Walk as if you are kissing the Earth with your feet.” 

(Jalaluddin Rumi)


Tangan-tangan mungil itu berebut untuk menggotong keranjang berisi bambu-bambu yang sudah dibakar berisi nasi liwet. Sebagian anak lainnya membawa sayur, lauk-pauk, dan camilan dalam wadah. Para krucil, begitulah kami menyebut anak-anak itu, bertugas memindahkan masakan yang sudah matang. Masakan yang dipersiapkan sebanyak 33 porsi (sesuai jumlah peserta) itu dibawa dan dikumpulkan di area yang relatif lebih kering beralas terpal dan tikar yang agak jauh dari tenda dapur. Adapun para orangtua kebagian tugas memasak dan menyiapkan keperluan lainnya.



Keceriaan dan persahabatan dapat terjalin dari petualangan berkemah bersama. (Foto: Pribadi)


Para krucil terlihat sedikit kesulitan ketika menggotong hidangan tersebut karena jalan agak basah dan sedikit menanjak. Kaki mereka kotor terkena lumpur, demikian juga dengan baju mereka. Salah satu anak yang melintas di dekatku berujar kepada temannya yang terlihat selalu ragu-ragu dalam melangkah, “Gak usah takut kotor! Bunda gak bakalan marah kok. Tadi Bundaku sudah bilang, gak apa-apa badan dan baju kita kotor. Nanti bisa mandi dan dicuci. Dinikmatin aja. Kata bunda, badan dan baju nanti bisa dibersihkan, tapi pengalaman jangan sampai hilang ya!”


Anak kecil yang ragu-ragu itu berpaling menatapku seolah-olah meminta persetujuan. Aku mengangguk sambil tersenyum dan mengacungkan satu jempol untuk mereka. Aku hanya sanggup memberi satu jempol saja karena tanganku yang satu lagi memegang wajan berisi air panas. Aku mendapat tugas untuk membuat minuman teh dan kopi. Kedua anak tersebut kemudian tampak saling menguatkan dan melanjutkan aktivitasnya dengan antusias. 


Hujan gerimis siang tadi memang membuat medan berbukit-bukit itu semakin licin dan menantang. Meski begitu, tak satu pun krucil itu terlihat murung dan bersusah hati. Cuaca dingin tak membuat hati mereka juga menjadi beku. Justru persahabatan yang terjalin di antara kami semakin terasa begitu hangat. Setelah bertualang selama tiga hari, mereka semua tetap semangat, saling bekerja sama, tertawa gembira, dan semua merasa semakin akrab. Tampak tak ingin ada perpisahan.


Syukurlah, di malam yang super dingin itu langit cerah bertabur bintang dan alam menampilkan pemandangan yang luar biasa indah. Semua peserta, kurang lebih tujuh keluarga dari latar belakang profesi, tempat tinggal, dan suku yang berbeda menikmati makan bersama yang terakhir malam itu dengan mengobrol dan bercengkerama gembira sambil lesehan. 



Anak-anak sangat menikmati acara api unggun. (Foto: phinemo.com)


Anak-anak menikmati kegiatan membuat api unggun, membakar jagung, sosis, atau makan camilan favorit mereka, tentu ada OREO Wafer juga dong. Setelah dua hari berkemah, berjalan sambil menjelajah hutan dan puncak perbukitan, berenang, belajar tentang kerja sama, bercengkerama, dan mengenal berbagai pohon dan satwa liar, mereka memang layak untuk menikmati OREO Wafer, baik rasa choco vanilla maupun double choco dan camilan lain sepuas hati. Makan bersama itu berakhir dengan penuh kegembiraan. 


Betapa bahagianya punya banyak teman

Betapa senangnya menikmati hari bersama.

(Lagu: Menikmati Hari – Petualangan Sherina 1)


Keluarlah, Hirup Udara Segar, dan Rekatkan Kembali Persahabatanmu di Sana! 


Berkemah di malam menjelang pergantian tahun 2023 itu sungguh meninggalkan banyak momen yang tak terlupakan bagi kami. Meski bukan perayaan tahun baru secara khusus, tetapi momen yang berbarengan dengan liburan sekolah itu memang memberi banyak pengalaman berupa petualangan baru yang sangat berarti bagi kami, seluruh peserta berkemah di alam bebas itu. 


Rutinitas dan kesibukan bekerja atau sekolah bisa membuat siapa pun merasa jenuh, demikian pula keluargaku. Pagi berangkat, siang berjibaku dengan tugas atau pekerjaan, sore pulang, malam kadang masih ditambah dengan aktivitas tugas kantor/domestik yang tertunda. Aku yang saat itu baru beres mengerjakan proyek penulisan dan penyuntingan buku secara maraton benar-benar membutuhkan oase dan jeda. 


Kami memang butuh healing dan refreshing. Sudah waktunya mencari suasana baru yang alami dan segar. Maka, aku tak sanggup menolak ketika sahabatku, suami-istri yang berprofesi jurnalis dan dokter, mengajak kami mengisi liburan sekolah dan tahun baru dengan berkemah plus bertualang bersama di daerah Wonosalam, Jombang, Jawa Timur. 



Salah satu cara refreshing di alam bebas adalah dengan camping/berkemah. (Foto: highland adventure)


Kedua anakku, Xi sulung dan Xi bungsu menyambut tawaran ini dengan minat yang besar. Xi sulung yang jadwal sekolahnya penuh dengan agenda try out dan ujian di kelas 6 sangat tertarik dan antusias dengan rencana tersebut meski sedikit terselip rasa takut. Jujur saja, acara berkemah di alam bebas ini adalah kegiatan yang pertama kali bagi kedua krucilku. Terbayang dong bagaimana persiapan dan kehebohan mereka.  


Selama ini aku memberikan mereka berbagai alternatif liburan sebagaimana pernah kutulis dalam buku 36 Ide Liburan Asyik dan Kreatif, seperti berkunjung ke tempat wisata, galeri, festival, dan lain-lain. Petualangan seru tentu saja bisa dilakukan dengan banyak cara dan tidak harus di tempat jauh ataupun mahal. Bahkan, membaca buku pun bisa menjadi petualangan tanpa beranjak dari tempat duduk kita. 


Oleh karena itu, aktivitas apa pun tentu bisa menjadi petualangan seru selama dilakukan bersama-sama. Namun, petualangan kami di alam bebas kali ini tetap memiliki nuansa yang unik, tantangan berbeda, dan memberikan pengalaman tersendiri. Aura dataran dan langit yang luas serta pemandangan yang hijau alami tampak seperti tanpa batas. Hormon-hormon, seperti dopamin, serotonin, oksitosin, dan endorfin laksana menghujani kami di sela-sela adrenalin yang bikin petualangan jadi tambah seru.  


Wikipedia mendefinisikan petualangan atau adventure adalah: an adventure is an exciting experience or undertaking that is typically bold, sometimes risky. Pengalaman merupakan sebuah pengalaman yang tidak lazim, tetapi sifatnya menarik. Oleh karena “tidak lazim” itulah, syarat suatu petualangan itu membutuhkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman kehidupan sehari-hari. Mungkin saja petualangan itu mengandung sedikit kesulitan, risiko, atau bahaya. 


Namun, pada ujungnya nanti, petualangan itu akan menyuguhkan permata berharga bagi si petualang itu sendiri, baik itu berupa cinta, persahabatan, pengetahuan, makna kehidupan, inspirasi, atau motivasi.



Kedekatan dalam persahabatan dapat hadir dari petualangan bersama. (Foto: jadiberita.com)


Malam ini bintang-bintang bersinar lebih terang,

berbinar lebih benderang, mengajak memandang,

masa yang tak terulang, petualangan tak terbayang.”

