut Abah Wahib. Lokasi sekolah ini berada di Jalan Mastrip Gg. Made Tegal Sebalong No. 118 Lamongan. 


Kegiatan belajar variatif agar anak kreatif


Di masa pandemi ini, MITU sudah melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) meski terbatas hanya tiga kali seminggu, yaitu hari Senin, Rabu, dan Jumat. Hanya saja dua krucil kami belum mendapat izin dari ayah mereka untuk mengikuti PTM di sekolah. Meski demikian, sekolah tetap memperkenankan orangtua dan siswa jika ingin memilih mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dilakukan secara daring (online). 


Pandemi memang merupakan tantangan tersendiri, khususnya dalam dunia pendidikan formal. Hal yang bersifat kratif dan inovatif sangat diperlukan untuk menyiasati kegiatan belajar mengajar yang sangat terbatas, baik oleh tempat maupun waktu.


Sejauh pengalaman yang sudah kami lalui selama dua tahun belakangan ini, kegiatan pembelajaran di MITU memang dilaksanakan sebagaimana layaknya pola pengajaran di madrasah ibtidaiyah pada umumnya. Beberapa di antaranya adalah program pembentukan karakter santri salafi melalui shalat duha di sekolah, belajar doa-doa harian, membaca dan menghafal surah-surah pendek Al-Quran, diajarkan sopan-santun serta akhlak mulia, dan tentu saja bidang-bidang studi agama dan umum sesuai kurikulum nasional. 


Namun, MITU memiliki daya tarik lain sehingga cukup menyita perhatian kami bahkan sejak awal kegiatan orientasi sekolah mereka yang tentu saja disukai anak-anak dan meninggalkan kesan mendalam. Kegiatan itu pilihan MITU tersebut berupa aktivitas belajar outdoor yang membuat kami angkat jempol karena menjadi alternatif kegiatan belajar yang menyenangkan, tidak membosankan, dan tentu saja … gratis!


Ternyata, di masa pandemi ini MITU kembali membuat kegiatan outdoor dan kali ini melibatkan institusi dari luar untuk terlibat di dalamnya. Hal yang tentu saja harus diperhatikan dan selalu saya tanamkan pada XXBB adalah bahwa meskipun dilakukan di luar ruangan, jangan lupa atau lengah untuk selalu menerapkan protokol kesehatan karena agenda kegiatan ini melibatkan banyak orang. Ada dua lembaga yang menjadi mitra pembelajaran kali ini, yaitu Komunitas Pencinta Reptil (KPR) Lamongan untuk kegiatan PTS anak-anak kelas 1 dan 2, sedangkan untuk kelas 3-6 melibatkan UD Barokah (sebuah tempat penggilingan padi) di Desa Kebet, Lamongan. 


Sayangnya, kegiatan yang sama menariknya ini tidak bisa saya liput karena jarak yang cukup jauh dari tempat kegiatan bersama Komunitas Pencinta Reptil ini. Mungkin jika benar-benar penasaran, duo krucil lain waktu bisa mampir ke tempat penggilingan beras milik paman mereka yang lokasinya tidak jauh dari rumah Mbah Utinya.


Kegiatan PTS yang bikin antusias


Acara yang diselenggarakan pada tanggal 24 Maret 2021 ini dimulai pada pukul 06.00 WIB. Untuk mengantisipasi keterlambatan, saya sudah mengantar XXBB berangkat ke sekolah sejak sepuluh menit sebelumnya. Di sana sudah menunggu sebuah bus mini (di tempat kami disebut bus Tayo) yang penampakannya mirip dengan bus rekreasi yang sering kita temui di tempat-tempat wisata. XXBB langsung berbinar-binar melihat kendaraan yang sangat disukainya itu. Bus Tayo memang favorit anak-anak dan sering digunakan untuk berkeliling desa/kota dengan tarif Rp3.000 per anak. 


Namun untuk kegiatan ini tidak ada sepeser pun dana yang ditarik karena sudah didukung oleh donatur sekolah. Setelah persiapan sana-sini, bus Tayo berangkat pada pukul 07.30 dan para orangtua murid diberikan informasi bahwa kegiatan bersama Komunitas Pencinta Reptil akan dimulai pada pukul 10.00 yang akan dilakukan di halaman Masjid Baiturrahman Made.


Berhubung saya juga memiliki agenda mengantar dan menjemput si anak sulung yang sekolah di SD negeri dan juga tengah melaksanakan PTS, maka saya menyerah mengintili bus Tayo keliling kampung/kota dan berputar arah kembali ke rumah. Niat saya adalah langsung menyambangi Masjid Baiturahman, Made untuk ikut menyaksikan kegiatan anak-anak bersama Komunitas Pencinta Reptil di sana. 


