“Bun, kalo disuruh pilih blog yang jadi favorit, kamu mau pilih blog siapa?” Pertanyaan beberapa tahun lalu itu mungkin sudah tidak diingat lagi oleh si pemberi pertanyaan. Biasanya sih mengobrol yang kayak gini sambil menyamil kudapan tradisional kayak ketimus atau combro. Bisa jadi dia hanya ingin sekadar menguji apakah blognya masuk dalam radar saya atau tidak, heuheuheu

Yang jelas, tiba-tiba saja isi percakapan itu kembali terngiang-ngiang ketika Mbak Eno, pemilik blog Creameno membuat CR Challenge #3. Sebuah challenge yang tentu saja membuat saya mengulik kembali memori jawaban atas pertanyaan itu. Saya membayangkan Mbak Eno tengah menyeruput kopi di ruang apartemennya yang nyaman ketika menggagas ide ini. 

Terus terang ini adalah sebuah tantangan yang memecut saya untuk mencoba membuat apresiasi, minimal dengan membuat ulasan atau rekomendasi. Saya ingat bahwa saya pernah membuat beberapa daftar blog yang sudah, sedang, dan ingin sekali saya kunjungi serta membuat interaksi di sana. Sayangnya, saya ternyata lebih berbakat sebagai silent reader karena sering kali tidak sempat meninggalkan jejak di blog-blog tersebut.

Ada saja penyebab yang membuat saya tiba-tiba harus menghentikan interaksi pada blog-blog itu. Beberapa di antaranya adalah akses gawai atau perangkat yang terbatas (laptop harus gantian sama suami), sedangkan saya merasa nyaman membaca blog-blog itu di laptop. Berlama-lama membaca blog atau buku di smartphone bikin mata saya mudah lelah. Mungkinkah ini disebabkan oleh faktor U? Entahlah. Ada kalanya pula anak-anak tiba-tiba minta atensi penuh dari saya. Atau, kuota yang tiba-tiba ngambek dan gak mau berhubungan lagi kayak si mantan yang ghosting itu, ups. Tapi, yang paling sering sih karena sudah teralih oleh pekerjaan menyunting alias mengedit naskah buku. Duh, ternyata alas memang luas banget ya? 

Meski begitu, jelas saya gak mau ketinggalan ikut tantangan yang satu ini karena siapa tahu blog-blog yang saya rekomendasikan bisa memberi insight baru juga buat pembaca blog saya. Orang bilang bunga yang beraneka warna membuat pemandangan semakin menjadi indah, bukan?

Sebetulnya ada beberapa blog yang benar-benar bikin saya gembira saat membacanya, tapi berhubung pemiliknya sudah beralih hobi, maka blog itu pun ikut menguap, hiks hiks. Tapi gak apa-apa. Saya akan mencari gantinya dan ini dia blog yang jadi favorit saya saat ini yang mungkin bisa kamu intip juga. Saya tidak memasukkan blog Creameno di daftar ini karena bagaimana mungkin blog Mbak Eno bukan favorit jika saya memilih ikut serta tantangannya? Logis, bukan?

Nah, jika tertarik, kamu bisa tinggalkan jejak di sana. Ada blog gado-gado dan ada juga blog yang memiliki niche khas. Cekidot yuk!

1. belalangcerewet.com, misterblangkon.com, dan hudu.xyz


Tiga blog yang dimiliki ayah dua bocah lelaki menurut saya unik karena sependek pengetahuan saya ada postingan organik yang terselip dengan manis di antara postingan nonorganiknya. Tata bahasa yang terjalin rapi, sering kali berima, dan relatif well-edited membuat mata saya terasa nyaman saat membacanya. Maklum, profesi sebagai editor membuat saya memiliki kebiasaan “mencari-cari kesalahan”, hehehe. Postingan yang kalimatnya tertata rapi jelas aman dan membuat saya relatif lega.

Kisah-kisah yang diceritakannya, sebagian besar kisah pribadinya, juga memiliki pesan tersirat atau tersurat yang bikin saya merenung dan bertanya pada diri sendiri. Saya setuju jika ada yang bilang membaca blog ini tak pernah terasa membosankan walau tulisannya puanjaaangg dan laaamaaa …. Jika tak percaya, maka tengoklah ke sana.


