HUJAN DERAS membuat udara di Bukit Matahari terasa semakin dingin dan menggigit. Angin yang bertiup membuat pohon meliuk-liuk dan membuat suara gemerisik. Untung saja tenda terpasang dengan baik dan kokoh. Suasana malam yang basah membuat rasa lelah menjadi kantuk yang pasrah.

Jaket tebal, kaus kaki, dan selimut membuat tidur malam tahun baru 2023 begitu nyaman. Rentetan suara kembang api dan terompet di kejauhan seperti alunan nina bobo yang mengantarkan tidur. Tak peduli pesta, tak peduli perayaan. Kami hanya menikmati keheningan dan ketenangan di puncak gunung di sela-sela derai hujan.

Berkemah bareng krucil, rencana lama yang akhirnya terlaksana

“Sudak tak (aku) booking. Tak tunggu ya!” pesan WhatsApp dari Devine, seorang dokter hewan sekaligus sahabatku yang tinggal di Surabaya langsung to the point, bahkan sedikit memaksa. Ini adalah tawaran kedua darinya. 

Pada pertengahan tahun kemarin, keluarganya mengajak kami berkemah di Pacet, Mojokerto. Namun berhubung aku dan Mas Bojo lagi banyak tugas dan deadline yang berkejaran, tawaran itu dengan berat hati kami tolak.

Tapi, untuk tawaran kali ini tak sanggup kutolak lagi karena si krucil belum pernah merasakan kemah sama sekali. Miris banget ya? Heuheuheu. Beda sama emaknya yang sudah naik turun gunung dan berkemah. Apalagi momen ini adalah hari-hari terakhir liburan mereka menjelang aktif sekolah lagi. Tentu saja aku tidak tega untuk menundanya kembali. Jadi, meski deadline tetap mengintai, aku dan krucil mempersiapkan segala “perabotan” yang harus dibawa untuk berkemah. 

Akhirnya tanggal 30 Desember 2022, kami berangkat pada pukul 05.17 menggunakan moda kereta api lokal dari Stasiun Lamongan menuju Stasiun Pasar Turi menuju titik kumpul di dekat kampus UINSA, Surabaya. Kebiasaan memesan tiket kereta melalui KAI Acsess lumayan mempermudah aktivitas liburan kami. Jadi insya Allah gak kehabisan tiket krrn sdh pesan beberapa hari sebelumnya. 

Perjalanan menuju Surabaya menggunakan kereta tentu adalah bagian yang paling krucil tunggu-tunggu. Ndilalah, mereka bertemu dengan teman satu dojang (tempat latihan) Taekwondo saat menunggu kedatangan kereta di Stasiun Lamongan. Tentu mereka terus asyik bercengkerama dan menambah keseruan perjalanan tersebut. Ternyata, teman Xi itu juga akan berwisata ke salah satu tujuan wisata di Surabaya, yaitu Kebun Binatang Surabaya (KBS). 

Duo Xi ketemu sahabat sesama Dojang Taekwondo.

Sesampainya di Pasarturi (Surabaya), aku dan para krucilku sarapan di warung dekat stasiun. Kami memang belum sempat sarapan sebelum berangkat tadi. Maklum, habis shalat subuh kami langsung meluncur ke stasiun. Perjalanan selanjutnya, seperti biasa kami berjalan kaki sampai halte Pirngadi dan menunggu Suroboyo Bus favorit kami yang tiketnya bisa didapat dengan menukarkan botol atau gelas bekas. 

Meski masih pagi, panas sudah mulai menyengat. Suroboyo Bus yang kami tunggu tak lama datang. Tujuan kami tak lain adalah halte UINSA tempat sahabatku, Devine dan keluarganya tinggal.

Selalu ceria naik Suroboyo Bus yang jadi moda favorit di Surabaya

Camping bersama tujuh keluarga

Aku baru menyadari bahwa Devine justru tidak ikut serta berangkat bersama kami ketika suaminya mengatakan Devine masih “ngantor” hari ini, haddeuuuhh.  Sekitar pukul 14.00, kami meluncur menuju Wonosalam, Jombang. 