(Lagu: Mengenang Bintang – Petualangan Sherina 2)


Nikmati Tantangan dan Hangatkan Persahabatan dengan Petualangan OREO Wafer


Pengalaman kami menjelajah hutan dan pegunungan hampir setahun lalu menyeruak kembali dalam memori, apalagi setelah film Petualangan Sherina 2 mulai tayang di sinema-sinema Indonesia yang berkolaborasi dengan OREO Wafer. Jarak 23 tahun antara film Petualangan Sherina 1 (2020) dan Petualangan Sherina 2 (2023) juga mengisi sisi nostalgia yang menghadirkan kehangatan dan keceriaan. Background story film ini berupa petualangan Sherina Munaf dan kawan-kawan bersama Borneo Orang Utan Survival Foundation (BOSF) melepas liar orang utan di pedalaman hutan Kalimantan semakin menambah keseruan dan tentu saja sangat menginspirasi.



Press Conference Petualangan OREO Wafer, 3 Oktober 2023 di Jakarta. (Foto: kanalsatu.com)


Keseruan petualangan OREO Wafer tersebut diungkapkan dalam Press Conference Petualangan OREO Wafer pada tanggal 3 Oktober 2023 di Jakarta. Dian Ramadianti sebagai Senior Marketing Manager Mondelez Indonesia menjelaskan bahwa sebagai brand snack favorit, OREO Wafer telah menjadi bagian tak terpisahkan yang selalu hadir melengkapi setiap momen kebersamaan dan keceriaan keluarga Indonesia.


Keseruan #PetualanganOreoWafer juga diungkapkan oleh Sherina Munaf dan Derby Romero, para pemeran utama sebagai Sherina dan Sadam di film Petualangan Sherina 2 yang turut hadir dalam Press Conference tersebut. Sherina mengungkapkan bahwa perpisahan yang membuat kita merasa asing dengan orang-orang yang sudah lama terpisah bisa kembali dekat melalui momen petualangan bersama. Derby juga mengajak untuk mengambil sisi positif akan pentingnya melakukan petualangan seru bersama, apa pun bentuknya di mana hal itu sejalan dengan semangat OREO Wafer.



Sherina Munaf, Dian Ramadianti, dan Derby Romero. (Foto: kanalsatu.com)


Seperti memiliki telepati, sesaat setelah sahabatku sekeluarga menonton film Petualangan Sherina 2, ia chatting denganku via Whatsapp. Kami langsung merencanakan petualangan lainnya untuk momen liburan mendatang. Rasanya kami sudah tak sabar ingin kembali melakukan petualangan seru di alam bebas bersama-sama sebagaimana Sherina dan Sadam.  


Apa sih yang membuat kami suka bertualang? Jawabannya sederhana: kami menyukai dan menikmati berbagai tantangan seru yang selalu berhasil menyuntikkan keberanian sekaligus keakraban. Memangnya apa saja sih tantangannya? Inilah tujuh di antaranya yang kami (aku dan krucilku) hadapi dalam petualangan berkemah tahun lalu. Siapa tahu bisa memberi penguatan bagi siapa saja yang ingin memulai petualangannya di alam bebas.


Tantangan Pertama


Tantangan pertama bukan dari luar, tapi justru dari krucilku sendiri. Selama ini mereka hanya melakukan kegiatan berkemah di sekitar rumah atau sekolah saja. Rencana untuk mengajak mereka berkemah di alam bebas selama ini hanya sebatas rencana yang sangat sulit diwujudkan. Lagi-lagi kesibukan dan rutinitas yang menjadi penghalang. Oleh sebab itu, kami sering mencari alternatif liburan yang tidak terlalu jauh dan praktis saja.



Persiapan mental juga perlu diperkuat sebelum camping di alam bebas. (Foto: Pribadi)


Akibatnya, bayangan mengikuti kegiatan berkemah di alam bebas tampak agak menakutkan dan membuat krucilku merasa khawatir. Selama seminggu sebelum berkemah, aku dan suami memberikan banyak penjelasan dan gambaran tentang hal-hal yang akan mereka lakoni ketika bertualang nanti. Sebagai mantan aktivis Pramuka dan PMR jadul, tentu banyak sekali pengalaman yang menarik ketika berkemah semasa sekolah hingga kuliah dulu yang kami ceritakan pada mereka. Nah, jadi bernostalgia duluan kan? heuheuheu ....


Setelah mendengarkan kisah petualanganku, sedikit demi sedikit keberanian dan antusiasme mereka mulai tumbuh. Mereka juga mempersiapkan mental dengan membaca buku-buku tentang petualangan, seperti Lima Sekawan karya Enid Blyton atau menonton film kartun seperti Mr. Peabody and Sherman. Ya, persiapan mental itu memang fondasi yang paling penting lho!


Tantangan Kedua


Tantangan kedua berkaitan dengan perlengkapan yang akan mereka bawa untuk bertualang di alam bebas. Berkemah di lingkungan sekolah atau rumah tentu berbeda jauh dengan berkemah di alam bebas, seperti di Wonosalam yang berada di wilayah pegunungan dan hutan. Perbekalan yang dibawa tentu berbeda sehingga kami perlu memilah dan memilihnya.


Berhubung akses listrik dan kebutuhan serba terbatas, maka kami juga perlu menyeleksi barang dan perlengkapan sesuai kebutuhan dasar dan survival kit saja. Selain pakaian, jaket/sweater, dan perlengkapan pribadi, aku bersama krucil memasukkan korek/pemantik api, P3K, selimut, peluit, senter, kompas dan peta/GPS, pisau lipat, tali, dan jas hujan. Perlengkapan ini sering kali dibutuhkan ketika kita menghadapi kondisi darurat.



Survival kit perlu dipersiapkan ketika bertualang di alam bebas. (Foto: TigerDeals)


Tantangan Ketiga


Tantangan ketiga adalah cuaca yang kurang mendukung. Kami memang memutuskan untuk tetap berangkat meski kondisi cuaca masih dalam musim penghujan. Walaupun demikian, kami sebagai orangtua tetap mempersiapkan segala kebutuhan yang mungkin diperlukan bagi seluruh peserta, terutama anak-anak dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu untuk meminimalkan risiko. 



Penting untuk menyiapkan bekal yang cukup di segala kondisi. (Foto: IDN Times)


Kami bahkan menyiapkan satu kendaraan khusus pengangkut barang-barang yang diperlukan untuk mengantisipasi kondisi darurat, seperti sakit atau medan yang berbahaya. Sebagai mantan anggota komunitas mapala (mahasiswa pecinta alam), sahabatku memiliki perabotan yang relatif mendukung untuk kegiatan semacam ini. 


Tantangan inilah yang membuat kami harus memupuk sikap saling peduli satu sama lain karena gejala atau kondisi darurat yang muncul sekecil apa pun harus ditangani sebaik mungkin. Syukurlah, ada sahabatku yang juga seorang dokter sehingga pengetahuan dan keahliannya membuat tantangan ini bisa diatasi tanpa kendala. Bahkan, ketika trekking dan jatuh berguling-guling karena jalan licin di medan yang berlumpur, kami pun enjoy saja laaahhh ….


Tantangan Keempat


Tantangan keempat adalah medan yang relatif berat. Bukan saja pegunungan yang berbukit-bukit, tapi juga banyak area berlumpur dan basah karena hujan yang sering kali turun. Akibatnya, ada beberapa agenda yang kami batalkan karena risiko bahayanya terlalu besar, seperti berkunjung ke air terjun dan bermain di sungai. Tentu saja krucil merasakan kekecewaan, tetapi kami berusaha menjelaskannya bahwa faktor keselamatan jauh lebih penting. 



Petualangan menaklukkan medan berat menjadikan diri lebih tangguh. (Foto: graphicriver.net)


Sebagai gantinya, kami membuat kegiatan saling mengunjungi tenda, mengobrol, atau bermain bersama sambil makan camilan yang dibawa dari rumah masing-masing. Saling berbagi pengetahuan tentang alam, cerita lucu, dan camilan benar-benar menjadi ajang yang merekatkan tali persahabatan menjadi semakin erat. Jika masih banyak yang malu-malu, tawarkan saja OREO Wafer. Biasanya sih langsung "meleleh", heuheuheu.