2. hayaaliyazaki.com & ceritamelalak.com


Mungkin solidaritas sebagai sesama editor membuat saya menyukai blog Mbak Haya ini. Isinya ciamik dan informatif. Cerita-cerita pengalamannya, terutama terkait dunia literasi juga sangat menarik berhubung dunia ini pun sama-sama kami geluti. Salah satu, eh banyak deh, hal yang saya kagumi, Mbak Haya energinya lebih besar dari saya sehingga rajin mengelola blognya, heuheuheu


3. rajasinema.com


Blog yang satu ini jelas menjadi salah satu acuan bagi penyuka dunia film, termasuk saya. Ulasan-ulasan tentang dunia film dan perfilman seperti industrinya, pemainnya, sutradaranya, hingga strategi promonya dibahas lumayan lengkap. Saya juga bisa mencari rekomendasi film-film, baik dari Hollywood, Bollywood, Thailand, Korea Selatan, Jepang, hingga Eropa. Setelah nulis postingan ini, lanjut nonton film yang direkomendasi Bang Raja Lubis ini ah.


4. langitamaravati.com & langitamaravati.blogspot.com


Membaca blog Mbak Langit Amaravati mungkin sebuah pemenuhan atas rasa penasaran dan usaha empati saya terhadap sosok ibu satu orang anak yang cerita hidupnya menurut saya bagai roller coaster. Bakatnya yang luar biasa dalam hal teknologi IT berpadu dengan kemampuannya dalam menulis (buku/cerita fiksi) merupakan perpaduan yang unik. Perjuangannya sebagai single mother yang sedang menjalani pengobatan (psikiater) atas kesehatan jiwanya ini sangat luar biasa. 


5. naked-traveler.com


Dulu, ketika blog salsabeela.com masih aktif, saya merupakan salah satu pembacanya. Namun ketika blog itu sepertinya sudah agak lumutan karena ditinggal pemiliknya yang mungkin bertambah kesibukannya, maka saya melihat blog milik Mbak Trinity ini sebagai aternatifnya. Bukan tanpa alasan. Saya memang menyukai cerita mereka berdua dalam hal dunia traveling. Pindah tempat tinggal dari kota ke di kampung membuat saya agak linglung sehingga membaca blog traveling ini saya merasa seolah masih terhubung dengan dunia, hahaha.

Sebenarnya masih ada beberapa blog lagi yang ingin saya rekomendasikan. Tapi, lagi-lagi, tugas sudah memanggil. Next time kita sambung lagi bahas yang satu ini ya.

“Bunda, kok Adek belum ada PTS (Penilaian Tengah Semester) ya? Padahal sekolah lain sudah selesai semua,” tanya si bungsu saat kakaknya mengajak memancing. 


Kami memang menjanjikan duo krucil kami untuk mencoba kegiatan memancing dengan syarat sudah selesai kegiatan PTS agar mereka bisa fokus untuk mempersiapkan ujian yang biasanya memakan waktu lebih dari seminggu tersebut. Akan tetapi, alih-alih kami malah mendapat surat pemberitahuan dari sekolah tentang kegiatan yang cukup anti-mainstream dan membuat dua krucil kami penasaran. Isinya adalah sebuah kegiatan yang diberi nama Madrasah Ibtidaiyah Thoriqul ‘Ulum Outdoor Study Activity.


Bus Tayo siap mengajak siswa MI Thoriqul 'Ulum berkeliling sebelum acara utama.

Anak kami merupakan siswa kelas 2 di sekolah Ibtidaiyah yang bernama Madrasah Ibtidaiyah Thoriqul ‘Ulum atau kami sering menyebutnya dengan MITU, sebuah sekolah di bawah naungan YPPI  Thoriqul ‘Ulum yang diasuh oleh KH. Abdul Wahib Muhammad Ikhsan atau sering disebut Abah Wahib. Lokasi sekolah ini berada di Jalan Mastrip Gg. Made Tegal Sebalong No. 118 Lamongan. 


Kegiatan belajar variatif agar anak kreatif


Di masa pandemi ini, MITU sudah melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) meski terbatas hanya tiga kali seminggu, yaitu hari Senin, Rabu, dan Jumat. Hanya saja dua krucil kami belum mendapat izin dari ayah mereka untuk mengikuti PTM di sekolah. Meski demikian, sekolah tetap memperkenankan orangtua dan siswa jika ingin memilih mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dilakukan secara daring (online). 