Saat melihat iringan atau konvoi mobil yang dimulai sejak transit di Rest Area 726, aku mulai merasa santai karena ternyata banyak juga peserta kegiatan berkemah ini, bahkan ada pula yang membawa balita. 

Perjalanan terasa singkat karena pemandangan cukup memanjakan mata yang selama ini sudah lelah menatap smartphone atau laptop terus-menerus. Sekitar pukul 17.00, kami sampai di lokasi perkemahan.

Suasana pegunungan yang dingin, hening, dan basah membuat aktivitas kami selama berkemah selama tiga hari dua malam berjalan santai dan relatif seru,  baik untuk peserta yg dewasa maupun untuk anak-anak. Kami mengopi, memasak bersama hingga mengobrol ngalor ngidul. Anak-anak juga makan bersama, shalat berjamaah, bermain bersama-sama, renang, dan membakar jagung + sosis di malam tahun baru. Meski hujan sering kali turun dan membuat kami harus segera berteduh di tenda, tetapi rasa kebersamaan dan keseruan acara di sana membuat anak-anak menikmati momen-momen tersebut.

Kebersamaan camping di Wonosalam Jombang

Rasa sungkan karena aku dan anak-anak menjadi tamu di antara para peserta lain yang sudah sering mengadakan kemah bareng sedikit berkurang karena sikap ramah dan kebersamaan mereka. Sesekali aku membuka file untuk melanjutkan pekerjaan yang masih menunggu. 

Aku memang tidak sepenuhnya menikmati kegiatan tersebut karena masih banyak tulisan yang harus diselesaikan. Adapun Devine datang pagi hari pada keesokan hari bersama satu keluarga dan bergabung bersama kami. Suasana pun semakin ramai dan meriah karena peserta lengkap sudah. 

Kesibukan bebersih, semangat menyambut hari

Banyak hal yang bisa menjadi pembelajaran dalam kegiatan tersebut, terutama bagi anak-anak. Liburan yang tadinya terpikir akan berlalu begitu saja ternyata memberikan pengalaman yang luar biasa. 

Bagi duo Xi, pengalaman pertama ini mungkin akan menjadi patokan awal untuk menggambarkan bahwa perkemahan adalah sebuah kegiatan yang cukup mengasyikkan dan mereka tidak akan “kapok” untuk mengikuti kegiatan perkemahan berikutnya. 

Asyik berenang walau kedinginan

Aku tidak melarang mereka untuk melakukan hal-hal yang selama ini mereka hindari, seperti bermain lumpur, berenang, atau memanjat bukit di sekitar tempat berkemah. Alhamdulillah, mereka tidak mengalami gangguan kesehatan setelah melakukan aktivitas tersebut. Mungkin hal itu karena udara yang bersih dan segar di gunung serta rasa happy yang mereka rasakan sehingga kekebalan tubuh mereka tumbuh dengan baik. 

Bukit Matahari dan belajar mencintai alam

Ketika mendengar nama Bukit Matahari di Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, hal pertama yang terlintas dalam pikiranku adalah sebuah tempat yang berupa hutan di atas gunung yang “mungkin” tidak banyak sentuhan tangan manusia. 

Akan tetapi, gambaran tersebut ternyata sangat berbeda dengan kenyataan yang aku temui. Bukit Matahari merupakan sebuah tempat yang memang sudah dipersiapkan untuk menjadi lokasi wisata dan berkemah serta telah memiliki fasilitas seperti lahan perkemahan, pendopo, toilet, mushala, kolam renang hingga kedai.

Anak menulis saat senggang berkemah.

Salah satu yang menarik perhatianku ketika menikmati suasana siang maupun malam hari di Bukit Matahari adalah banyaknya pengunjung atau wisatawan, bahkan dari luar peserta perkemahan yang mencari jalan atau jalur menuju sungai dan air terjun. Tempat tersebut merupakan satu dari sekian hal yang luput untuk kami jelajahi akibat curah hujan yang tinggi. Para penjaga wilayah mengatakan bahwa lokasi tersebut sangat berbahaya untuk dijelajahi karena medan menjadi licin dan rawan akibat hujan.

