Pada tahun 2022, sebuah inisiatif lingkungan lahir dari masalah pribadi yang dirasakan oleh Ima Rida, pendiri Magi Farm. Hal ini bermula dari dirinya yang telah lama melakukan pemilahan sampah di rumahnya, tetapi ia masih merasa kurang puas karena sampah yang dipilah akhirnya tercampur kembali saat diangkut dan kemudian dibuang begitu saja ke tempat pembuangan akhir atau TPA.


Ima Rida dan Magi Kit, bagian dari produk Magi Farm yang bisa digunakan di rumah tangga. (Sumber foto: Instagram @magifarm_id)


Kenyataan ini menimbulkan rasa bersalah bagi Ima. Ia menyadari, sampah yang berakhir di TPA dengan kondisi tercampur antara sampah organik dan anorganik justru memperparah masalah lingkungan.


Sampah organik, meski terurai, membutuhkan waktu dan menghasilkan gas yang mampu menyumbang penyebab pemanasan global. Sedangkan sampah anorganik di TPA yang tidak bisa terurai perlu membutuhkan proses daur ulang.


Dari serentetan fakta itulah, Ima terpikirkan untuk menemukan solusi yang lebih baik terhadap masalah sampah yang ada, terutama bagi sampah organik.

 

Kesadaran Terhadap Bahaya Sampah yang Salah Penanganan


Sebelum mengenal keberadaan maggot, Ima melakukan metode komposting untuk mengolah sampah organik yang ia hasilkan di rumahnya. Namun, proses penguraian sampah menjadi kompos ini memerlukan waktu yang tak bisa cepat terurai. Sementara itu, sampah makanan di rumahnya bisa terus bertambah setiap harinya.


Ima merasa kecepatan proses komposting tersebut tidak seimbang dengan jumlah sampah yang dihasilkan setiap hari. Sementara itu, jika sampah organik dibiarkan begitu saja, bisa membusuk dapat menghasilkan gas metana, gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global.


Kesadaran Ima akan pentingnya pengelolaan sampah yang tepat muncul setelah ia memahami dampak buruk sampah pada lingkungan.


Ima Rida. (Sumber foto: Instagram @imaridaa)


“Padahal dulu kan waktu kecil yang ku tahu, oh ni kulit pisang nih, udah buang aja sembarangan. Ntar kan juga ilang. Tapi ternyata nggak begitu proses si kulit pisang ini bisa sampai terurai sempurna. Itu bisa mengeluarkan gas metana yang berbahaya yang kalau di TPA, gas metana ini bisa bikin meledak tuh. Trus kalau di muka bumi biasa bisa berkontribusi terhadap global warming sama climate change,” jelas Ima.


Pemahaman inilah yang memotivasinya untuk mendirikan Magi Farm agar sampah makanan bisa diolah dengan benar dan bermanfaat bagi lingkungan.

 

Magi Farm, Solusi Pengelolaan Sampah Organik yang Inovatif


Suatu ketika, Ima menemukan solusi dengan maggot yang merupakan larva lalat hitam atau black soldier fly. Larva ini mampu menguraikan sampah makanan lebih cepat. Secara alami, maggot bisa mengonsumsi sampah organik dan menghasilkan pupuk organik dalam waktu singkat.


Setelah keberhasilannya mengolah sampah makanan sendiri, Ima terinspirasi untuk berbagi solusi ini dengan masyarakat luas. Terutama, untuk skala rumah tangga, hotel, dan restoran yang ada di Bali. Di Magi Farm, Ima membuka kesempatan kerja sama bagi siapa saja yang ingin mengelola sampah organik mereka secara lebih bertanggung jawab.


Magi Kit, salah satu produk utama dari Magi Farm. (Sumber foto: Instagram @magifarm_id)


Maka lahirlah Magi Farm, sebuah social enterprise yang mengedepankan prinsip keberlanjutan dalam menangani sampah makanan. Magi Farm menawarkan solusi inovatif dalam pengelolaan sampah makanan dengan menggunakan maggot.


Usaha ini menawarkan dua pilihan bagi pelanggan. Pertama, pelanggan dapat mengumpulkan sampah makanan mereka di ember khusus yang disediakan Magi Farm yang nantinya akan diolah menggunakan maggot. Kedua, mereka bisa mengadopsi larva-larva maggot dalam Magi Kit yang dapat ditempatkan di rumah.