Pandemi memang merupakan tantangan tersendiri, khususnya dalam dunia pendidikan formal. Hal yang bersifat kratif dan inovatif sangat diperlukan untuk menyiasati kegiatan belajar mengajar yang sangat terbatas, baik oleh tempat maupun waktu.


Sejauh pengalaman yang sudah kami lalui selama dua tahun belakangan ini, kegiatan pembelajaran di MITU memang dilaksanakan sebagaimana layaknya pola pengajaran di madrasah ibtidaiyah pada umumnya. Beberapa di antaranya adalah program pembentukan karakter santri salafi melalui shalat duha di sekolah, belajar doa-doa harian, membaca dan menghafal surah-surah pendek Al-Quran, diajarkan sopan-santun serta akhlak mulia, dan tentu saja bidang-bidang studi agama dan umum sesuai kurikulum nasional. 


Namun, MITU memiliki daya tarik lain sehingga cukup menyita perhatian kami bahkan sejak awal kegiatan orientasi sekolah mereka yang tentu saja disukai anak-anak dan meninggalkan kesan mendalam. Kegiatan itu pilihan MITU tersebut berupa aktivitas belajar outdoor yang membuat kami angkat jempol karena menjadi alternatif kegiatan belajar yang menyenangkan, tidak membosankan, dan tentu saja … gratis!


Ternyata, di masa pandemi ini MITU kembali membuat kegiatan outdoor dan kali ini melibatkan institusi dari luar untuk terlibat di dalamnya. Hal yang tentu saja harus diperhatikan dan selalu saya tanamkan pada XXBB adalah bahwa meskipun dilakukan di luar ruangan, jangan lupa atau lengah untuk selalu menerapkan protokol kesehatan karena agenda kegiatan ini melibatkan banyak orang. Ada dua lembaga yang menjadi mitra pembelajaran kali ini, yaitu Komunitas Pencinta Reptil (KPR) Lamongan untuk kegiatan PTS anak-anak kelas 1 dan 2, sedangkan untuk kelas 3-6 melibatkan UD Barokah (sebuah tempat penggilingan padi) di Desa Kebet, Lamongan. 


Sayangnya, kegiatan yang sama menariknya ini tidak bisa saya liput karena jarak yang cukup jauh dari tempat kegiatan bersama Komunitas Pencinta Reptil ini. Mungkin jika benar-benar penasaran, duo krucil lain waktu bisa mampir ke tempat penggilingan beras milik paman mereka yang lokasinya tidak jauh dari rumah Mbah Utinya.


Kegiatan PTS yang bikin antusias


Acara yang diselenggarakan pada tanggal 24 Maret 2021 ini dimulai pada pukul 06.00 WIB. Untuk mengantisipasi keterlambatan, saya sudah mengantar XXBB berangkat ke sekolah sejak sepuluh menit sebelumnya. Di sana sudah menunggu sebuah bus mini (di tempat kami disebut bus Tayo) yang penampakannya mirip dengan bus rekreasi yang sering kita temui di tempat-tempat wisata. XXBB langsung berbinar-binar melihat kendaraan yang sangat disukainya itu. Bus Tayo memang favorit anak-anak dan sering digunakan untuk berkeliling desa/kota dengan tarif Rp3.000 per anak. 


Namun untuk kegiatan ini tidak ada sepeser pun dana yang ditarik karena sudah didukung oleh donatur sekolah. Setelah persiapan sana-sini, bus Tayo berangkat pada pukul 07.30 dan para orangtua murid diberikan informasi bahwa kegiatan bersama Komunitas Pencinta Reptil akan dimulai pada pukul 10.00 yang akan dilakukan di halaman Masjid Baiturrahman Made.


Berhubung saya juga memiliki agenda mengantar dan menjemput si anak sulung yang sekolah di SD negeri dan juga tengah melaksanakan PTS, maka saya menyerah mengintili bus Tayo keliling kampung/kota dan berputar arah kembali ke rumah. Niat saya adalah langsung menyambangi Masjid Baiturahman, Made untuk ikut menyaksikan kegiatan anak-anak bersama Komunitas Pencinta Reptil di sana. 


