Ketika almarhum bapak masih ada, beliau adalah orang yang paling banyak bercerita tentang silsilah keluarganya di antara anggota keluarga yang lain. Ingatannya yang tajam mengenai silsilah itu sempat membuatku takjub karena bapak mampu bercerita tentang kehidupan aki, nini, uyut, dan satu per satu anggota dari keluarga besarnya dengan sangat menarik. Saya yakin bapak memiliki keahlian sebagai story teller yang sebenarnya menjadi idaman bagi para cucunya, seandainya beliau masih ada hingga sekarang .... 

Akan tetapi, ada satu hal yang saya sesali belakangan hari. Jika keluarga besarnya yang sebagian besar berasal dari Majalengka dan Bandung sudah sempat saya dengar ceritanya, bahkan sering bertemu dengan mereka, lain hal dengan keluarganya yang berasal dari Bali. Saya hanya mengetahui sedikit sekali riwayat yang dimiliki oleh keluarga bapak di Bali. 

Saya hanya pernah mengetahui bahwa kakek buyut saya alias kakek dari bapak yang bernama Durahim konon merupakan orang asli Bali. Jadi, tidak hanya campuran Yogyakarta dan Majalengka dalam diri saya, tapi masih ada campuran darah Bali. Bukan sesuatu yang luar biasa sih, tapi cukup membuat saya agak gelisah karena saya tidak cukup banyak mengenal keluarga dari Pulau Dewata ini. 

Bali yang dijuluki Pulau Dewata adalah idaman banyak pelancong. (Foto: Alexandr Podvalny/Pexels) 



Dari kenyataan seperti ini, saya mengalami hal-hal yang mungkin dianggap konyol dan saya pun harus mengakuinya, hahaha. Apa saja sih hal konyol yang cenderung ironis itu? Inilah cerita saya yang tentu saja tak semahir kemampuan story telling bapak. 

Belum Pernah ke Bali

Apa??? Belum pernah ke Bali? Sudah keliling Jawa, Sumatra, bahkan sempat ke luar negeri tapi gak pernah ke Bali? Are you serious? Begitulah respon suami ketika saya memberitahunya tentang hal ini. Nyebelin sih, tapi saya harus mengiyakan karena memang itulah faktanya. 

Keindahan alam, kekayaan tradisi dan budaya, keunikan masyarakat, dan kelezatan kuliner Bali belum sekali pun saya alami dan nikmati. Menyedihkan gak sih? Orang-orang dari negeri seberang sudah begitu banyak yang datang ke Pulau Dewata ini dan kebanyakan langsung jatuh cinta, sedangkan satu kali saja saya tak pernah. 

Semakin lama memang rasa penasaran untuk menyambangi negeri yang sebenarnya kini berjarak tak terlalu jauh dari tempat tinggal semakin besar. Tapi dengan kondisi pandemi dan begitu banyak kebutuhan ketimbang menjelajahi pulau indah itu, rasanya saya masih harus menyimpan mimpi itu entah sampai kapan. 

Tak Pernah Mencatat Silsilah

Saya membayangkan upaya mencari nenek moyang saya di Bali adalah hal yang mungkin mustahil. Tak ada daftar silsilah yang tertulis dan menjadi pijakan dalam menelusuri jejak mereka. Selain itu, tak ada keluarga dari almarhum bapak yang masih bisa ditanya karena sebagian besar sudah meninggal dunia. 

Saya menyadari di sinilah letak sebagian besar kekurangan kami karena tak pernah mencatat daftar silsilah keluarga dan yang terutama adalah menggali lebih banyak kehidupan mereka. Dengan demikian, putusnya silaturahim diawali dengan minimnya pengetahuan satu sama lain mengenai ikatan kekeluargaan ini. 

Hal inilah yang saya coba perbaiki agar kelak anak-anak dan cucu memiliki ikatan yang lebih kuat dengan akar keluarga besarnya agar tidak mengalami hal-hal seperti saya. 

Wajah yang Unik

Sebagian orang mengatakan ada tipikal wajah saya yang mirip mama saya sebagai orang Yogyakarta tulen. Ada juga yang mengatakan saya lebih mirip ke bapak yang asli Sunda. Biasanya anak perempuan memang lebih cenderung menitis dari bapak, begitu alasannya. Tapi ada juga yang bilang wajah saya gak mirip mama atau bapak, tapi campuran dan lebih mirip orang Aceh atau Bali. Nah! 