Tim dari Magi Farm yang mengumpul sampah organik dari pelanggan. (Sumber foto: Instagram @magifarm_id)


Dengan mengadopsi Maggi Kit, sampah makanan dapat diolah sendiri secara langsung di rumah sehingga pelanggan Magi Farm bisa melihat proses penguraian yang dilakukan oleh maggot. Nantinya, seminggu sekali, sampah dan maggot yang sudah besar akan diambil oleh tim Magi Farm dan diganti dengan larva maggot yang baru.


Selain mengolah sampah makanan, Magi Farm juga menghasilkan berbagai produk turunan dari maggot. Maggot hidup dapat dijadikan pakan ternak untuk ikan lele dan ayam, sementara maggot yang dikeringkan bisa menjadi pakan untuk hewan peliharaan eksotis, seperti koi, tokek, dan sugar glider.



Berbagai produk turunan Magi Farm. (Sumber foto: Instagram @magifarm_id)


Salah satu produk unggulan Magi Farm adalah suplemen untuk anjing. Suplemen ini bukanlah makanan utama, tetapi digunakan sebagai topping tambahan. Mengingat populasi anjing di Bali cukup besar, suplemen ini pun mendapat sambutan positif dari para pemilik hewan peliharaan.


Sejauh ini, perjalanan Magi Farm tak lepas dari dukungan berbagai pihak. Mulai dari yayasan Kopernik, NGO yang bergerak di bidang isu lingkungan dan sosial, serta komunitas lingkungan lainnya. Berkat dukungan tersebut, Magi Farm berhasil mendapatkan informasi dan panduan dalam mengolah sampah makanan dengan maggot secara lebih efektif.


Respon dari masyarakat pun cukup positif, terutama di Bali. Beberapa pemilik restoran, hotel, bahkan rumah tangga di Bali menunjukkan ketertarikan terhadap pengelolaan sampah yang berkelanjutan.


Salah satu hotel bintang lima di Bali yang menggunakan jasa Magi Farm untuk pengolahan sampah organiknya. (Sumber foto: Instagram @magifarm_id)



Hingga kini, Magi Farm telah berkembang dan memiliki lima anggota tim. Ima sendiri memilih fokus penuh di awal tahun 2023 mengembangkan Magi Farm dan meninggalkan pekerjaan sebelumnya.


Kini, walaupun Magi Farm sudah berhasil mengolah lima ton sampah dalam setahun, Ima merasa usahanya tersebut masih perlu ditingkatkan untuk mencapai dampak yang lebih signifikan. Sampah makanan yang dihasilkan di Indonesia masih sangat tinggi dan sebagian besar berakhir di TPA. Ima berharap semoga makin banyak masyarakat yang mau memilah dan mengelola sampah organik di rumah sehingga masalah sampah bisa makin ditekan.


Magi Farm juga terus mengedukasi masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah yang baik. Langkah kecil seperti memilah sampah atau mengolahnya sendiri sudah dapat memberikan dampak besar bagi lingkungan.


Dalam perjalanannya membangun Magi Farm, Ima memiliki satu pesan penting bagi masyarakat yaitu ajakan untuk memulai dari hal-hal yang kecil. Misalnya, dengan pilah-pilih sampah organik dan non-organik di rumah, atau mencoba mengolah sampah makanan sendiri dengan metode sederhana.


Menurutnya, langkah-langkah kecil ini jika dilakukan secara konsisten, bisa membawa perubahan besar dan positif bagi lingkungan kita.


Atas kiprahnya bersama Magi Farm yang turut peduli pada lingkungan, Ima mendapat Apresiasi SATU Indonesia Awards di tahun 2023 untuk tingkat Provinsi Bali di bidang lingkungan.


PEMILIHAN KEPALA daerah selalu menjadi ajang yang meriah dan dinanti-nantikan. Apalagi tahun ini pilkada akan dilakukan secara serentak tanggal 27 November 2024 di seluruh Indonesia. Warga Indonesia akan memilih bupati dan wakilnya, walikota dan wawali, dan terutama gubernur dan wagub yang diharapkan akan memajukan daerah masing-masing.


Aang Kunaifi, ketua KPU Jatim, saat berbicara dengan awak media seputar debat kedua Pilgub Jatim 2024

Tak terkecuali Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Timur yang tengah sibuk menyiapkan debat publik kedua Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim yang akan digelar di Grand City Convention Center, Surabaya pada hari Minggu (3/11) sejak pukul 19.30 malam.