Tidak berbeda dengan anak-anak, para orangtua pun ikut antusias untuk mengikuti kegiatan ini. Bagaimana tidak penasaran jika PTS semacam ini digunakan untuk menilai pembelajaran siswa. Ada enggak ya hal semacam ini di sekolah lain?


Bin(a)tangnya adalah biawak, piton, dan iguana


Saya ternyata terlambat tiba di lokasi (halaman Masjid Baiturahman) karena memang belum pernah bertandang ke masjid tersebut. Saya butuh berkeliling dulu untuk menemukan lokasinya yang ternyata tidak terlalu jauh dari belakang perumahan saya. Saya melihat anak-anak sudah duduk melingkari kakak-kakak dari KPR yang berdiri di tengah lingkaran dan masing-masing sudah menggendong binatang peliharaannya. Hawa geriming-geriming sebenarnya sudah mulai terasa di kuduk saya, tetapi tetap saya beranikan diri untuk melihat dari dekat.


Para siswa yang sejak berangkat dari sekolah sudah dibekali oleh kertas tugas PTS terlihat antusias memperhatikan dan menyimak penjelasan dari Kakak KPR dan sesekali mencatat informasi penting yang mereka dapatkan. XXBB yang memang menyukai jenis hewan reptil ini dan sudah memiliki berbagai bahan bacaan berkaitan dengan reptil terlihat sangat konsentrasi dan sesekali menjadi narasumber bagi teman-temannya yang masih belum paham.


Siswa MI Thoriqul Ulum Lamongan memegang reptil, bermain sekaligus belajar.

Hewan-hewan yang menjadi bintang dalam kegiatan tersebut adalah biawak atau nyambek (bahasa Jawa), ular berjenis phyton, serta iguana berusia tujuh tahun dan anaknya yang berusia empat bulan. Makanan, cara bergerak, dan cara memelihara hewan-hewan itu adalah beberapa hal yang dijelaskan oleh kakak-kakak dari KPR. Biawak yang bergerak dengan cara merayap sering kali memakan tikus, ikan, ayam, bahkan telur. 


Salah satu orangtua ikut mengiyakan informasi tersebut karena ia sering kehilangan ayam dan telur di rumahnya. Demikian pula dengan ular phyton, si hewan melata yang juga suka memangsa tikus dan unggas kecil. Adapun makanan iguana adalah tumbuhan-tumbuhan dan buah-buahan. Melihat iguana yang sedang merayap serasa melihat hewan dari masa prasejarah karena bentuknya yang bersisik dan menurut XXBB mirip stegosaurus.


Setelah kakak-kakak KPR selesai memberikan penjelasan, tibalah saatnya berkenalan lebih dekat dengan hewan-hewan reptil tersebut. Para siswa diperkenankan untuk memegang, mengusap, bahkan menggendong hewan yang terlihat menakutkan, tetapi sangat menarik rasa penasaran anak-anak itu. Satu per satu anak maju dan memberanikan diri memegang salah satu hewan dengan ekspresi wajah yang takut-takut tetapi mupeng. 


Para orangtua juga tak kalah antusias untuk mengabadikan “keberanian” anak-anaknya dengan smartphone masing-masing meski dari wajahnya tampak gentar, hahaha. XXBB tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan meminta giliran untuk memegang, mengusap-usap, dan menggendong hewan-hewan itu. Lumayan lama juga kegiatan itu hingga tak terasa pagi sudah merambat siang.


Ingin lebih lama


Anak-anak belum puas bercengkerama dengan reptil-reptil tersebut, tetapi kegiatan harus segera diakhiri karena jam telah menjelang pukul 11.00 dan udara sudah terasa cukup panas. Sambil menunggu kakak-kakak mengemas kembali hewan-hewan reptil tersebut dan memasukkannya ke kandang portable, anak-anak diberikan waktu beristirahat sambil mengudap roti dan minuman. Orangtua yang sudah datang dipersilakan untuk menjemput anaknya masing-masing. Namun apalah daya, anak-anak tetap memilih naik bus Tayo yang akan membawa mereka kembali ke sekolah. Haddeuuuhhh ….  


Wajah-wajah puas dan gembira terlihat dari para peserta kegiatan tersebut. Para orangtua dan guru pun berharap acara semacam ini bisa diselenggarakan lagi di waktu yang akan datang. Kepala sekolah MITU, Mat Kholidun, M.Pd, pernah mengungkapkan bahwa saat ini ini sekolah maupun orangtua perlu menyiapkan anak-anak untuk aktif dan kreatif serta siap berkolaborasi. 