Anakku yang hobi menggambar membuat ilustrasi tentang menjaga kebersihan dan melestarikan lingkungan. Gambarnya itu menarik perhatian teman-temannya sehingga makin semangat untuk menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah bekas, termasuk bungkus camilannya sembarangan. 


Mereka juga suka mendengarkan dan berdiskusi dengan Kak Adi, penjaga bumi perkemahan kami tentang cara menghijaukan Bumi. Basecamp-nya menjadi satu dengan kedai yang menjual aneka panganan atau camilan tak jauh dari tenda kami. Jadilah basecamp itu sebagai tempat favorit para krucil jika pas hujan turun.


Ternyata Kak Adi adalah aktivis yang sering mengikuti kegiatan konservasi dan reforestasi. Ia bersama komunitasnya melakukan penanaman bibit pohon dan dibagikan ke berbagai wilayah yang perlu dikonservasi. Seru banget lho dengar obrolan mereka (soalnya aku ikut menguping). Hasilnya, hingga kami bersiap pulang, lokasi kami berkemah tetap bersih dari sampah dan tidak ada yang rusak!


Tantangan Kelima


Uniknya, sekaligus juga menjadi tantangan, para peserta yang ikut dalam petualangan berkemah itu tidak seluruhnya sudah saling mengenal satu sama lain sejak awal. Sebagian besar peserta memang sudah pernah dipertemukan sebagai anggota yang sama-sama menitipkan anak-anak mereka di sebuah Children Day Care di Surabaya. Bagi anak-anak yang pernah dititipkan mungkin relatif lebih mudah beradaptasi. Namun dalam petualangan kali ini, anakku menjalani pertemuan pertama dengan teman sebayanya dan baru saling mengenal di tempat ini.


Hal yang mengagumkan adalah anak-anak itu cepat sekali beradaptasi dan menjalin pertemanan. Keseruan dalam bertualang bersama ternyata bisa menjadi penyegaran sekaligus momentum yang tepat membangun kedekatan antarpeserta. Mereka tahap demi tahap bisa saling mengenal, memahami, saling mendekatkan diri, saling menolong, saling menguatkan, dan saling berbagi satu sama lain sehingga menciptakan kenangan indah bersama-sama. Persahabatan anak-anak itu bahkan tetap bertahan hingga kini, dan semoga untuk selamanya.


Tantangan Keenam 


Tantangan keenam adalah camilan. Yes, tantangan ini bagi kami nggak kaleng-kaleng alias nggak biasa saja. Sebagai anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan dan menjalani kegiatan di cuaca yang super adeeem, para krucil mudah sekali merasa lapar. Sebagian besar dari keluarga peserta petualangan berkemah ini bahkan sudah menyiapkan atau membawa bekal camilan secara khusus yang jumlahnya seperti mau buka toko camilan di hutan, hahaha.


Tahukah camilan apa yang sebagian besar ada di tas mereka? Yups, betul banget. OREO dengan segala jenis atau variannya, termasuk OREO Wafer! Aku sih nggak heran semua ini terjadi. OREO Wafer adalah produk inovatif dari merek terkenal OREO yang dimiliki Mondelez. OREO Wafer ini menggabungkan rasa ikonik biskuit OREO dengan lapisan wafer renyah di antara krim vanila yang lembut. Jangankan anak-anak, kami yang dewasa pun menjadikan OREO Wafer sebagai camilan favorit. Jadilah kami rebutan ketika satu per satu bungkus OREO Wafer dibuka.



Dua varian OREO Wafer; choco vanilla dandouble choco. (Foto: Shopee Indonesia)


Tentu saja tekstur yang unik membuat OREO Wafer jadi camilan favorit bagi seluruh keluarga, wa bilkhusus, anak-anak. OREO Wafer kini telah menjadi bagian tak terpisahkan yang selalu hadir melengkapi setiap momen kebersamaan dan keceriaan keluarga Indonesia, seperti halnya saat kami berkemah. Saat suatu tugas atau tantangan selesai dalam petualangan anak-anak kami di Wonosalam itu, menikmati OREO Wafer bersama-sama menjadi another level of joy together.


Tantangan Ketujuh


Tantangan terakhir adalah keluar dari zona nyaman. Apa yang membuat kita nyaman? Inilah yang harus kami taklukkan setelah sekian lama berada dalam kenyamanan hidup sehari-hari. Tidur, makan, minum, berjalan, bermain, belajar dan lain-lain yang setiap hari dijalani sudah menjadi rutinitas dan pola yang teratur. Beranikah kita keluar dari zona nyaman itu?


TS Eliot, seorang penulis dan penyair yang juga pemenang Nobel bidang sastra pernah mengatakan, “Hanya mereka yang mengambil risiko melangkah terlalu jauh yang mungkin bisa mengetahui seberapa jauh mereka bisa melangkah.” Nah, rasa takut dan ketidaknyamanan yang bisa membuat adrenalin terpacu ini membuat kita sering merasa ragu dengan seberapa besar kemampuan yang sebenarnya kita miliki. Oleh sebab itulah, petualangan merupakan salah satu upaya untuk “break the limit” atas kemampuan diri. Hal ini perlu diajarkan kepada anak-anak agar mereka menjadi generasi yang tangguh.


Pertemuan pertama kali, atau bertemu setelah sekian lama terpisah, atau bahkan memelihara persahabatan merupakan suatu hal yang juga bisa kita lakoni dengan penuh kegembiraan. Merasa asing dengan keberadaan seseorang bisa dicairkan melalui momen keseruan dan kisah petualangan bersama sebagaimana Sherina yang sudah menjadi seorang jurnalis dan Sadam, seorang manajer di LSM konservasi alam di film Petualangan Sherina 2 yang bisa kembali membangun kedekatan setelah 23 tahun berpisah. 



Bertualang dengan gembira semakin mengeratkan persahabatan. (Foto: hadenaindonesia.co.id)


OREO Wafer Menjadi Sahabat untuk Menemani Petualangan Seru


Ketika aku bertanya pada kedua krucilku apakah mereka kapok setelah ikut petualangan berkemah di Wonosalam, jawaban mereka bikin mindblowing. “Enggak kapok kok, Bunda. Kan kemarin kita petualangan di gunung, gimana kalau liburan besok kita petualangannya berkemah di pantai? Kayaknya bakalan seru juga.” Aku langsung tepok jidat. Ternyata mereka nggak ada kapok-kapoknya blasss  ….


Nah, mumpung film Petualangan Sherina 2 yang berkolaborasi dengan OREO Wafer sedang hype nih, kita juga bisa ikut merasakan keseruan challenge Petualangan OREO Wafer dengan berburu varian produk OREO Wafer apa saja di toko langganan atau yang terdekat mulai 1 September hingga 31 Oktober 2023. 


Selanjutnya, kita bisa mengirimkan gambar OREO Wafer ke nomor Whatsapp: 0812-6888-1259 (atau dengan memindai kode QR pada kemasan) untuk ditukar dengan nomor undian. Untuk lebih jelas lagi, kita bisa lihat mekanisme selengkapnya di: https://www.instagram.com/p/CxISQpsr8Dh/.



Hadiahnya enggak main-main lho. Semakin banyak jumlah pembelian, maka peluang memenangkan berbagai hadiah menarik yang akan diundi dua mingguan ini semakin tinggi. Ada  iPhone 14, Nintendo Switch, dan merchandise eksklusif OREO Wafer X Petualangan Sherina 2. Hadiah puncaknya, jrengjrengjreng … dua tiket Meet & Greet bersama Sherina (Sherina Munaf) & Sadam (Derby Romero). Uwooowww, tiket ini jelas patut untuk diburu dooong …! 



Nikmatilah petualanganmu dan temukan dirimu yang baru. (Foto: wisatahalimun..co.id)


Betul, bahwa petualangan yang sudah kami jalani di Wonosalam mengajarkan banyak hal; mencintai alam, mencintai sesama, mencintai kehidupan. Kita juga enggak akan pernah tahu rasanya suatu petualangan jika tak pernah memulainya. Tak perlu takut, tak perlu terburu-buru, nikmati saja momen demi momennya. Bukankah perjalanan seribu mil dimulai dari satu langkah kecil? Yuk, kita lakukan petualangan lagi.