Tiga Srikandi Beradu Gagasan

Pilgub Jatim 2024 menjadi menarik salah satunya karena ketiga paslon yang berlaga semuanya adalah perempuan. Para srikandi yang akan berjuang untuk Jawa Timur adalah Luluk Nur Hamidah - Lukmanul Khakim sebagai paslon nomor urut 1, Khofifah Indar Parawansa - Emil Dardak pada nomor urut 2, dan Tri Rismaharini - Zahrul Azhar Asumta pada nomor urut 3.


Tema debat terbuka yang akan menguji visi, misi, dan program aksi para paslon adalah 'Tata Kelola Pemerintahan yang Efektif dan Inovatif serta Pelayanan Publik yang Inklusif untuk Keadilan Masyarakat Jawa Timur'.


Tema utama ini kemudian dielaborasi ke dalam delapan subtema untuk menjajaki kepiawain para paslon dalam penguasaan tema dan terutama menyangkut kebijakan publik yang akan bersinggungan dengan hajat hidup warga Jatim.


"Ada delapan subtema yang menjadi bahasan dalam debat kedua," ujar Nur Salam yang merupakan Komisioner KPU Jatim Divisi Sosdiklih Parmas saat berbicara dalam media briefing di Grand City, Surabaya, Sabtu 2 November 2024.


Tema Debat dan Tujuh Panelis

Tema utama itu lantas diuraikan lagi dalam delapan subtema yang lebih spesifik. Tujuh panelis telah ditugaskan untuk merumuskan satu tema besar dan delapan subtema sebagai berikut.
  1. Budaya dan Birokrasi Modern
  2. Inovasi Tata Kelola Pemerintahan
  3. Pelayanan Publik Transparan, Inklusif dan Berkeadilan
  4. Partisipasi Publik dan Pemberdayaan Masyarakat
  5. Harmonisasi Produk Hukum Daerah dan Meaningful Participation.
  6. Optimalisasi Kewenangan melalui Komunikasi dengan Pemerintahan Pusat dan Daerah
  7. Tata Kelola yang Menghargai dan Melindungi Keberagaman
  8. Mitigasi Bencana dan Bantuan Sosial


Siapakah yang telah ditunjuk sebagai panelis dalam debat kedua ini? Yang jelas, yang bertugas menguji para paslon lewat adu argumentasi dan rumusan tema berbeda dari debat pertama. Mereka adalah

  1. Prof Ir Agus Muhammad Hatta, ahli teknik fisika Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS); 
  2. Prof Dr H Abd Aziz Ahli Teknologi Pendidikan Fakultas Tarbiyah UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung;
  3. Prof Dr Hariyono, yang dikenal sebagai pakar sejarah politik Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang;
  4. Dr Aan Eko Widiarto, ahli Ilmu Perundangan-undangan dan Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Brawijaya;
  5. Prof Dr Biyanto, ahli ilmu filsafat dan sosial keagamaan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya;
  6. Sunan Fanani yang dikenal luas sebagai ahli Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Surabaya; dan
  7. Airlangga Pribadi Kusman, ahli politik dan tata kelola pemerintahan Dept. Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga.


Tentang independensi para panelis, Nur Salam meyakinkan bahwa mereka telah dipilih dengan seletif menurut keahlian dan independensi. Mereka bahkan telah menandatangani pakta Integritas.


Aang Kunaifi dalam sesi wawancara bersama media menambahkan, "Selama tidak ada catatan formal bahwa panelis merupakan tim kampanye paslon tetentu, maka selama itu pula dianggap independen," kata Ketua KPU Jatim ini.  


Hanya 100 pendukung 

Nur Salam mengatakan bahwa dalam debat kedua ini masing-masing paslon hanya diperbolehkan membawa 100 pendukung untuk masuk ke arena debat. Ini berbeda dari debat perdana di Graha Unesa yang boleh didampingi 150 massa per paslon. Keterbatasan kapasitas tempatlah yang jadi pertimbangan.


"Terkait lokasi, maka pendukung dalam ini setiap paslon hanya boleh 100 [orang] sehingga total ada 300 pendukung dari tiga paslon," kata Salam.


Debat kedua Pilgub Jatim 2024 akan digelar di Grand City Convex, Minggu (3/11) pukul 19.30

Yang juga berbeda adalah kali ini KPU Jatim kali ini tidak mewajibkan para paslon untuk memakai busana tertentu. Jika pada debat pertama lalu mereka wajib memakai busana adat Jawa Timuran, debat pada Minggu 3 November kandidat dibebaskan dalam memilih pakaian.