Hal lain yang menarik perhatian adalah banyaknya pengunjung kedai yang ternyata merupakan para anggota pecinta alam dan mereka yang tergabung dalam jaringan komunitas yang melakukan upaya atau kegiatan konservasi alam. 

Salah satu warga yang menjadi pelayan di kedai menjelaskan bahwa mereka menanam bibit-bibit pohon yang akan digunakan untuk menanami hutan, bukan hanya di wilayah Wonosalam atau Jombang dan sekitarnya, tetapi juga hingga ke luar daerah seperti Malang dan Sidoarjo. Siapa pun yang memiliki niat atau tujuan untuk melakukan konservasi alam dan mengajukan kerja sama akan mereka bantu dengan penyediaan bibit tersebut.

Aku mendengarkan paparannya sambil ngopi di kedai saat mendampingi krucil berenang dan penjelasan itu menerbitkan kekaguman pada mereka. Banyak pengunjung, baik kalangan pemuda atau pun mereka yang berkeluarga mendengarkannya dengan penuh antusias. Idealisme yang dimiliki oleh pengelola bumi perkemahan ini memang layak untuk diapresiasi.

Mereka yang mengadakan kegiatan berkemah di tempat ini diajak untuk ikut serta dalam upaya menjaga kelestarian alam dengan melakukan aktivitas konservasi dan bahkan sesederhana menjaga lingkungan dengan tidak merusak pepohonan atau tidak membuang sampah sembarangan. Terbayang dong jika tempat tertinggi di Bukit Matahari tersebut penuh sampah, tentu akan merusak lingkungan dan bisa menimbulkan bencana.

Hati-hati kecanduan camping!

Banyak hal-hal menyenangkan dan dan bersifat edukatif dari kegiatan berkemah yang kami lakukan, terutama bagi krucil. Mereka belajar untuk menikmati suasana alam yang bebas, mencintai lingkungan, bekerja sama, saling berbagi, saling menjaga satu sama lain, bermain bersama, juga mengenal teman-teman baru di luar lingkungan rumah dan sekolahnya. 

Tentu saja banyak hal yang memang serba terbatas ketika hidup di tengah-tengah alam, tetapi hal itu mengajarkan kita untuk bersikap empati kepada masyarakat di tempat-tempat terpencil yang akses terhadap berbagai hal tidak mudah seperti pada masyarakat perkotaan. Kita tidak mudah mendapatkan makanan yang kekinian, mendapatkan aliran listrik, termasuk menggunakan smartphone karena ada yang sulit mendapatkan sinyal internet. Bumi sempat menyeletuk, “Kurir G**bfood gak bisa antar sampai ke atas sini ya, Bunda?” Ada-ada saja celoteh krucil ini. 

Bahagia mejeng di alam terbuka

Meski demikian, kearifan lokal juga banyak terungkap. Masyarakat di sekitar bumi perkemahan tersebut melakukan gotong royong dan saling tolong-menolong, yang terasa tulus, ketika kami mengalami kesulitan. Salah satu contohnya ketika kendaraan-kendaraan kami terperosok ke dalam parit menuju ke puncak bukit. Mereka segera memberi bantuan seperti mendorong kendaraan tersebut, mengambilkan alat-alat untuk mengungkit ban, membawakan barang-barang atau perlengkapan (khususnya keperluan anak-anak) dengan motor yang harus dilakukan bolak-balik. Seru dan membuat haru.

Tak heran jika duo Xi mengungkapkan bahwa mereka akan bersedia jika diajak berkemah lagi. Hal-hal yang dirasakan “susah” atau membuat repot tidak menjadikan mereka jera. Mereka sudah mulai merencanakan tempat atau tujuan mereka berkemah berikutnya, yaitu berkemah di tepi pantai. Wah, sepertinya menarik juga ya?