Ku berjanji wahai gugusan misteri. 

Kenangan indah ini akan abadi.”

(Lagu: Gugusan Bintang – Petualangan Sherina 2)


Para pengendara mobil atau motor yang menyusuri jalan raya sepanjang Tikung (Lamongan) hingga Ploso (Mojokerto) menuju Diwek (Jombang) di Jawa Timur mungkin akan merasa akrab dengan pemandangan indah jajaran hutan jati, pepohonan kayu putih, tebu, sorgum, persawahan, dan pinggiran Sungai Brantas. 

 

Santri adalah salah satu generasi penting bagi masa depan Indonesia. (Foto: IG Ponpes Fathul Ulum)


Pada musim kemarau, pemandangan tampak agak memerah karena tanaman dan rerumputan sebagian besar kering dan meranggas. Hal yang tersuguh di depan mata seperti tak jauh beda dengan pemandangan musim gugur di Pennsylvania, Amerika. Mungkin yang membedakan hanya cuaca terik yang “kenthang-kenthang” hingga terasa menyengat kulit meski sudah memakai sunblock (tabir surya).

 

Jalur Lamongan-Jombang yang dihiasi hutan jati meranggas di musim kemarau. (Foto: Pribadi)


Salah satu hal yang menarik perhatian adalah pemandangan figur-figur yang mengelola hutan dan persawahan sepanjang jalur perjalanan itu. Mereka tampak sudah setengah baya, atau bahkan sebagian besar sudah mulai sepuh. Tak banyak tampak anak muda yang ikut bergelimang tanah atau tanaman di sana. 


Mungkin pemandangan ini juga yang mengusik batin seorang Rizki Hamdani, peraih Apresiasi 11th Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2020 kategori bidang lingkungan sebelum akhirnya ia membuat sebuah gebrakan untuk mengangkat citra petani muda milennial berwawasan ramah lingkungan.


 Rizki Hamdani. (Foto: Satu Indonesia Awards)


Berawal dari Keresahan Berujung Upaya untuk Memberdayakan


Rizki yang merupakan putra asli Bireun, Aceh mungkin tak pernah menyangka jalan hidupnya akan sampai pada fase di mana ia bertempat tinggal di Jombang, daerah yang sangat dikenal sebagai Kota Santri. Ketika ikut serta temannya untuk sambang saudaranya ke pondok pesantren di kota ini, hatinya tertambat pada Silvia Nur Rochmah, seorang santri cantik asal Jombang yang kelak menjadi istrinya. 


Setelah pernikahan telah berjalan beberapa waktu, ia memutuskan untuk mundur dari tempat bekerjanya di Jakarta. Ia kemudian pindah ke Jombang, daerah tempat kelahiran istrinya, dan mulai berwirausaha dengan melakukan budidaya ikan lele yang kemudian berkembang dengan sangat baik.


Pada masa-masa itulah, ia sering berkeliling di daerah sekitar tempat tinggalnya dan menyaksikan dunia pertanian yang semakin lama semakin terpinggirkan akibat tidak ada regenerasi para petani yang telah berusia senja. Petani di mana pun memang menjadi sebuah profesi yang saat ini sangat krusial, dalam artian rumit, tetapi sangat menentukan kehidupan masyarakat. 

 

Sawah menanti untuk ditanami bibit padi. (Foto: IG Ponpes Fathul Ulum)


Melihat fenomenanya, banyak generasi muda yang cenderung kekurangan minat di dunia pertanian. Mereka menghindari profesi petani karena telanjur identik dengan pekerjaan yang kasar, kurang keren, dan dianggap belum dapat dijadikan sebagai sandaran hidup. Anak-anak muda lebih banyak yang memilih untuk menjadi karyawan atau buruh di pabrik ketimbang menjadi petani. 


Hati kecilnya terketuk. Bagi Rizki, keadaan ini sangat mengkhawatirkan karena jika diabaikan masa depan pertanian terlihat sangat suram. Padahal pertanian adalah penghasil makanan dan kehidupan bagi umat manusia. Potensi bidang pertanian juga sangat besar di mana Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia di sektor agribisnis ini sangat tinggi.


Ia merasa garis takdirnyalah yang mempertemukannya dengan beberapa santri dari Pondok Pesantren Fathul Ulum atau dikenal dengan Pondok Gardu Laut. Mereka sering datang untuk melihat, berkunjung, dan akhirnya belajar di tempat Rizki membudidayakan lele. 

 

Rizki dan para santri binaannya. (Foto: Kukuh Bhimo Nugroho)


Mereka ternyata juga melakukan budidaya yang sama di pondok pesantren (ponpes) tempat mereka mondok. Kabar tentang aktivitas mereka akhirnya sampai kepada pengasuh Pondok Pesantren Fathul Ulum, KH Ahmad Habibul Amin (Kiai Amin). Mereka pun kemudian sepakat untuk bertemu dan membicarakan usaha tersebut.


Pertemuan yang Membangkitkan Semangat Untuk Hari Ini dan Masa Depan Indonesia


Pesantren Fathul Ulum termasuk kategori pesantren salaf dan (saat ini) memiliki sekitar 340 santri putra dan putri. Pondok pesantrennya terletak sekitar delapan kilometer arah selatan makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) atau tepatnya di Desa Puton, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pondok pesantren yang lokasinya dekat dengan perkampungan ini sebelumnya sudah memiliki wirausaha, tetapi belum berkembang. 


Menurut Rizki, pondok pesantren yang jumlahnya cukup banyak, termasuk di Jombang, Jawa Timur bisa menjadi target yang potensial untuk meregenerasi sistem pertanian. Tetapi saat itu ia masih belum membuat konsepnya secara sistematis.


Pada pertemuan atau kunjungan pertama di tahun 2016 itu, Rizki dan Kiai Amin setuju untuk saling berkolaborasi atau bekerja sama serta berbagi peran. Rizki diminta membantu untuk membangun sisi entrepreneur di kalangan santri yang sudah dirintis Kiai Amin agar beliau bisa fokus pada sisi pendidikan para santri di pondok pesantren tersebut. 

 

Rizki dan Kiai Amin saling sinergi dan kolaborasi. (Foto: Kukuh Bhimo Nugroho)


Rizki yang merupakan alumnus Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi ”konsultan” tidak resmi bagi santri Ponpes Fathul Ulum selama beberapa tahun. Kiai Amin mempercayakan Rizki Hamdani untuk menjalankan program santripreneur dan pesantrenpreneur karena melihat sosok Rizki yang kapabel dan terbukti jujur serta istiqamah atau pantang menyerah.


Sinergi dan kolaborasi dari keduanya di kemudian hari melahirkan banyak pencapaian yang melahirkan berbagai manfaat, baik bagi santri di pondok pesantren Fathul Ulum maupun masyarakat sekitarnya.


Menggugah Santri Untuk Menjadi Petani dan Pengusaha Milenial yang Sadar Lingkungan


Pada tahun 2018, Ponpes Fathul Ulum masuk dalam program Desa Sejahtera Astra (DSA). Pengaruh dari program santripreneur dan pesantrenpreneur itu ternyata menjadikan Ponpes Fathul Ulum berhasil meraih juara III dalam KBANNOVATION dengan tema ”Inovasi Kita, Inspirasi Negeri” pada tahun 2019. 


Desa Sejahtera Astra (DSA) di Ponpes Fathul Ulum itu merupakan program yang termasuk program berkelanjutan dari pemerintah dan juga menjadi salah satu program Corporate Social Responsibility (CSR) yang diberikan oleh Astra Internasional kepada beberapa pondok pesantren, salah satunya Ponpes Fathul Ulum Jombang, Jawa Timur.