Jika debat publik pertama Pilgub Jatim dilangsungkan di Graha Unesa dan berlangsung sangat meriah, maka debat etape kedua akan dihelat di Grand City Convention and Exhibition (Grand City Convex) pukul 19.30 WIB, Minggu (3/11). Event ini bisa ditonton masyarakat terbuka melalui siaran langsung di JTV, CNN Indonesia, dan terutama akun Youtube KPU Jatim.


Jangan lupa ya Lur, tanggal 27 November 2024 kita semua merapat ke TPS untuk memilih kandidat terbaik demi memajukan Jawa Timur tercinta. Ayo seneng bareng ramaikan Pilgub Jatim. Ga nyoblos, ga mbois!

Dalam dunia medis, hipertensi atau tekanan darah tinggi kerap dikenal sebagai silent killer. Ia bisa merenggut nyawa seseorang secara tiba-tiba. Hal ini terjadi karena sering kali penyakit tersebut tidak menunjukkan gejala. Namun nyatanya, hipertensi bisa berdampak fatal jika tidak ditangani dengan tepat.


Ayu Rahmawati Hidayat. (Sumber foto: Instagram @ayurahmawatihidayat)


Hal itulah yang Ayu saksikan pada tetangganya. Ia bercerita, dulu pernah ada tetangganya yang mendadak meninggal dunia dan membuat terkejut banyak orang di sekitarnya.


“Jadi ada kasus yang pernah saya temui semasa saya kuliah tuh. Tetangga kan gitu, meninggal tiba-tiba. Dan karena pas kuliah kan saya sudah belajar tentang hipertensi dan bisa dikaitkan dengan hipertensi. Beliau jarang diperiksa juga ya. Dan dari gejala-gejalanya memang hipertensi. Dari lingkungan, saya ingin mengubah paradigma masyarakat tentang hipertensi,” cerita Ayu.


Karena itulah kini, saat wanita yang memiliki nama lengkap Ayu Rahmawati Hidayat ini sudah menjadi apoteker, ia mendedikasikan ilmunya pada masyarakat tentang bahaya hipertensi. Apalagi ternyata, itulah mimpi yang sudah dimilikinya sejak duduk di bangku kuliah.

 

Melakukan Penyuluhan Berawal dari Keluarga


Semuanya dimulai saat tahun 2015, ketika Ayu masih berstatus mahasiswa. Ia mulai tergerak untuk melakukan edukasi kesehatan dengan melakukan kegiatan penyuluhan kecil-kecilan tentang hipertensi. Lingkungan terdekat atau keluarga menjadi sasaran pertama Ayu waktu itu.


Pada tahun 2016, Ayu mulai lebih aktif terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat. Ketertarikannya pada hipertensi dan kesadaran akan pentingnya edukasi kesehatan menjadikannya semakin bersemangat untuk melakukan penyuluhan ke komunitas sekitar.


Masyarakat di sekitar tempat Ayu tinggal yang melakukan konsultasi kesehatan dengannya. (Sumber foto: Instagram @ayurahmawatihidayat)


Sedangkan di tahun 2018, saat telah lulus kuliah di Fakultas Farmasi Universitas Indonesia serta mulai bekerja menjadi apoteker, di situlah Ayu merasa sudah cukup memiliki pengalaman dan ilmu yang memadai untuk lebih serius dalam menjalankan misi penyuluhannya tersebut.

 

Saat Hipertensi Sering Dikaitkan dengan Hal Mistis


Ayu menyadari ada yang perlu dibenahi di masyarakat sekitar tempatnya tinggal waktu itu di daerah Banten. Ia mengamati bahwa di lingkungan sekitarnya waktu itu banyak masyarakat dengan latar belakang pendidikan yang masih rendah.


Apalagi, banyak juga orang yang cenderung mengaitkan hipertensi dan penyakit lain dengan hal-hal mistis. Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman tentang bahaya hipertensi dan perannya dalam kesehatan.


Karena itulah sebagai tenaga kesehatan, ia merasa perlu mengubah paradigma ini. Dalam beberapa kasus yang ia temui, ada masyarakat yang tiba-tiba meninggal karena hipertensi yang tidak tertangani.


Dengan pendekatan yang sabar dan edukatif, ia mencoba membuka wawasan masyarakat bahwa hipertensi adalah penyakit serius yang bisa dicegah dan dikelola dengan baik jika diketahui sejak dini.