Yups, camping atau berkemah itu asyik banget. Bagi mereka yang gak suka repot, kini malah ada jenis berkemah yang disebut glamping alias glamour camping. Duo Xi bilang sih itu disebut “pindah tempat tidur aja sih”. Whatever lah, yang penting bikin rileks. 

Ngemil enggak berhenti

Intinya, dengan camping ini kita bisa menikmati keindahan dan suasana alam bebas dan menghirup udara segar serta me-refresh tubuh dan jiwa kita. Dengan demikian, kita siap untuk memulai aktivitas kembali dengan semangat yang baru dan tentu saja bisa menyiapkan bekal untuk rencana camping berikutnya, hahaha.

Wonosalam, Jombang
30 Desember 2022 - 01 Januari 2023

BISAKAH GENERASI MILENILAL punya rumah? Pertanyaan ini sering diungkapkan ketika generasi milenial, yaitu generasi yang lahir sekitar tahun 1981-1996 atau kini berusia antara 24-39 tahun terlihat begitu selow atau santai menyikapi hal semacam ini. Padahal, sudah menjadi hal yang umum bahwa salah satu impian sebagian besar orang adalah mampu mencukupi diri dalam tiga hal primer (utama), yakni sandang (pakaian), pangan (makanan), dan papan (rumah). Dua kebutuhan pertama tentu sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Akan tetapi, bagaimana dengan pemenuhan kebutuhan akan papan atau perumahan, terutama bagi kaum milenial saat ini? 

Kebutuhan akan rumah adalah primer bagi manusia. (Foto: dok. pri)

Kabar yang lumayan mengejutkan adalah berdasarkan data Kementerian PUPR tahun 2019, sebanyak 81 juta generasi milenial di Indonesia belum memiliki hunian sendiri. Padahal saat ini mereka merupakan populasi yang paling mendominasi penduduk di Indonesia. 

Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW), Ali Tranghanda menuturkan bahwa generasi milenial perlu diberikan edukasi mengenai investasi properti. Masih banyak kaum milenial yang belum mengetahui proses KPR karena dianggap sulit.


Beberapa Faktor Penyebab Gen Y (Generasi MIlenial) Sulit Memiliki Rumah

 1.    Besar Penghasilan, tetapi tidak punya tabungan yang cukup

Generasi milenial dikenal sebagai generasi yang sebagian besar berprinsip menikmati hidup. Oleh karena itu, mereka rela untuk mengeluarkan uangnya untuk hal-hal yang memiliki tujuan untuk menikmati hasil jerih payah mereka. Mereka pun tidak sayang mengeluarkan uang untuk hal-hal yang sebenarnya positif seperti memberi bantuan/sumbangan kepada kaum duafa atau korban bencana. 

Tujuan dalam hidup dan nilai yang mereka anut memang unik, tetapi manajemen keuangan yang belum rapi membuat mereka kadang kesulitan untuk menyisihkan uang atau berinvestasi.

 2.    Punya lifestyle yang konsumtif

Rasanya sulit untuk menafikan bahwa kaum milenial memiliki gaya hidup yang konsumtif. Cara mereka mengisi waktu luang atau bersosialisasi cenderung mengikuti tren dan mudah untuk dipengaruhi satu sama lain. Gaya hidup konsumtif, baik dari segi fashion atau kuliner misalnya, tentu saja mengambil sebagian besar dari dana yang mereka miliki.

 3.    Merasa belum perlu memiliki rumah karena belum menikah

Generasi milenial merupakan generasi yang sebagian besar berfokus pada karir atau pekerjaan yang mereka geluti. Hal tersebut menyita perhatian mereka sehingga banyak yang menunda untuk menikah. Bagi mereka menikah merupakan sebuah kondisi yang membatasi aktivitas, apalagi jika telah memiliki anak. 