Saya tentu saja menganggap hal ini lucu, dan untuk alasan tertentu, cukup menyenangkan karena saya merasa unik. Ada teman kuliah dulu yang menjuluki saya sebagai gadis seribu wajah karena menurutnya tampilan wajah saya memang selalu berbeda, terutama ketika difoto. Entahlah. Hal inilah salah satu yang membuat saya penasaran, apakah ada tipikal wajah Bali di diri saya, hahaha

Membaca dan Menikmati Kenangan


Kegemaran saya pada seni dan tradisi budaya dari seluruh dunia, termasuk Nusantara sering membuat beberapa orang di sekitar saya merasa heran. Saya cukup menikmati dan merasakan sensasi yang indah dan mengagumkan dari hal-hal tersebut. Bagaimana makna dan sejarah yang terkait dengan seni dan tradisi serta budaya itu sering kali membuat saya berusaha untuk mengetahuinya lewat berbagai sumber, terutama buku. 

Dari buku pula saya mencoba mencari tahu kehidupan yang pernah dialami masyarakat di daerah Bali. Jika nereka (kaum Muslim dan kaum Hindu Bali) bisa berdampingan dengan harmonis, maka itu membuat suatu keyakinan tersendiri dalam diri saya bahwa akar keluarga saya pun merupakan para leluhur yang menjunjung tinggi perdamaian dan saling menghormati. 

Hal tersebut melahirkan kebanggaan tersendiri dalam diri saya dan setidaknya ini menjadi nilai-nilai positif yang harus diturunkan pada anak cucu saya. Merekalah yang akan membawa akar positif ini untuk ditumbuhkan menjadi pohon-pohon yang menaungi keindahan bhinneka tunggal ika di masa depan. Kenangan atas adanya ikatan nasab itu tentu harus bisa menjadi aliran hal-hal positif yang filosofinya tertanam dalam diri dan buahnya menjadi rahmat bagi seluruh alam. 

Kalau Sudah Tiada Baru Terasa .... 


Ikatan keluarga memang tidak akan pernah terputus sampai kapan pun meski kita mungkin hanya akan bisa mengetahuinya jika ada paparan seperti yang ditulis Jhon Man pada buku Jengis Khan; Legenda Sang Penakluk dari Mongolia. Hanya saja hal terpenting yang mungkin perlu kita renungkan adalah sejauh mana titisan silsilah keluarga kita memberikan manfaat bagi manusia. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya? 

Nah, mungkin kini sudah saatnya saya belajar untuk menyusun kembali silsilah keluarga besar agar silaturahim tidak sampai terputus dan tentu juga untuk merawat nilai-nilai kebaikan dari para leluhur dan nenek moyang untuk ditularkan dan dilanjutkan oleh anak cucunya. 

Tak kurang pula pentingnya merawat ikatan kekeluargaan yang sudah ada agar tetap harmonis dan terjaga sehingga akan melahirkan kasih sayang dan manfaat bagi negeri tercinta. Mungkin inilah intinya yang pada akhirnya akan memberi makna Indonesia Strong From Home. Akar kebaikan dari keluarga yang akan memperkuat bangsa ini. 

Bagaimana dengan pengalaman Anda? Sharing yuk! 
Apa sih yang bisa mengobati rindu pada kampung halaman karena sudah hampir tiga kali Lebaran enggak bisa pulang kampung? Banyak orang melampiaskan kangen itu pada makanan yang sering kali ditemui di kota asalnya. Tidak terkecuali saya. Meskipun sudah suka nasi boranan, tapi tetap penasaran bikin sendiri kuliner lokal. Toh cara membuat lontong buras sangat mudah, baik bahan maupun prosesnya. 

Bagi saya peringkat teratas makanan memang lontong buras, baik yang berisi kentang dan wortel maupun oncom yang pedas. Sederhana saja alasannya, lontong buras sering menemani saya ketika masih tinggal di Bogor. Lontong menjadi kudapan andalan saat sarapan sebelum berangkat ke kantor atau berekreasi bersama keluarga. Ditemani tempe kemul atau bakwan, lontong pun bisa terasa kurang jika cuma makan satu buah.

Cara membuat lontong buras bukan rahasia lagi. (Foto: dok. pri)


 

Begini cara membuat lontong buras


Nah, daripada air liur menetes dan perut segera keroncongan, gimana jika kita buat sendiri lontong burasnya? Simpel kok cara bikinnya. Di sini saya memberikan dua resep isian supaya bisa disesuaikan dengan selera masing-masing. Yuk segera kita ke pasar, eh, ke dapur. 