Para santri tengah berkebun. (Foto: IG Ponpes Fathul Ulum)


Selanjutnya, Rizki membantu membuatkan konsep pengembangan santripreneur (santri yang berjiwa pengusaha) dan pesantrenpreneur (pesantren yang menjadi kekuatan ekonomi) dengan menambahkan sosiopreneur untuk aktivitas santri di pesantren yang memberi manfaat bagi masyarakat di sekitar ponpes tersebut. 


Oleh karena itulah, muncul gagasan atau ide untuk membentuk sebuah kelompok wirausaha bernama Kelompok Santri Tani Milenial (KTSM) di Pondok Pesantren Fathul Ulum, Jombang. Rizki bersama ponpes tersebut menggerakkan program untuk mengelola usaha pertanian ramah lingkungan atau disebut dengan Sistem Pertanian Terpadu (Integrated Farming System/IFS). 


Sistem pertanian terpadu di KTSM ini memadukan komponen pertanian, perikanan, peternakan, dan lingkungan. Misalnya, limbah air kolam ikan lele disalurkan sebagai pupuk tanaman atau mengembangkan batang pohon sorgum untuk pakan ternak. Pengolahan limbah ini memiliki keuntungan ganda, baik dari sisi pelestarian lingkungan maupun pemberdayaan ekonomi. Pembuatan pupuk organik ini juga sangat mendukung kemandirian Ponpes Fathul Ulum, terutama setelah didukung dan dibina oleh Yayasan Bengkel Bumi Indonesia.

 

Santri tidak lagi mengandalkan pupuk dari pabrik. (Foto: Kukuh Bhimo Nugroho)


Dalam perjalanannya menggerakkan program KTSM, Rizki Hamdani juga memperhatikan segi sosiopreneur, yaitu aktivitas santri di pesantren yang memberi manfaat bagi masyarakat di sekitar ponpes tersebut, khususnya terhadap lingkungan. Selain penggunaan Sistem Pertanian Terpadu atau Integrated Farming System (IFS), upaya Rizki untuk meningkatkan kualitas lingkungan juga dengan membina para santri menanam 90 ribu bibit sengon yang dibagikan gratis untuk masyarakat di tiga desa. 


Terkait upaya ini, Rizki mendapatkan bantuan yang berasal dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berkat mediasi salah satu anggota anggota Komisi IV DPR RI yang membidangi pertanian, lingkungan hidup dan kehutanan serta kelautan dan perikanan.


Melalui mediasi tersebut, KSTM mendapat bantuan program Kebun Bibit Rakyat senilai Rp350 juta untuk pengadaan 210 ribu bibit sengon dan jati. Bantuan dibagi buat tujuh kelompok KSTM, di mana para santri di tujuh pesantren bertugas menyiapkan bibit-bibit tersebut, termasuk 90 ribu bibit sengon di Fathul Ulum tadi.

 

Rizki, Kiai Amin, dan beberapa santri Ponpes Fathul Ulum. (Foto: Kukuh Bhimo Nugroho)


Rizki juga mendapatkan berbagai dukungan, di antaranya dari Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai serta Hutan Lindung Brantas, Bupati Jombang, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan Gubernur Khofifah dengan program One Pesantren One Product (OPOP) yang memiliki tiga pilar yakni santripreneur, pesantrenpreneur, dan sosiopreneur


Bersinergi dan Berkolaborasi Demi Mencetak Generasi Anfa’ (Lebih Berdaya dan Bermanfaat)


Rizki yang kini  telah dikaruniai tiga orang anak itu selalu rutin datang ke Ponpes Fathul Ulum. Ia telah diberi amanah oleh Kiai Amin sejak 2016 dan berkomitmen untuk membantu mengelola dan sekaligus membimbing para santri agar piawai bertani dan beternak sekaligus mengajarkan manajemen usahanya. Amanah ini dilakoni Rizki sepenuh hatinya karena ia mengakui telanjur jatuh cinta pada dunia wirausaha dan pertanian.

 

Santri memiliki waktu khusus untuk mengurus wirausahanya. (Foto: Kukuh Bhimo Nugroho)


Rizki dan Kiai Amin bersepakat bahwa para santri harus menjadikan Ponpes Fathul Ulum sebagai laboratorium demi menemukan dan mengasah gairah pertanian mereka. Tujuannya, agar mereka kelak bisa menjadi pengusaha mandiri yang justru membuka lapangan kerja dengan mempekerjakan orang dan bukan sebagai pencari kerja. Pesantren juga harus memiliki usaha produktif agar para santri bisa memperoleh penghasilan sendiri dan tidak selalu bergantung pada kiriman orangtuanya.

 

Puluhan sapi dirawat oleh para santri. (Foto: Kukuh Bhimo Nugroho)


Pondok Pesantren Fathul Ulum yang juga dikenal dengan nama Pondok Gardu Laut ini merupakan ponpes pertama yang menjadi proyek percontohan. Tidak semua ponpes melakukan seluruh empat komponen usaha karena disesuaikan dengan bidang dan kapasitasnya masing-masing. Oleh karena itu, keuntungan yang diperoleh setiap ponpes pun berbeda-beda.


Ponpes Fathul Ulum memiliki kandang dan lahan pertanian di areal pesantren seluas 2,5 hektare. Para santri setiap hari beraktivitas memelihara dan mengurus sekitar 250 bebek pedaging, 30 kambing, 16 sapi potong, berbagai jenis ikan seperti ikan patin, lele, nila, dan mujair di 40 kolam bioflok atau kolam buatan beralas terpal berdiameter 4 meter dan kedalaman 1 meter. 

 

Kolam-kolam bioflok tempat memelihara ikan. (Foto: IG Ponpes Fathul Ulum)


Ada pula santri yang menanam tomat, cabe, terong, kol, bibit durian juga sengon. Para santri beraktivitas bertani, berkebun, atau beternak setelah selesai kegiatan shalat Subuh dan mengaji. Mereka mengikuti jadwal atau ritme yang telah disesuaikan agar kegiatan mencari ilmu dan usaha tersebut dapat dilakukan dengan pola saling mendukung satu sama lain.


Hal yang tak kalah penting adalah ketika para santri tersebut lulus, mereka tidak dilepas begitu saja. Mereka mendapat bantuan modal usaha di bidang pertanian, perkebunan, atau peternakan serta disiapkan pula life skill-nya agar dapat mandiri saat kembali ke masyarakat. Hal tersebut demi menghindari ketergantungan mereka terhadap pemberian orang ketika melakukan syiar atau dakwah. Mereka tidak akan menjadikan ayat-ayat Allah sebagai alat transaksional, seperti saat diminta ceramah, mereka tidak akan berharap mendapatkan amplop atau bayaran.


Di samping berwirausaha, Rizki juga menjadi Koordinator Fasilitator Lokal Desa Sejahtera Astra Pondok Pesantren Wilayah Jawa Timur. Ia bekerja sama dengan pondok pesantren menyediakan fasilitas berupa kolam, bibit, dan pakan ikan. Para santri juga diberi kebebasan memilih bidang sesuai passion dan tidak ada paksaan. Mereka diharapkan sudah memiliki usaha sendiri ketika lulus pesantren dan kembali ke masyarakat.


Ketika mereka memilih suatu bidang yang mereka minati, mereka akan dibantu melalui diskusi untuk membuat rancangan usaha, besaran modal, analisis keuntungan maupun kerugiannya beserta risikonya. Melalui program Kelompok Santri Tani Milenial ini, Rizki juga memutus mata rantai distribusi atau perdagangan yang selama ini terlalu panjang. Tujuannya agar santri bisa mendapatkan penghasilan yang lebih baik ketika masa panen tiba. Misalnya, mereka bisa langsung menjual hewan ternaknya ke rumah potong hewan tanpa harus melalui tengkulak.


Santripreneur Bergulat dengan Tantangan dan Harapan


Rizki bersama pondok pesantren juga membentuk Badan Usaha Milik Pesantren (BUMP). Lembaga ini dibuat dengan tujuan memisahkan harta kekayaan milik pesantren dengan harta milik kiai (pengasuh ponpes) sehingga tidak saling bercampur aduk dan bisa menjadikan pesantren lebih mandiri. BUMP juga bukan bertujuan sekadar mencari keuntungan, tetapi hal yang lebih utama adalah mencetak santripreneur andal.