 

Pembentukan Sahabat Sehat Masyarakat dan Konsultasi Online


Tahun 2020 menjadi momen penting bagi Ayu karena ia memutuskan untuk memperluas jangkauan edukasinya melalui platform online. Ia membentuk “Sahabat Sehat Masyarakat,” sebuah program yang bertujuan untuk menyediakan informasi kesehatan melalui konsultasi daring.


Program ini memungkinkan masyarakat yang membutuhkan informasi kesehatan atau edukasi tentang obat-obatan untuk berkonsultasi langsung melalui platform seperti WhatsApp.


Dengan latar belakang sebagai apoteker, ia dapat memberikan panduan mengenai penggunaan obat yang benar. Misalnya, ia sering membantu para ibu yang membutuhkan saran mengenai dosis obat untuk anak-anak mereka.


Tidak hanya itu, konsultasi 24 jam ini juga memfasilitasi masyarakat yang berada jauh dari fasilitas kesehatan untuk tetap mendapatkan informasi yang benar terkait obat-obatan. Ketika ada kasus yang lebih serius, ia selalu menyarankan agar mereka segera mengunjungi dokter.

 

Tantangan dan Realita yang Dihadapi Ayu di Lapangan


Mengadakan penyuluhan di lingkungan masyarakat bukanlah tugas yang mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi, terutama terkait dengan pemahaman masyarakat tentang kesehatan.


Saat penyuluhan dilakukan, sering kali audiensnya datang dalam jumlah yang cukup banyak, yang artinya antusiasme masyarakat sudah ada. Selain memberikan edukasi tentang hipertensi, ia juga melakukan pemeriksaan kesehatan gratis, seperti pengecekan tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan asam urat.


Ayu saat bertugas di masyarakat. (Sumber foto: Instagram @ayurahmawatihidayat)


Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan, ia menemukan bahwa sekitar 53 persen dari masyarakat yang diperiksa memiliki masalah kesehatan yang berhubungan dengan hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi. Data ini menguatkan keyakinannya bahwa edukasi kesehatan di masyarakat sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

 

Cita-Cita Sejak Kuliah: Mengabdi Lewat Edukasi Kesehatan


Cita-cita menjadi tenaga kesehatan yang bisa memberikan edukasi kepada masyarakat luas sudah menjadi mimpi Ayu sejak ia masih kuliah. Baginya, pendidikan kesehatan bukan hanya pekerjaan, melainkan panggilan hati.


Ia menyadari bahwa di kampung halamannya sendiri, hanya sedikit orang yang memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi. Hal inilah yang membuatnya semakin bertekad untuk memberikan kontribusi nyata dengan ilmu yang dimilikinya.


Setelah lulus dari Universitas Indonesia atau UI di Fakultas Farmasi dan resmi menjadi apoteker, ia pun melanjutkan misinya, baik melalui pekerjaannya maupun di luar tempat kerjanya.


Di tempat kerja, ia juga memberikan edukasi kepada pasien tentang penggunaan obat yang benar, baik dalam hal dosis maupun frekuensi pemakaiannya.


Perjalanannya yang berawal dari kegiatan kecil di lingkungan keluarga hingga kini berkembang menjadi program edukasi masyarakat yang lebih luas menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat bisa dilakukan dengan cara sederhana, tetapi berdampak besar. Dengan komitmen dan ketulusan, Ayu berhasil mengubah paradigma masyarakat tentang hipertensi dan pentingnya pengobatan.


Penghargaan yang diraih Ayu dalam SATU Indonesia Awards 2023 tingkat Provinsi Banten. (Sumber foto: Instagram @ayurahmawatihidayat)


Oleh karena itulah, di tahun 2023 lalu, Ayu berhasil mendapatkan penghargaan SATU Indonesia Awards di bidang kesehatan. Programnya yang memiliki nama Sahabat Sehat Masyarakat (MakSeMaMan: Makin Sehat Makin Mandiri) membuat ia mendapatkan dari Astra untuk tingkat Provinsi Banten.



 

Suryanto dan anak-anak sekolah yang berkunjung di Surya Fish Farm Education. (Sumber foto: Instagram @suryafishfarmeducation)

Berawal dari hobi memelihara ikan sejak SD, nyatanya seorang pria asal Yogyakarta bisa meraih penghargaan besar seperti Kalpataru hingga SATU Indonesia Awards. Tentunya bukan sebuah perjalanan yang singkat bagi Suryanto hingga ia bisa meraih dua penghargaan tersebut. 