Tak mengherankan jika belakangan ini menunda menikah dan child free banyak diadopsi oleh generasi langgas ini. Kebebasan masa lajang juga membuat mereka tidak membutuhkan tempat tinggal secara permanen karena mobilitas mereka yang cukup tinggi.

Pasutri akan lebih tenang jika punya rumah sendiri (Foto: banksinarmas.com)

4.    Tinggal bersama orangtua dan masih ingin merawat mereka

Generasi milenial yang disebut juga generation me atau echo boomers sering kali masih memilih untuk tinggal bersama orangtuanya. Mereka memiliki pertimbangan bahwa dengan tinggal bersama orangtua, maka mereka masih bisa menghemat pengeluaran terkait dengan tempat tinggal sekaligus bisa mendampingi/merawat orangtua mereka.

5.    Mementingkan gawai/gadget dan plesiran ketimbang beli properti

Sebagai generasi yang sangat fasih terhadap perkembaangan teknologi dan informasi, generasi milenial memilih untuk memiliki gawai atau gadget yang bisa mereka andalkan ketimbang hal-hal lain. Demikian pula dengan perkembangan informasi yang sangat cepat dan terlibatnya mereka dalam berbagai platform media sosial, maka pilihan mereka untuk menikmati waktu luang dengan berlibur atau berwisata sangat masif.

Hindari mengejar prestise dan mengorbankan yang primer. (Gambar: freepik)

6.    Pendapatan tidak sebanding dengan kenaikan harga rumah

Berbeda dengan generasi baby boomers yang menjadikan investasi properti sebagai favorit, hal ini disinyalir turut membuat harga properti menjadi luar biasa tinggi, generasi milenial agak kesulitan untuk mendapatkan perumahan karena pendapatan mereka tidak mampu mendukung kepemilikan properti rumah.

7.    Belum menemukan lokasi yang pas

Bagi kaum milenial yang bekerja di perkotaan, tetapi tinggal di daerah pinggiran, lokasi untuk mencari rumah bukanlah hal yang mudah. selain sudah demikian terbatasnya lahan, harga yang tinggi membuat mereka berpikir ulang untuk membeli perumahan di dekat tempat mereka mencari nafkah.

 8.    Harga properti yang terlalu mahal

Menurut data dari CEIC, harga rumah di Indonesia naik sebesar 1,8%, lebih besar dari tahun sebelumnya (Desember 2021) yang menunjukkan kenakan sebesar 1,5%. Kenaikan ini menyebabkan kaum milenial semakin sulit membeli rumah, terutama di perkotaan karena harganya yg sulit untuk dijangkau. 


9.    Bergesernya minat bidang pekerjaan

Minat pekerjaan yang banyak beralih ke industri kreatif, freelancer, atau memiliki usaha sendiri sehingga tidak memiliki slip gaji dan penghasilan tetap. Hal terakhir inilah yang membuat generasi milenial sulit memenuhi persyaratan dalam membeli rumah dengan fasilitas Kredit Kepemilikian Rumah (KPR). 


Tren piknik hanya demi konten pamer perlu dihindari. (Gambar: freepik)

Manajemen Keuangan dan Investasi Bagi Kaum Milenial

Pada awal tahun 2001, saya memulai pekerjaan di sebuah penerbit buku di kawasan Bogor, Jawa Barat. Perjalanan menuju tempat bekerja, saya lakukan setiap hari dengan menggunakan angkot (angkutan kota) dan kereta api. Perjalanan yang memakan waktu rata-rata dua hingga empat jam menghadirkan kelelahan yang luar biasa dalam diri saya. 

Apalagi di tahun 2004 saya sempat melanjutkan studi Strata 2 di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Kegiatan yang saya lakoni ini juga ditempuh dengan menumpang kendaraan umum (bus). 

Perubahan inovatif KRL (Foto: Trie Haryanto/brilio)

Kondisi perjalanan yang sering mengalami kemacetan dan kereta api yang belum senyaman sekarang (saat itu PT KAI berada pada masa transisi di bawah kepemimpinan Bapak Jonan) berefek pada kondisi fisik saya yang sering drop dan menderita penyakit yang justru membutuhkan terapi serta pengobatan cukup lama. 