Tampaknya kegiatan seperti ini merupakan salah satu upaya MITU untuk memperoleh keberhasilan dalam hal tersebut, salah satu hal yang kami pun sepakat. Semoga pandemi segera berakhir dan semua bisa berjalan secara normal kembali sehingga kegiatan belajar di sekolah tidak lagi terbatas. Bagaimana dengan pengalaman sekolah yang lain ya?  

Akhir pekan adalah waktu yang tepat untuk mengambil jeda di antara padatnya aktivitas selama seminggu kemarin. Saya termasuk orang yang menjadikan akhir pekan sebagai waktu untuk menikmati buku-buku secara lebih santai. Tak harus duduk di balkon apartemen mewah, santai membaca buku di beranda rumah mungil sambil ditemani camilan dan secangkir teh atau kopi pun sudah kenikmatan yang tidak bisa ditukar dengan apa pun, hehe .... 

Nah, mungkin ada di antara 15 buku novel tentang perempuan yang asyik dibaca saat akhir pekan ini menarik minatmu. Jangan-jangan ada yang sudah pernah membacanya juga. Ayooo ngaku! 

1. The Virgin Blue (Tracy Chevalier)


The Virgin Blue adalah sebuah novel yang juga berlatar belakang sejarah, yaitu reformasi Protestan di abad keenam belas yang diawali oleh Martin Luther. Perseteruan antara kaum Katolik dan Protestan saat itu tergambar dalam pencarian asal-usul pencarian keluarga leluhur tokoh utama, Ella Turner yang akhirnya menemukan rahasia-rahasia memilukan pada keluarga Tournier. Ikatan antara Ella Tournier dan Isabelle du Moulin terkuak setelah empat ratus tahun kemudian membuat novel ini sangat membuat penasaran.

2. Poison (Sara Poole)


Buku ini bercerita tentang ambisi balas dendam Francesca Giordano, seorang perempuan jelita ahli racun, atas kematian ayahnya di kota Roma pada abad pertengahan. Ia berusaha keras untuk mendapatkan posisi penting sebagai ahli racun untuk melayani keluarga paling berbahaya di Italia saat itu, Kardinal Rodrigo Borgia. Berhasilkah Francesca menjalankan misinya itu? Novel ini sangat menegangkan dan cocok untuk penyuka fiksi sejarah, terutama yang berlatar belakang sejarah Reneisans. 

3. Citra Rashmi (Tasaro GK)


Salah satu penulis Indonesia favorit saya adalah Tasaro GK. Wong Gunung Kidul ini memang piawai menjalin cerita yang berlatar belakang sejarah, khususnya dari bumi Sunda Parahyangan di masa yang menegangkan menjelang terjadinya Perang Bubat. Sang putri, Citra Rashmi atau Dyah Pitaloka adalah tokoh yang menjadi kunci dalam peristiwa yang terkait dengan Kerajaan Majapahit tersebut. Membaca novel ini membuat imajinasi yang sangat liar mengenai keindahan alam dan kehidupan masa lalu semakin membuncah. Siap-siap saja deh. 

4. Wild Swans (Jung Chang)



Kisah tiga perempuan dari tiga generasi dalam buku ini sedikit banyak membuat kita memahami tentang begitu besarnya pengaruh paham komunis pada kehidupan masyarakat di negeri Tiongkok. Novel yang ditulis oleh Jung Chang ini sebenarnya diambil dari kisah nyata kehidupan keluarganya pada masa awal pemerintahan komunis di China hingga pada akhirnya ia memutuskan hijrah ke Inggris. 

5. Putri Langit (Nigel Cawthorne)


Jika ada pemimpin perempuan di dunia yang sangat kuat, Putri Langit adalah salah satunya. Novel ini merupakan kisah nyata perjalanan kehidupan Wu Chao yang awalnya menjadi selir kaisar hingga menjadi kaisar perempuan satu-satunya dalam sejarah China. Novel yang ditulis oleh Nigel Cawthorne ini salah satu buku yang membuat saya sedikit banyak memahami tradisi dan budaya Tongkok yang sangat eksotis.