Sebelumnya, Suryanto adalah seorang penggemar ikan hias yang lalu memulai bisnis jual beli ikan koi. Bahkan ia pun pernah termasuk salah satu penangkap ikan di sungai yang juga menggunakan alat setrum. 

 

Namun lambat laun, Suryanto sadar tentang pentingnya kelestarian lingkungan. Dari waktu ke waktu, ia lalu melakukan berbagai aksi yang membawa dampak positif bagi sikap masyarakat di sekitarnya terhadap alam, terutama ekosistem sungai.

 

Berawal dari Bisnis hingga Mendirikan Surya Fish Farm Education

 

Saat ini, banyak orang mengenal dan melekatkan Suryanto dengan Surya Fish Farm Education atau SFF Edu yang didirikannya 2015 silam. Namun sebelum ia mendirikan SFF Edu, ternyata Suryanto lebih terkenal sebagai penjual ikan hias koi.

 

Pria asal Pedukuhan Carikan, RT 03 RW 02, Kelurahan Bumirejo Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta ini sejak kecil tinggal di daerah yang dikelilingi sungai. Mulai dari yang berukuran kecil, hingga besar. 

 

Awalnya di tahun 2012, ia melakukan budidaya ikan hias jenis koi. Tak hanya itu, Suryanto juga memberi edukasi kepada para pelanggannya agar bisa memelihara dengan baik. 

 

Usahanya berbisnis ikan koi sambil memberi pengetahuan ke para pembelinya tersebut awalnya membuat ia tidak disukai para pedagang ikan hias lainnya. Namun uniknya, lambat laun caranya itu justru diikuti para penjual ikan hias lainnya. 

 

Selain budidaya ikan hias koi, Suryanto juga mengaku dulu kerap mencari ikan dengan setrum di sungai. Tetapi makin hari ia sadar, cara tersebut bisa merusak keberadaan ekosistem di sungai. 

 

Setelah ia sadar, Suryanto lalu berpikir bagaimana caranya agar masyarakat di sekitarnya juga bisa berhenti dari kebiasaan menangkap ikan dengan cara setrum. Hingga di tahun 2017, momen itu pun datang.

 

Saat itu, marak terjadi pencurian di rumah warga. Suryanto kemudian mengusulkan untuk menghidupkan lagi sistem pos ronda. Sementara itu, kebiasaan warga menangkap ikan dengan cara setrum di sungai pada malam hari juga masih kerap terjadi.

 

Akhirnya sambil melakukan ronda dan berjaga di pos ronda, Suryanto menyisipkan obrolan tentang cara melestarikan sungai dan ikan lokal yang ada di sungai sekitar daerah mereka.

 

Langkahnya dalam berkomunikasi dengan warga akhirnya berhasil. Makin hari, makin sedikit warga yang menangkap ikan dengan cara setrum. Masyarakat di sekitar tempatnya tinggal bahkan bergotong royong membuat papan peringatan larangan mengambil ikan dengan cara setrum. 

 

Cara ini awalnya tentu mendapat penolakan. Dari beberapa papan larangan yang dipasang, sempat ada juga papan-papan yang dirusak. Ia cukup mengerti karena hal tersebut terkait dengan mata pencaharian masyarakat.

 

Tapi Suryanto pantang menyerah. Pelan-pelan, ia terus memberi tahu dan memberi edukasi. “Karena dia itu juga butuh untuk makan, jadi kita juga harus pintar-pintarnya memberi pemahaman pengertian,” ujar Suryanto. 

 

Di tahun 2015, Suryanto kemudian menyisihkan sebagian hasil penjualan ikan koi dari usaha budidayanya  untuk mendirikan SFF Edu. Dari uang yang dimilikinya, ia membangun pendopo, membeli beberapa akuarium, dan membuat beberapa kolam budidaya. Semuanya itu ia pakai sebagai media edukasi untuk mereka yang tertarik dengan budidaya ikan hias.

 

Halaman SFF Edu. (Sumber foto: Instagram @suryafishfarmeducation)


Pria yang mengaku hanya lulusan SMA dan tidak punya dasar ilmu formal tentang perikanan ini banyak belajar dari pengamatan sendiri. “Kita memelihara, terus mengetahui karakteristiknya gimana, sama budidayanya,” aku Suryanto. 