1. Bahan lontong:

Beras 500 gr
Air atau santan (jika suka) 
Daun pisang (dijemur sebentar hingga agak layu), lalu potong-potong sesuai ukuran lebar yang diinginkan. 
Garam 1 sendok teh
Daun salam tiga lembar

Cara membuat:
Beras dibersihkan dan dicuci, lalu masukkan ke wadah (panci) dan diberi air (tinggi air sekitar tiga ruas jari dari permukaan beras). Beras tersebut dimasak dengan api sedang hingga airnya menyusut dan beras sudah terasa lembut serta hampir matang. Jika suka tekstur yang lebih halus, bisa tambahkan ukuran airnya. Setelah air menyusut, tutup panci dan diamkan hingga tidak terasa terlalu panas untuk dibungkus dengan daun pisang dan diberi isian. Sisihkan. 

Sementara menunggu nasi aron tersebut agak adem, kita segera membuat isiannya. 

2. Isi sayur

Bahan:
  • Kentang 2 buah dipotong dadu kecil
  • Wortel 2 buah dipotong dadu kecil
  • Bawang bombay 1 buah dicincang
  • Ayam 1/4 kg, dicincang
  • Minyak untuk menumis

Bumbu:
  • Bawang merah 5 siung
  • Bawang putih 4 siung
  • Merica/lada 1/2 sendok teh
  • Kemiri 2 butir (jika suka)
  • Saus tiram 1 sendok makan (jika suka)
  • Kecap manis 2 sendok makan
  • Garam secukupnya
  • Penyedap rasa (opsional)
  • Air secukupnya

Cara membuat:
Haluskan bawang merah, bawang putih, merica/lada, kemiri, dan garam, lalu tumis hingga harum. Setelah bumbu harum, masukkan ayam dan aduk hingga keluar air. Setelah ayam setengah matang, masukkan kentang dan wortel, lalu aduk hingga rata dan beri sedikit air. Masukkan saus tiram, kecap manis, dan penyedap rasa. Koreksi rasa dan biarkan dimasak hingga airnya menyusut. Setelah itu diamkan dan isian sudah siap untuk digunakan. 

3. Isi oncom pedas

Bahan:
  • Oncom merah 2 papan
  • Minyak untuk menumis

Bumbu:
  • Bawang merah 5 siung
  • Bawang putih 3 siung
  • Cabai merah keriting atau cabai jawa 7 buah
  • Terasi 1/2 sendok teh
  • Daun kemangi (jika suka) secukupnya
  • Garam secukupnya

Cara membuat:
Haluskan oncom dan tempatkan di wadah. Haluskan bawang putih, bawang merah, dan cabai, kemudian tumis hingga harum. Setelah harum, masukkan oncom dan daun kemangi. Aduk hingga matang dan merata, lalu matikan api. Isian oncom siap digunakan. 

4. Membungkus nasi dan isian

Gelar selembar daun pisang dan taruh nasi di atasnya (sekitar dua sendok makan atau sesuai selera). Bentuk nasi tersebut agak pipih dengan ditekan-tekan. Setelah pipih, taruh isian (kentang wortel atau oncom) sekitar 1 sendok makan dengan posisi agak memanjang di atas nasi. 

Selanjutnya, balut isian tersebut hingga tertutup seluruhnya oleh nasi. Kemudian, nasi tersebut digulung atau dibungkus dengan daun pisangnya hingga tertutup rapi. Sematkan ujungnya dengan tusuk gigi atau tali rafia. Lakukan hingga seluruh lontong siap untuk dikukus. 

Setelah itu, siapkan dandang untuk mengukus dan letakkan semua lontong secara merata. Kukus selama kurang lebih 30-45 menit. Setelah matang, sajikan lontong dengan tempe kemul atau bakwan dan sambal kacang. Mmmm, yummy .... Lontong pun siap untuk menjadi sarapan atau bekal yang lumayan mengenyangkan dan tentu laziiiiizzz rasanya. 

Mudah banget kan cara membuat lontong buras yang sudah saya praktikkan? Sebagai perempuan penyuka literasi, lontong buras ini pas banget saya santap sambil baca buku dan secangkir kopi. Sambil bercengkerama untuk menemani anak yang mungkin sekarang balik learning from home? Boleh juga. Kalau kebetulan tinggal di apartemen dan malas masak, bisa beli aja sih, yang penting menikmatinya barengan sahabat atau keluarga.