Nikmati mengaji, nikmati pula dunia peternakan. (Foto: Kukuh Bhimo Nugroho)


Para santri yang mengikuti program KTSM akan mendapatkan hasil dari penjualan panen mereka. Pembagian tersebut memiliki besaran 35% untuk santri, 25% untuk Badan Usaha Milik Pesantren (BUMP), 30% untuk investor, dan 10% untuk infak. Mereka juga tentu tak lupa mengeluarkan zakat sesuai dengan ilmu agama yang telah diajarkan di pondok pesantren.


Sedekah (infak) ini diberikan untuk menyubsidi para santri kecil-kecil atau santri yang berasal dari kalangan kurang mampu secara ekonomi. Dengan demikian, mereka benar-benar menerapkan prinsip yang diajarkan di pondok pesantren yang menyatakan bahwa manusia yang terbaik adalah mereka yang anfa’ atau memberi manfaat lebih bagi manusia lainnya. 


Di sisi lain, pesantren salaf (khusus mempelajari ilmu-ilmu agama Islam) yang masih dipandang mayoritas masyarakat sebagai pesantren kelas dua karena tak memiliki pendidikan umum (formal) sebagaimana pesantren modern turut terangkat melalui program ini. Adanya santripreneur dan pesantrenpreneur di Ponpes Fathul Ulum menunjukkan bahwa pesantren salaf juga sangat layak dipertimbangkan. 


Santri tetap bisa memperoleh ijazah SD, SMP, atau SMA, melalui program kelompok belajar (kejar) atau pendidikan kesetaraan. Penerapan santripreneur juga membuat dua universitas di Jombang tertarik dan memberikan beasiswa untuk kuliah di Fakultas Pertanian, yaitu di Program Studi Teknologi Pertanian Universitas KH Wahab Hasbullah (Unwaha) dan di Program Studi Agribisnis Universitas Darul ‘Ulum (Undar). 


Biaya hidup sebulan di pesantren, termasuk biaya belajar, mondok, makan, dan membeli berbagai keperluan seperti sabun dan odol tercukupi dari hasil wirausaha para santri tersebut di unit usaha BUMP. Rata-rata sebulan mereka bisa mendapat bagi hasil Rp500 ribu sampai Rp1 juta tergantung hasil panen dan kondisi pasar. Mereka juga bisa menabung dan mempergunakan uangnya untuk keperluan mengaji atau kuliah, seperti membeli buku atau fotokopi.

 

Para santri bisa mandiri dengan berwirausaha pertanian. (Foto: Ponpes Fathul Ulum)


Para santri yang bergabung dengan KTSM kini semakin mandiri dan tidak mengandalkan kiriman dari orangtuanya karena kebutuhannya sudah dicukupi dari hasil wirausaha mereka. Omzet yang dihasilkan oleh para santri Pondok Pesantren Fathul Ulum bisa mencapai ratusan juta per bulan. Bahkan kelompok tani sorgum bisa meraih omzet hingga Rp60 juta per bulan. Hal tersebut dicapai setelah mereka diberi fasilitas pengolahan pascapanen untuk menjual produk olahan sorgum di area peristirahatan (rest area) di Tol Trans Jawa.


Ada sekitar 40 KSTM –di mana satu KSTM beranggotakan 15-20 orang– dari sekitar 20 ponpes di Jombang yang telah terdaftar sebagai anggota hingga saat ini. Hal yang menggembirakan, anggota KSTM tersebut tidak terbatas dari para santri yang masih belajar di pondok, tetapi ada juga yang merupakan alumni pondok pesantren. Setidaknya sudah lebih dari 500 santri yang bergabung dalam KTSM ini.


Ikhtiar Rizki yang didukung Kiai Amin menjadikan Ponpes Fathul Ulum proyek percontohan (pilot project) santripreneur dan pesantrenpreneur membuat beberapa pengasuh pesantren salaf lain mulai melirik. Beberapa ponpes yang tergabung di KSTM, di antaranya Pesantren Al-Falah Kecamatan Perak asuhan Kiai Nasichudin, Pesantren Sunan Kalijogo Kecamatan Kesamben asuhan Kiai Nurul Zuhda, Pesantren Fatahul Mubin Kecamatan Wonosalam asuhan Kiai Basuki, dan Pesantren Al-Idrisiyah Kecamatan Megaluh asuhan Kiai Hadiono.


Dukungan dari Kiai Amin yang merupakan pengurus Rabithah Ma’ahid Al-Islamiyah Nahdhatul Ulama (NU) Jawa Timur bidang perekonomian dan kerja sama pesantren memberikan suatu keberuntungan bagi Rizki. Kiai kelahiran Cepu, Jawa Tengah ini tentu memiliki relasi kuat di antara pengasuh pesantren di Jombang. Dukungan tersebut membuat mimpi Rizki melahirkan petani-petani muda andal mulai menampakkan hasil. 

 

Santri masih butuh dukungan, termasuk dalam teknologi pertanian. (Foto: IG Ponpes Fathul Ulum)


Impian untuk berinteraksi dengan para petani milenial yang merupakan kalangan santri diyakini Rizki semata takdir Allah. Ia merasa diberi kemudahan oleh Allah di mana tugasnya justru menjadi lebih ringan karena para santri pasti mengikuti apa yang diperintahkan oleh kiainya, termasuk untuk mempelajari wirausaha pertanian.


Meski demikian, Rizki mengakui bahwa program santripreneur ini pun tak lepas dari berbagai tantangan. Banyak hal yang masih membutuhkan solusi dan penanganan agar program ini dapat terus berlanjut. Beberapa kendala sering dihadapi sehingga membuat para santri perlu mendapat suntikan semangat dan optimisme. 


Kendala yang hingga kini menjadi tantangan Rizki antara lain hasil panen yang mengalami pasang surut sehingga berimbas pada besaran penghasilan para santri, terbatasnya alat atau teknologi pertanian dan peternakan yang digunakan, ancaman gagal panen yang kadang kala di luar kendali sebagaimana halnya cuaca atau hama, serta penanganan sisi psikologi atau kepribadian santri yang masih muda dan masih suka bermain.


Usia mereka yang masih sangat muda dan belum banyak pengalaman hidup membutuhkan bimbingan lumayan besar agar benar-benar dapat menjaga semangat wirausaha mereka. Di sinilah pentingnya sinergi dan kolaborasi pendidikan di pondok pesantren, khususnya Pondok Pesantren Fathul Ulum dengan KTSM. 

 

Santri selalu dibimbing, baik sisi tarbiyah maupun enterpreneur. (Foto: IG Ponpes Fathul Ulum)


Para santri dipersiapkan dari sisi tarbiyah/pendidikan lebih dulu berupa ilmu dan kemandirian, lalu dianalisis sebelum mereka dinyatakan mampu melanjutkan ke program santripreneur. Rizki menyatakan bahwa ia sangat bersyukur dapat membuat program yang tepat sasaran dan memiliki social impact (dampak sosial) yang besar sebagaimana telah mereka rasakan bersama. Saat ini Rizki dan KTSM masih terus mengepakkan sayap dan sedang bekerja sama secara intens dengan Universitas Surabaya (UBAYA) dan beberapa perusahaan.


Apresiasi Astra yang Semakin Mengobarkan Semangat dan Inovasi


Santri dan pondok pesantren telah terbukti menjadi salah satu kekuatan besar sejak masa perjuangan yang rela mengangkat senjata melawan penjajah di bumi Nusantara. Hari Santri yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober adalah salah satu bentuk pengakuan dan penghargaan negara atas peran santri dan kiai di pondok pesantren yang tertuang dalam Keppres RI Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri.