Pada akhirnya saya menyerah untuk melanjutkan pendidikan tersebut dan berdamai dengan kondisi. Saya kemudian lebih fokus bekerja karena menjadi tulang punggung bagi keluarga setelah Bapak meninggal dunia dan harus merawat ibu yang mengalami stroke. 

Perjalanan panjang untuk pergi dan pulang kantor tersebut pada akhirnya membuat saya berpikir untuk mendapatkan tempat singgah untuk sekadar beristirahat atau menginap di sekitar kantor tempat saya bekerja jika saya harus lembur, ada kegiatan kantor, atau didera kelelahan luar biasa. 

Secara kebetulan, saya yang saat itu menduduki posisi sebagai editor sekaligus menjadi pemimpin redaksi majalah internal perusahaan serta pengurus di Serikat Pekerja, mendapatkan informasi seputar upaya kepemilikan rumah bagi para karyawan. Tentu saja hal ini memberikan peluang bagi saya dan rekan-rekan sesama karyawan yang lain untuk memiliki rumah. 

Berhubung serikat karyawan dan perusahaan membantu dalam proses ini, maka tentu saja prosesnya pun terasa semakin mudah. Setelah briefing yang dilakukan oleh pihak developer dan bank pemberi kredit mengenai tata cara atau prosedur serta persyaratan yang harus kami penuhi, kami mulai mengajukan proposal dan menjalani cicilan KPR perumahan bersubsidi dengan masa kredit selama 15 tahun, dimulai tahun 2007 hingga tahun 2022. 

Beberapa syarat yang harus kami penuhi untuk mendapatkan KPR subsidi dari pemerintah saat itu (sebenarnya tidak terlalu banyak berubah pada saat ini) antara lain:

  • WNI minimal usia 21 tahun atau sudah menikah, maksimal 65 tahun pada saat jatuh tempo kredit.
  • Maksimal penghasilan: 
  • Tidak kawin Rp6.000.000
  • Kawin Rp8.000.000
  • Khusus Papua dan Papua Barat:
  • Tidak kawin Rp7.000.000
  • Kawin Rp10.000.000
  • Pemohon dan pasangan tidak memiliki rumah
  • Belum pernah menerima subsidi perumahan dari pemerintah
  • Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT), dan Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi.
  • NIK terdaftar di Dukcapil

Saya yang ketika memulai KPR tersebut masih lajang merasa sangat bersyukur karena pada akhirnya impian memiliki rumah bisa tercapai. Selain memberikan tempat yang relatif nyaman sebagai tempat tinggal, saya pun sering mengajak ibu untuk berlibur di rumah saya, kebetulan lokasinya sangat sejuk dan cocok sebagai tempat liburan. 

Memang lokasinya relatif jauh dari perkotaan, tetapi hal tersebut justru sangat saya syukuri karena suasananya tenang dan jauh dari kebisingan. Betapa bahagia menyaksikan ibu saya bangga dengan pencapaian tersebut serta merasa betah dan menikmati tinggal bersama saya di rumah yang kami sebut vila itu. Di rumah ini pula saya kemudian menjalani hidup berumah tangga serta memiliki buah hati.

Anak-anak belajar di rumah mungil kami. (Foto: dok. pri)

Bisakah Generasi Milenial Memiliki Rumah? How to Buy Their Own House?

Sebagai komposisi terbesar dalam masyarakat, generasi milenial yang sebagian besar sulit memiliki rumah tentu menjadi perhatian khusus, terutama dari pemerintah. Beberapa program telah dibuat oleh pemerintah dan terdapat APBN yang menganggarkan alokasi khusus untuk KPR demi membantu masyarakat dalam upaya memiliki rumah. Program tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.

 1.      Program Satu Juta Rumah

Kementerian PUPR menyediakan bantuan rumah layak huni serta prasarana, sarana, dan utilitas umum bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Hingga 31 Desember 2021, tercatat capaian rumah sebanyak 1.105.707 unit (826.500 unit MBR dan 279.207 unit non-MBR).