Tidak berbeda dengan anak-anak, para orangtua pun ikut antusias untuk mengikuti kegiatan ini. Bagaimana tidak penasaran jika PTS semacam ini digunakan untuk menilai pembelajaran siswa. Ada enggak ya hal semacam ini di sekolah lain?


Bin(a)tangnya adalah biawak, piton, dan iguana


Saya ternyata terlambat tiba di lokasi (halaman Masjid Baiturahman) karena memang belum pernah bertandang ke masjid tersebut. Saya butuh berkeliling dulu untuk menemukan lokasinya yang ternyata tidak terlalu jauh dari belakang perumahan saya. Saya melihat anak-anak sudah duduk melingkari kakak-kakak dari KPR yang berdiri di tengah lingkaran dan masing-masing sudah menggendong binatang peliharaannya. Hawa geriming-geriming sebenarnya sudah mulai terasa di kuduk saya, tetapi tetap saya beranikan diri untuk melihat dari dekat.


Para siswa yang sejak berangkat dari sekolah sudah dibekali oleh kertas tugas PTS terlihat antusias memperhatikan dan menyimak penjelasan dari Kakak KPR dan sesekali mencatat informasi penting yang mereka dapatkan. XXBB yang memang menyukai jenis hewan reptil ini dan sudah memiliki berbagai bahan bacaan berkaitan dengan reptil terlihat sangat konsentrasi dan sesekali menjadi narasumber bagi teman-temannya yang masih belum paham.


Siswa MI Thoriqul Ulum Lamongan memegang reptil, bermain sekaligus belajar.

Hewan-hewan yang menjadi bintang dalam kegiatan tersebut adalah biawak atau nyambek (bahasa Jawa), ular berjenis phyton, serta iguana berusia tujuh tahun dan anaknya yang berusia empat bulan. Makanan, cara bergerak, dan cara memelihara hewan-hewan itu adalah beberapa hal yang dijelaskan oleh kakak-kakak dari KPR. Biawak yang bergerak dengan cara merayap sering kali memakan tikus, ikan, ayam, bahkan telur. 


Salah satu orangtua ikut mengiyakan informasi tersebut karena ia sering kehilangan ayam dan telur di rumahnya. Demikian pula dengan ular phyton, si hewan melata yang juga suka memangsa tikus dan unggas kecil. Adapun makanan iguana adalah tumbuhan-tumbuhan dan buah-buahan. Melihat iguana yang sedang merayap serasa melihat hewan dari masa prasejarah karena bentuknya yang bersisik dan menurut XXBB mirip stegosaurus.


Setelah kakak-kakak KPR selesai memberikan penjelasan, tibalah saatnya berkenalan lebih dekat dengan hewan-hewan reptil tersebut. Para siswa diperkenankan untuk memegang, mengusap, bahkan menggendong hewan yang terlihat menakutkan, tetapi sangat menarik rasa penasaran anak-anak itu. Satu per satu anak maju dan memberanikan diri memegang salah satu hewan dengan ekspresi wajah yang takut-takut tetapi mupeng. 


Para orangtua juga tak kalah antusias untuk mengabadikan “keberanian” anak-anaknya dengan smartphone masing-masing meski dari wajahnya tampak gentar, hahaha. XXBB tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan meminta giliran untuk memegang, mengusap-usap, dan menggendong hewan-hewan itu. Lumayan lama juga kegiatan itu hingga tak terasa pagi sudah merambat siang.


Ingin lebih lama


Anak-anak belum puas bercengkerama dengan reptil-reptil tersebut, tetapi kegiatan harus segera diakhiri karena jam telah menjelang pukul 11.00 dan udara sudah terasa cukup panas. Sambil menunggu kakak-kakak mengemas kembali hewan-hewan reptil tersebut dan memasukkannya ke kandang portable, anak-anak diberikan waktu beristirahat sambil mengudap roti dan minuman. Orangtua yang sudah datang dipersilakan untuk menjemput anaknya masing-masing. Namun apalah daya, anak-anak tetap memilih naik bus Tayo yang akan membawa mereka kembali ke sekolah. Haddeuuuhhh ….  


Wajah-wajah puas dan gembira terlihat dari para peserta kegiatan tersebut. Para orangtua dan guru pun berharap acara semacam ini bisa diselenggarakan lagi di waktu yang akan datang. Kepala sekolah MITU, Mat Kholidun, M.Pd, pernah mengungkapkan bahwa saat ini ini sekolah maupun orangtua perlu menyiapkan anak-anak untuk aktif dan kreatif serta siap berkolaborasi. 


Tampaknya kegiatan seperti ini merupakan salah satu upaya MITU untuk memperoleh keberhasilan dalam hal tersebut, salah satu hal yang kami pun sepakat. Semoga pandemi segera berakhir dan semua bisa berjalan secara normal kembali sehingga kegiatan belajar di sekolah tidak lagi terbatas. Bagaimana dengan pengalaman sekolah yang lain ya?