 

Kini, perjuangan para santri dan kiai telah berubah bentuknya. Santri dan kiai kini berjuang untuk mengisi kemerdekaan dengan membangun masyarakat dan negara di segala bidang kehidupan. Pondok pesantren masih dianggap sebagai salah satu institusi pendidikan yang dapat diandalkan untuk melahirkan generasi yang memiliki ketinggian akhlak dan keilmuan.

 

Masa depan pertanian Indonesia juga berada di tangan para santri (Foto: Ponpes Fathul Ulum)


Saat ini, santri yang masuk dalam generasi milennial dan gen Z jumlahnya cukup signifikan. Kementerian Agama mencatat bahwa pada 2022/2023, pesantren di Indonesia mencapai 39.043 dengan 4,08 juta orang santri. Jumlah yang besar tersebut memperlihatkan bahwa kedudukan santri dan ponpes juga semakin urgen. 


Semangat Rizki Hamdani dalam melahirkan santripreneur dan pesantrenpreneur melalui KSTM yang kini beranggotakan sekitar 800 santri yang terbagi dalam 40 kelompok dari 20 pesantren salaf di Jombang dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup memang sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) dan cita-cita Astra untuk Sejahtera Bersama Bangsa.

 

Rizki dan sapi di lahan peternakan Ponpes Fathul Ulum. (Foto: Rizki Hamdani)


Rizki mengungkapkan bahwa ia sangat bersyukur memperoleh anugerah SATU Indonesia Awards bidang lingkungan tahun 2020. Ia pun berterima kasih kepada PT Astra Internasional Tbk yang menjadi titik awal di mana ia mengembangkan program ini sehingga menjadi seperti sekarang. Kiai Amin sebagai partner Rizki dalam mengelola santripreneur juga mengungkapkan bahwa dengan perjuangan Rizki yang demikian besar, sungguh layak jika ia dianugerahi SATU Indonesia Awards. Rizki sanggup istiqamah karena mengurus santri dan banyak orang secara sosial itu sangat berat dan memang tidak mudah. 


Melihat kontribusi nyata dari Rizki, kita percaya bahwa di luar sana masih terdapat banyak generasi muda yang bisa menjadi agen perubahan ke arah yang lebih baik. Lahirnya petani-petani milennial yang bangga dengan profesinya dan memiliki semangat untuk hari ini dan masa depan Indonesia rasanya kini bukan menjadi angan-angan belaka. Dari bumi Jombang kita berharap para santri yang peduli lingkungan demi kehidupan umat manusia akan mampu menebar manfaat bagi sekitarnya, di mana pun mereka berada.


DUDUK LESEHAN di saung depan rumah ditemani singkong keju, kacang rebus, atau camilan lain diselingi menyeruput secangkir kopi atau teh saat senja hari sungguh sangat mengasyikkan. Sering kami menjadikan momen tersebut sebagai ajang bertukar pengalaman, berdiskusi, bercanda, atau sekadar curhat. Kompleks perumahan yang mungil mendadak sejuk karena family time berkualitas.



Namun senja itu, momen berkumpul bersama dua krucil agak melow dan membuat kening kami kembali berkerut. Siang sepulang sekolah, Xi sulung telah melaporkan bahwa ia mendapatkan (lagi) perlakuan yang tidak menyenangkan berupa kekerasan fisik (ditendang) dan verbal (diejek) oleh temannya. Kami pun tidak menyia-nyiakan momen itu dengan segera mencari jalan keluar dari masalah tersebut. Ini memang bukan kali pertama ia mengalami perundungan yang cukup serius. 

Sejujurnya, dalam hati kami pun merasa marah dan kecewa karena perundungan masih terus terjadi meski ia sudah pindah ke sekolah yang baru. Untuk beberapa hari ke depan, Xi sulung meminta waktu beristirahat di rumah demi mengobati rasa sakit pada fisik, dan tentu juga menata hatinya. 



Pascakejadian tersebut, Xi sulung semakin sering curhat dan berkonsultasi mengenai hal-hal yang perlu ia lakukan menghadapi perundungan itu. Kami pun merasa gundah karena saat itu Xi sulung akan menghadapi pekan try out dan ujian akhir sekolah yang membutuhkan konsentrasi dan persiapan menuju jenjang pendidikan berikutnya. 

Kami tentu saja melaporkan perundungan tersebut kepada guru dan pihak sekolah. Akan tetapi, respon yang kami dapat justru relatif lebih mengecewakan ketimbang di sekolah yang lama. Entahlah, rupanya memang banyak hal yang harus dibenahi dalam dunia pendidikan dan literasi kita. Ternyata kesadaran (awareness), baik dari orangtua, guru, atau sekolah mengenai perundungan atau bullying ini masih terbilang rendah.  


Kami juga bertanya kepada Xi sulung apakah ia mampu untuk menghadapi hal tersebut hingga kelulusan nanti. Ia ternyata mengatakan sanggup mengatasinya dan peristiwa kemarin hanya membuatnya shocked sesaat. Ia berada dalam kondisi tidak siap ketika siswa itu menyerangnya.

“Seandainya aku tahu dia akan menyerang, mungkin aku siap melawan pakai jurus taekwondo, Bunda. Dia menyerang dengan tiba-tiba saat aku sedang mengobrol dengan temanku yang lain,” ujarnya sambil nyengir. Aku hanya sanggup mengangguk dan tersenyum dengan getir.


Jangan anggap sepele kesehatan mental anak

Masalah kesehatan mental belakangan ini semakin terasa urgen di tengah-tengah arus kehidupan masyarakat modern. Media sosial atau internet bahkan membuat isu ini semakin sulit dihindari. Kesehatan mental sangat penting untuk dimiliki oleh semua orang, termasuk anak-anak. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kesehatan mental adalah keadaan sejahtera di mana setiap individu bisa mewujudkan potensi mereka sendiri. Mereka dapat mengatasi tekanan kehidupan normal, dapat berfungsi secara produktif, dan bermanfaat serta mampu memberikan kontribusi kepada komunitas mereka.

Adapun kesehatan mental anak adalah bagaimana anak berpikir dan merasa mengenai dirinya sendiri dan dunia di sekelilingnya. Kesehatan mental ini berhubungan dengan bagaimana anak menghadapi tantangan dalam hidup. Anak-anak yang memiliki kesehatan mental baik akan mampu memahami dan menghadapi tantangan dari sekitarnya.

Sejujurnya, perundungan kali ini tetap membuatku khawatir akan memberi jejak trauma atau dampak pada dirinya. Aku selalu berdoa dan berharap ia #BisaJadiJADIBISA mengatasinya dengan baik serta mampu berdamai dan mencintai dirinya. Alhamdulillah, ia bahkan masih mampu dan berhasil memperoleh hasil nilai ujian tertinggi serta pencapaian tahfidz terbaik di antara teman-temannya. Setidaknya hal tersebut membuktikan bahwa Xi sulung mampu bertahan dan berdasarkan hasil pantauan, sejauh ini kami juga berhasil menjaga kesehatan mentalnya.

Merawat kesehatan mental anak demi tumbuh kembangnya

Berbeda dengan Xi sulung yang introver koleris, karakter Xi bungsu yang ekstrover plegmatis relatif lebih mudah menghadapi bullying karena mungkin ada pengaruh dari sikapnya yang lebih santai dan terbuka. Akan tetapi, upaya untuk mengatasi permasalahan demi kesehatan mental mereka tetap sama besar. Kami berusaha cepat tanggap ketika duo Xi memberikan sinyal-sinyal apabila terjadi sesuatu yang mengganggu dalam keseharian mereka, sekecil apa pun.   



Menurut American Federation of Teacher, ciri-ciri anak korban bullying di antaranya sering menyendiri, kurang keterampilan sosial, terlihat lemah secara fisik, sering menangis atau mudah menyerah, mengalami trauma, dan mengalami kesulitan belajar. Beberapa anak bahkan mengalami anxiety atau kecemasan setelah mendapatkan perlakuan bullying. Ciri-ciri anxiety antara lain merasa sulit berkonsentrasi, tidak makan dengan benar, cepat marah atau mudah tersinggung dan lepas kendali saat marah, terus-menerus khawatir atau memiliki perubahan pola pikir menjadi negatif, merasa tegang dan gelisah, sulit tidur, atau sering menggunakan toilet.