Program satu juta rumah untuk kebaikan bersama (Foto: kemenpupr)


2.     Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP)

Skema pembiayaan KPR yang diberikan pemerintah kepada MBR bekerja sama dengan perbankan di tanah air. Subsidi yang diberikan pemerintah melalui FLPP dialokasikan sebesar Rp19,1 triliun pada tahun 2022.

 

3.     Program Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM)

Skema subsidi pemerintah yang diberikan kepada masyarakat berpenghasilan rendah dalam rangka pemenuhan sebagian/seluruh uang muka perolehan rumah.

 

4.     Program Kredit Kepemilikan Rumah Subsidi Selisih Bunga (KPR SSB)

Kredit kepemilikan rumah yang diterbitkan oleh bank pelaksana secara konvensional. Program ini membuat masyarakat bisa mendapatkan pengurangan suku bunga melalui Subsisdi Bunga Kredit Perumahan. Perbankan yang melaksanakan program ini biasanya ditunjuk oleh pemerintah.

 

5.     Program Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT)

Bantuan pemerintah yang diberikan kepada MBR  yang telah memiliki tabungan dalam rangka pemenuhan sebagian uang muka untuk perolehan perumahan. Laman resmi Kementerian PUPR menerangkan bahwa BP2BT hanya diberikan satu kali untuk pembayaran uang muka atas pembelian rumah MBR. 

Setelah mengetahui program-program tersebut, tentu impian untuk memiliki rumah bagi kaum milenial bukan lagi hal yang mustahil. Dengan pengelolaan keuangan atau manajemen finansial yang baik dan memiliki informasi terkait upaya pengajuan kredit kepemilikan rumah (KPR), tentu rumah yang diidam-idamkan sedikit demi sedikit bisa dicapai. 

Berdasarkan paparan mengenai program yang dibuat pemerintah di atas serta belajar dari pengalaman saya yang sudah ceritakan sebelumnya, tentu saja generasi milenial juga bisa memiliki rumah yang mereka inginkan. Apalagi saat ini sudah ada PT Sarana Multigriya Finansial (Persero), sebuah perusahaan BUMN yang bisa membantu upaya tersebut. 

Apa sih PT SMF dan @inveseries itu? Untuk memudahkan pemahaman, hubungan antara PT SMF dengan @inveseries itu sendiri berawal ketika Kementerian Keuangan RI melahirkan sebuah BUMN bernama SMF. Perseroan ini memiliki misi spesial (special mission vehicle) menyediakan perumahan yang layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah atau MBR. 

PT SMF juga memiliki produk, yaitu EBA yang fungsinya membantu perbankan penyedia KPR agar  terhindar dari risiko kehabisan dana (maturity missmatch) dan diritelkan menjadi EBA Ritel. 

Selanjutnya, IG @inveseries dilahirkan dengan tujuan untuk mengedukasi tentang EBA Ritel dan literasi finansial atau investasi. PT SMF juga menggandeng @bion'sofficial milik @bnisecuritas46 sebagai kolega untuk tempat transaksi Eba Ritel tersebut.

PT SMF ini fokus dalam membangun dan mengembangkan pasar pembiayaan sekunder perumahan dengan memfasilitasi penyaluran dana dari pasar modal ke sektor perumahan dalam rangka mendorong pemilikan rumah yang terjangkau untuk setiap keluarga Indonesia. 

Perwujudkan komitmen dari PT SMF dijalankan melalui kegiatan sekuritisasi, penerbitan surat utang serta penyaluran pinjaman kepada bank penyalur KPR sehingga dapat meningkatkan volume penerbitan KPR, terutama untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Untuk mengetahui lebih lanjut, langsung saja mengunjungi PT SMF dengan mengklik link di atas.

