Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Bagi sebagian orang, angka 9 mungkin tak berarti apa-apa atau bahkan sebaliknya, menjadi angka istimewa. Tapi angka 9 tidak sesederhana itu bagiku. Angka ini mengajarkanku tentang cinta, kekuatan, dan kesetiaan. Meski tak bisa kupahami cara takdir melakukannya.
***
Senin, 17 Mei 2004 pukul 07.58 WIB
Gubrakkkk …. Kaca bening itu pun tersaput jejak hidung dan meninggalkan bekas. “Duh, memar deh tulang hidungku,” gumamku sambil mencoba berdiri tegak meski ada sedikit rasa senut-senut di sebagian hidungku. Menabrak jendela bening di pagi hari mungkin bukan hal yang indah untuk memulai hariku. Gulungan kabel yang terbungkus plastik bening rupanya juga ingin menambah sempurna “kemalanganku”. Lompatan anggun ke arah depan untuk menghindar berhasil kulakukan, tapi tak urung membuat kakiku goyah dan jatuh terduduk. Sempurna!
Namun tak selamanya awal yang buruk harus membuat kita menyerah, bukan? Siapa tahu di penghujung hari bakal ada kejutan indah sebagai penutup hari ini. 


Biiip … biiip … biiip. Telepon selular jadul berwarna metalik itu membangunkan Raisa dari mimpi indahnya di subuh yang masih temaram. “Hanya ingin berbagi kabar bahagia. Istriku sudah hamil dan sekarang memasuki masa tiga bulan. Mohon selalu didoakan yang terbaik ya.” Hanya itu yang tertera di layar telepon. Tapi … sontak berita sepagi itu mampu membuat Raisa melompat bahagia dan membuat rusuh seisi rumah.
“Mas, bangun! Ini lihat deh, Bimo dan Mona akhirnya ….,” teriak Raisa di telinga Rio, sang suami yang masih lerlihat berada dalam gulungan selimutnya. Raisa mengguncang-guncang badan suaminya dengan sangat bersemangat dan tak urung membuat suaminya ikutan terlonjak kaget dan terjerembab ke lantai.
Hadeeuuh, ada apa sih pagi-pagi bikin heboh begini?” gerutu Rio sambil duduk kembali di pinggir tempat tidur.
“Ini lho, Bimo dan Mona akhirnya …,” ujar Raisa sambil matanya yang berkaca-kaca tidak terlepas dari layar teleponnya. “Mereka akan punya anak!”
***