6. Alazhi Perawan Xinjiang (Nuthayla Anwar)



Jika masih membutuhkan sudut pandang dalam melihat kondisi muslim Uighur di Xinjiang, novel ini menurut saya benar-benar bisa mewakili. Kehidupan masyarakat dan alam Xinjiang yang indah ditingkahi oleh bayang-bayang teror yang terjadi pada masyarakat Muslim diceritakan dengan sangat sangat apik oleh Nuthayla Anwar. Novel ini bikin saya bercita-cita suatu saat bisa berkunjung ke sana.

7-12. Serial Perempuan yang Dijamin Masuk Surga (Sibel Eraslan)

Novel-novel ini merupakan serial yang terdiri atas judul-judul sebagai berikut: Hajar; Rahasia Hati Sang Ratu Zamzam, Maryam; Bunda Suci Sang Nabi, Aisyah; Wanita yang Hadir dalam Mimpi Rasulullah, Fatimah Az-Zahra; Kerinduan dari Karbala, Asiyah; Sang Mawar Gurun Fir’aun, dan Khadijah Binti Khuwailid; Ketika Rahasia Mim Tersingkap.

Sumber Gambar: inkuiri.com

Nah, di antara 15 buku novel tentang perempuan yang asyik dibaca saat akhir pekan ini, enam serinya merupakan karya masterpiece Sibel Eraslansemuanya saya suka bangetbenar-benar menyingkap sosok perempuan-perempuan yang dijamin masuk surga. Saya sempat tergugu dan menangis dalam diam atau tersenyum-senyum kecil saking terbawa dalam emosi ketika membaca novel-novel ini. Speechless deh dengan kemampuan Mbak Sibel Eraslan yang bisa mengaduk-aduk perasaanku, si perempuan lemah ini. Jika sudah berkait dengan surga dan religiusitas, siapa yang bisa menahan rasa yang membuncah dalam dada? Enggak ada kan? 

13. Sky Burial (Xinran)


Saya pun menjadi sangat terobsesi ingin pergi ke Nepal atau Tibet setelah membaca novel ini. Mungkin konyol sih, tapi novel ini bercerita dengan sangat menggugah tentang kesetiaan, pengorbanan, kerasnya alam meski tetap menyajikan pemandangan alam yang luar biasa serta tradisi penguburan yang cukup menyayat hati. Hanya ada satu kata buat novel ini, awesome! brrr ...dingiiin. 

14. Nefertiti (Nick Drake)

Sumber Gambar: id.carousell.com

Novel ini menceritakan tentang kehidupan Nefertite, salah satu ratu Mesir Kuno terkenal. Kisah permaisuri dari Raja Atep ini membuat kita sekilas melebur dalam kehidupan penuh intrik di Kerajaan Mesir yang hingga saat ini masih memiliki daya tarik magis untuk diungkapkan. Michelle Moran dengan sangat piawai menjalin kisah ini seakan-akan kita berada dalam suasana yang terjadi saat itu dan bersiap untuk selalu berada dalam suasana mencekam meski mendapat gambaran nuansa kecantikan eksotis negeri seribu piramida tersebut. 

15. The Physic of Book of Deliverance Dane (Katherine Howe)

Sumber Gambar: id.carousell.com

Buku yang berada di nomor buncit ini mungkin salah satu buku yang membuat saya geleng-geleng kepala. Buku ini sanggup membuat saya kesulitan menghilangkan imajinasi akan suasana masyarakat Eropa di abad pertengahan. Sebuah kondisi di mana banyak sekali ahli pengobatan yang dituduh sebagai tukang sihir atau penganut ilmu hitam hingga mereka dijatuhi hukuman mati. Karakter perempuan yang sangat kuat berpadu dengan fiksi sejarah membuat kisah-kisah kelam praktik hukuman kejam di abad pertengahan ini menjadi begitu mencekam. 


Nah, mungkin ada salah satu di antara15 buku novel tentang perempuan yang asyik dibaca saat akhir pekan tersebut yang menarik minat kamu untuk menjadi teman me time di akhir pekan ini. Jangan lupa selesaikan dulu tugas-tugas yang masih belum beres ya. Soalnya, dijamin sulit untuk meletakkan buku tersebut jika sudah terlanjur membacanya. Repot dong jika tugasmu masih menumpuk, sedangkan kamu enggak bisa berhenti membaca, hahaha. Penasaran kan?