Tips buat Kaum Milenial Agar Dapat Membeli Rumah

Disarikan dari m.bisnis.com, ada beberapa tips yang perlu dicoba oleh kaum milenial yang ingin mengatur strategi untuk membeli rumah. Tips tersebut membutuhkan upaya dan kesungguhan sehingga rumah yang menjadi impian dapat diperoleh.


 1.  Mengecek Kemampuan Finansial


Pemeriksaan kondisi finansial sangat krusial. (Foto: pexels/Karolina Grabowska)

Kaum milenial perlu menyusun neraca keuangan yang meliputi pemasukan dan pengeluaran serta menentukan skala prioritas di antara berbagai kebutuhan dengan mengukur kemampuan diri sehingga kebutuhan-kebutuhan yang paling penting tidak terabaikan.


2.  Membuat Anggaran

Kaum milenial jangan ragu untuk melakukan riset dan mempelajari cara-cara pembayaran rumah yang memungkinkan untuk dilakukan selain dengan metode pembayaran secara tunai, misalnya KPR, kredit developer, atau metode lain. Anggaran yang pasti, target waktu yang definitif, dan angka yang jelas juga perlu dibuat agar rencana keuangan tersebut lebih realistis dan dapat mengumpulkan uang. 

3.  Menentukan Prioritas

Kaum milenial perlu membuat prioritas agar bisa fokus pada satu hal. Misalnya, ketika berencana mengambil KPR, maka fokus utamanya adalah memenuhi DP lebih dahulu dengan memperhitungkan kemampuan finansial masing-masing. 

4.  Menanamkan Investasi

Investasi merupakan hal yang penting dan perlu dipertimbangkan dalam kehidupn saat ini. Investasi bisa membantu mengembangkan aset untuk menghadapi inflasi. Untuk DP rumah misalnya, kita bisa menyisihkan 30% gaji ke instrumen investasi yang sesuai. Kaum milenial bisa mempelajari hal-hal terkait investasi yang perlu diketahui tersebut melalui IG @inveseries dan @ptsmfpersero

Seiring waktu, dengan konsistensi maka anggaran untuk DP rumah akan bisa terpenuhi sedikit demi sedikit. Yang penting, bijaklah memilih investasi yang produktif, jangan tergiur investasi menggiurkan padahal bodong dan akhirnya merugikan.

 

5.  Menjalankan Strategi dengan Disiplin

Hal inilah yang mungkin sering kali sulit untuk dilakukan oleh siapa pun, disiplin! Penerapan rencana keuangan yang detail dan komprehensif secara disiplin sangatlah penting. Contohnya, menjaga besaran cicilan di bawah 30% dari gaji rutin menjadi sangat krusial ketika kita mengambil skema KPR. Besaran 30% ini merupakan angka aman karena hal ini sudah termasuk semua cicilan utang yang kita miliki

Kita harus fokus dan konsisten dalam rencana ini lebih dulu. Jika kita menambahan utang lain, maka hal itu hanya akan membuat beban kita semakin berat. Lebih banyak uang yang disisihkan untuk menabung atau investasi akan membuat rencana tersebut semakin lancar. Komitmen disiplin jangka panjang inilah yang sangat diperlukan agar kepemilikan rumah bisa tercapai. 

Perumahan FLPP hadir sebagai solusi punya rumah yang mudah. (Foto: ppdpp.iid)

Nah, dengan melakukan tips dan trik sebagaimana di atas, maka bisakah generasi milenial memiliki rumah? Jawabannya tentu saja bisa. Tak ada salahnya untuk sesekali menikmati gawai baru, liburan ke tempat-tempat yang seru, mengikuti gaya fashion yang keren, atau hang out bersama teman untuk sekadar refreshing

Namun, tentu kebutuhan akan tempat tinggal dan berinvestasi dimasukkan pula dalam prioritas utama agar bisa mempersiapkan masa depan yang aman dan lebih cuan. Masih bingung mau ambil investasi seperti apa? Langsung saja kepoin https://www.smf-indonesia.co.id/ untuk mendapatkan inspirasi yang sesuai kebutuhan.