 

Ia terus melakukan semua itu degan motivasi karena menyukai lingkungan yang bersih. “Zaman aku dulu waktu masih kecil, banyak alami. Terus waktu dewasa kok banyak sekali kerusakan dan tercemar. Terus aku ingin kembali ke masa-masa dulu seperti itu,” ungkap Suryanto.

 

Edukasi Ikan untuk Kelestarian Lingkungan

 

Tempat tinggal Suryanto yang juga menjadi tempat berdirinya SFF Edu memang cukup asri. Sebagai tempat edukasi dan konservasi, SFF Edu berada di balik teduhnya pepohonan kebun pohon jati, beberapa pohon kelapa, dan pohon mlinjo. 

 

Saat mengunjungi tempat ini, para pengunjung langsung mendengar suara gemericik air dari pompa air di beberapa akuarium berukuran besar. Akuarium-akuarium ini yang terletak di antara pendopo dan rumah tinggal Suryanto. 

 

Sejak awal didirikan, Suryanto membuat slogan untuk SFF Edu, yaitu ‘Edukasi Ikan untuk Kelestarian Lingkungan’. Hingga kini, SFF Edu fokus pada kegiatan edukasi dan konservasi.

 

Di sini, para pengunjung bisa belajar, mengenal, mengidentifikasi ikan lokal dan jenis ikan invasif, cara menangkap ikan yang baik dan benar, cara memelihara, pengetahuan reproduksi ikan, serta cara membudidayakan aneka macam jenis ikan lokal dan asing. SFF Edu juga memberi pengetahuan tentang cara melepasliarkan ikan yang benar agar tidak mengganggu habitat lain yang sudah ada di sungai. Apalagi jika ikan tersebut tergolong ikan predator.

 

Kegiatan identifikasi ikan lokal. (Sumber foto: Instagram @suryafishfarmeducation)


“Kita belajar tentang ikan untuk mengetahui tentang jenis jenis ikan terus begitu juga melestarikan ikan ikan yang lokal tentunya,” jelas Suryanto. 

 

Selama ini fokus SFF Edu lebih banyak untuk anak usia sekolah. Ia mengenalkan ikan sebagai cara mendidik untuk menumbuhkan karakter jiwa peduli lingkungan hidup di sekitarnya, cinta sesama makhluk hidup, hingga belajar mencintai kebersihan lingkungan. 

 

Keberadaan SFF Edu pun sebagai wahana edukasi bagi generasi muda. Suryanto menganggap cara ini sebagai jurus jitu untuk dilakukan karena memberi pengetahuan kepada para penerus pelestarian lingkungan yang kelak bertanggung jawab di masa depan. 

 

Di SFF Edu, masyarakat akan diajak mengidentifikasi jenis-jenis ikan lokal termasuk cara memeliharanya, domestikasi, hingga bagaimana cara membudidayakan ikan lokal. 

 

Materi di SFF Edu. (Sumber foto: Instagram @suryafishfarmeducation)


Bagi Suryanto sendiri, ikan lokal tak hanya memiliki nilai ekonomis dan sumber pangan. Akan tetapi, keberadaan ikan lokal dapat menjadi alat ukur kelestarian lingkungan hidup terutama kualitas air yang sehat.

 

Awalnya SFF Edu didirikan Suryanto dengan menunjukkan keberadaan ikan-ikan hias. Namun seiring menurunnya populasi ikan lokal yang ada sekitarnya, ia pun menambah koleksi di SFF Edu berupa ikan-ikan lokal.  

 

Ikan lokal yang dimaksud antara lain seperti ikan jenis wader-waderan yaitu wader pari, wader cangkul, wader abang, ikan sepat, ikan betok, ikan betik, serta ikan cupang lokal. Sedangkan ikan red devil atau ikan nila termasuk ikan asing yang asalnya tidak dari daerah tempat Suryanto tinggal.

 

Keberadaan jenis-jenis ikan lokal ini sangat ia perhatikan dan lestarikan. Hal ini dikarenakan maraknya pencarian ikan terutama yang dilakukan secara tidak ramah lingkungan. 

 

“Misalnya seperti racun atau setrum, alatnya yang berbahaya bagi lingkungan. Selain itu masuknya jenis-jenis ikan baru yang bukan habitatnya, yang berasal dari luar negeri atau dari luar daerah kita. Kebanyakan kalau sudah bosen dilepas ke sungai atau dilepasliarkan. Sepatutnya tidak boleh karena nanti bisa menginvansi atau menggeser keberadaan ikan yang asli atau ikan lokal di sekitar kita,” jelas Suryanto. 

 

Dengan belajar tentang ikan, menurut Suryanto, siapapun jadi bisa paham tentang ilmu ekologi yang memelajari hubungan atau interaksi sesama makhluk hidup dengan lingkungan dalam sebuah ekosistem. 

 

Masyarakat juga jadi bisa tahu bagaimana ikan berkembang biak, bagaimana ikan hidup di perairan, mengenal ekosistem perairan, jenis-jenis pohon sebagai pelestari mata air, serta arti pentingnya kebersihan lingkungan.

 

Berbagai Aksi Pelestarian Alam yang Menuai Apresiasi

 

Tak hanya mengedukasi untuk tidak lagi menangkap ikan dengan cara setrum, Suryanto juga memberikan solusi. Langkah ini membuat ia tidak mematikan mata pencaharian masyarakat yang menggantungkan diri dari kegiatan menangkap ikan dengan cara setrum. 

 

“Alhamdulillah sekarang itu sudah agak tergerak, ataupun sadar gitu tidak lagi menggunakan alat-alat yang berbahaya. Karena itu kan juga ada undang-undangnya yang mengatur seperti itu kan,” tutur Suryanto yang turut menginisiasi penyusunan peraturan tentang larangan perburuan liar. 

 

Ia bersyukur, masyarakat di sekitarnya sudah mulai mencoba membudidayakan jenis-jenis ikan yang asli seperti ikan wader. Tak hanya itu, masyarakat yang memiliki kebiasaan membuang sampah di sungai juga sudah diarahkan untuk mengolahnya di rumah tangga masing-masing. 

 

“Ya karena kita aktif sosialisasi mungkin mereka juga tergerak untuk melestarikan sungai,” imbuhnya.

 

Suryanto yang mampu menunjukkan cara baru mengkreasikan budidaya ikan-ikan lokal untuk dimanfaatkan lebih luas untuk kesejahteraan masyarakat inipun membuatnya mendapat apresiasi Kalpataru tahun 2021. Ia berhasil meraih juara 1 penerima Kalpataru Tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta untuk kategori Perintis Lingkungan.

 

Memang, sudah banyak hal yang dilakukan oleh Suryanto hingga menggerakan kebiasaan baik di masyarakat tentang pelestarian alam khususnya sungai. Misalnya, ia bisa mengajak bersih sungai secara berkala satu bulan sekali.

 

Selain itu, Suryanto juga pernah membuat buku muatan lokal berjudul ‘Jaga Kaliku’ untuk anak SD. Buku yang berisi tentang pengenalan jenis-jenis ikan lokal ini merupakan hasil kerja sama Dinas Kelautan dan Perikanan, bersama Dinas Pendidikan. 

 

Buku ‘Jaga Kaliku’ (Sumber foto: dkp.kulonprogokab.go.id)

 

Hal yang unik adalah program yang pernah dilakukan Departemen Agama Kabupaten Kulon Progo yang terinspirasi dari gerakan pelestarian ikan lokal yang dilakukan Suryanto. Program tersebut adalah, bagi siapapun yang menikah, pasangan pengantin wajib merilis ikan lokal. 

 

Berbagai kegiatan yang dilakukan pria yang tergabung dalam beberapa komunitas seperti Wild Water Indonesia dan Kelompok Masyarakat Pengawas Pelestari Alam dan Satwa Indonesia atau Pokmaswas Padas ini membuatnya meraih penghargaan dari Astra. Di tahun 2023 lalu, Suryanto berhasil menjadi penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards tingkat Provinsi Yogyakarta di bidang Lingkungan. 

 

Dengan penghargaan tersebut, ia merasa senang karena masyarakat luas bisa peduli terhadap lingkungan, terutama lingkungan sungai. “Yang awalnya tercemar kini bisa menikmati seperti dulu lagi,” ujarnya. 

 

Ia berharap masyarakat bisa menyukai ikan serta memiliki keinginan menjaga dan melestarikan lingkungan perairan yang sehat agar bermanfaat bagi semua makhluk hidup.

 

“Harapannya nggak muluk-muluk, berharap masyakarat Indonesia sadar untuk mengelola lingkungannya sendiri. Kalau nanti lingkungan di sekitar rumah sudah bagus, tidak ada sampah, tidak ada pencemaran, itu akan terlihat. Seluruh wilayah akan bersih. Kita mulai dari lingkungan kita sendiri saja,” pungkasnya.