Ketika kami membahas hal ini bersama-sama, kami semua pada akhirnya memang harus menyadari bahwa kita tidak pernah tahu perilaku perundungan itu datang dari mana atau siapa. Oleh karena itu, kita harus terus menolak bullying di mana pun dan oleh siapa pun. Kita pun harus terus belajar dan siap menghadapinya serta selalu berusaha mengedukasi lingkungan kita agar perilaku perundungan (bullying) itu bisa dihilangkan. 



Awalnya, Xi sulung jujur mengakui bahwa ia memang merasa marah dan sedih, tetapi kini ia melihat teman-temannya dari sudut pandang yang lain. Bagi Xi sulung, pelaku perundungan (bullying) itu yang justru harus dikasihani. Mereka adalah anak-anak yang bermasalah. Rumi menceritakan bahwa sebagian besar teman sekolah yang suka mem-bully dirinya memang berasal dari keluarga yang kurang memberi perhatian dan kasih sayang, atau minimal ada pola asuh (parenting) yang kurang bagus. 

Mereka suka pamer barang-barang yang dimiliki, banyak bicara atau membual, tidak suka belajar, tidak suka berbagi atau membantu, bicara kasar atau mengejek, mudah marah atau tersinggung, sering kali mengganggu dan melakukan kekerasan serta sering berbicara tentang hal-hal yang tidak penting.  



Perilaku semacam itu merupakan beberapa manifestasi kurangnya kasih sayang dan perhatian akibat dari orangtuanya yang sibuk. Bentuk kepedulian orangtuanya hanya diwujudkan dengan memberi barang-barang mahal, seperti membelikan motor, smartphone, atau peralatan sekolah mewah tanpa ada interaksi yang intens di antara anak dan orangtua untuk memenuhi dahaga akan kasih sayang dan perhatian. 

Fakta yang banyak kami temukan ini membuat kami semakin yakin untuk menjadikan keluarga sebagai rumah yang nyaman bagi duo Xi, anak-anak kami. Keluarga adalah unsur yang utama karena dari sinilah semuanya berawal. Betapa terharu ketika duo Xi mengungkapkan rasa syukur karena memiliki kami sebagai orangtua mereka. 

Memasuki Tahun Ajaran Baru Dengan Gembira 

Anak-anak usia sekolah yang sebagian waktunya akan mereka habiskan di sekolah juga tak lepas dari kaitan dengan hak asasi anak untuk mendapatkan pendidikan dan pemeliharaan kesehatan mental. Tentu saja berbagai kondisi di sekolah akan menjadi tantangan tersendiri bagi anak, termasuk krucil kami. Terlebih ketika menghadapi situasi dan adaptasi di lingkungan sekolah (kelas) yang baru di mana bagi beberapa anak–bahkan bagi sebagian orangtua–suasana semacam ini mereka hadapi dengan tidak mudah. 

Ada beberapa tips yang sejauh ini berhasil diterapkan pada duo Xi dan bisa dilakukan kapan saja, termasuk pada saat menghadapi tahun ajaran baru. Kami meyakini bahwa tips ini memberikan pengaruh yang positif terhadap perkembangan dan kesehatan mental mereka, bahkan di saat-saat yang berat menghadapi perundungan (bullying).

1. Menjadi pendengar yang baik

Apa pun kondisinya, mudah atau susah, sedih atau gembira, kami sebagai orangtua harus menjaga anak-anak agar senantiasa merasa aman, nyaman, dicintai, disayangi, dan dihargai. Keluarga adalah rumah di mana seluruh anggota keluarga akan menjadikannya tempat untuk kembali. 

Rasa aman dapat diperoleh dengan menghindarkan anak dari situasi, baik secara fisik maupun emosi yang membahayakan. Hal ini bukan berarti anak selalu dalam kondisi steril dari tantangan di luar dirinya. Akan tetapi, pastikan orangtua menjadi orang pertama yang akan selalu siap sedia mendampinginya ketika terjadi sesuatu pada diri mereka.



Oleh karena itu, ketika memasuki tahun ajaran baru, kami berusaha menjadi pendengar yang baik mengenai segala hal yang mereka butuhkan atau sampaikan tanpa ragu atau sungkan. Rasa takut, rasa deg-degan, unek-unek, celoteh tentang pengalaman yang kira-kira akan mereka dapatkan, rencana yang mereka buat, dan lain sebagainya kami serap dan kami bicarakan dengan sangat terbuka. 

Memberikan afirmasi pada perasaan (emosi) mereka akan membuat mereka merasa bahwa ayah dan bundanya akan siap sedia mendampinginya sehingga mereka lebih aman, nyaman, dan berharga serta berani dan percaya diri.

2. Menjadi sahabat terdekat

Kami selalu berusaha untuk mendeteksi segala macam bentuk perubahan, baik fisik maupun emosi yang terjadi pada diri kedua krucil kami. Kami juga mengajarkan kepada mereka untuk mengelola dan tidak ragu mengekspresikan emosinya. Ketika mereka sedih, kecewa, marah, takut, gembira, antusias, dan lain sebagainya, mereka belajar mengungkapkannya dengan cara yang benar. Memang tidak mudah. Apalagi kami tinggal di daerah di mana ekspresi keakraban antara orangtua dan anak tidak bebas ditampakkan, seperti saling memeluk atau mengeluarkan pendapat. 

Pada beberapa kasus, ada anak yang mengalami masalah justru tidak dapat mengungkapkan masalahnya karena keluarga tidak (siap) menjadi garda terdepan untuk membela atau mendukungnya. Hal semacam ini akan semakin memperburuk kondisi kesehatan mental anak. Kami menempatkan diri sebagai sahabat terdekat anak-anak kami. Dengan demikian, ketika memasuki tahun ajaran baru dan bahkan sepanjang perjalanan mereka bersekolah, anak-anak kami tidak ragu untuk berbagi rencana dan pengalamannya dengan kami, sahabat terdekat mereka.

3. Menjadi teman bermain yang asik

Kami percaya bahwa anak-anak sering kali belajar dengan cara bermain. Bahkan Xi sulung yang sudah beranjak remaja masih sering kami ajak belajar melalui permainan. Sebagaimana diungkapkan oleh dr. Aisah Dahlan dalam bukunya Maukah Jadi Orang Tua Bahagia?, berbeda dengan anak perempuan, anak laki-laki masih lebih dominan otak kanannya sehingga cara belajar yang cocok bagi mereka adalah yang sesuai dengan otak kanan tersebut. 

Kami memegang prinsip bahwa semua tempat adalah sekolah, semua orang adalah guru, dan setiap kejadian yang dialami adalah pelajaran. Belajar dalam perspektif duo Xi bisa dilakukan di pasar, di masjid, di museum, di perpustakaan, di sawah, di stasiun, di dojang, di bank, di kafe dll, bahkan di ruang acara gelar wicara (talkshow) atau galeri.  


Mereka menunjukkan excitement dan antusiasme atas pengalaman tersebut. Dari mana kami bisa mengetahuinya? Tulisan pada diari yang sering mereka tunjukkan pada kami mengungkapkan segalanya.

4. Menjadi mentor yang tepercaya

Kami cenderung membatasi penggunaan gadget dengan membuat kesepakatan bersama secara tertulis mengenai penggunaannya dan memantau interaksi mereka di dunia maya. Waktu liburan mereka tidak terus-menerus terpaku pada gadget karena kami rutin berolah raga atau sekadar jalan-jalan di alun-alun pada pagi hari. Hal ini kami lakukan agar fisik mereka lebih sering bergerak dan bersentuhan dengan alam sehingga ketika masuk sekolah kembali, fisik dan mental mereka sudah siap dan senantiasa sehat. 

Jika memasuki sekolah baru (seperti ketika duo Xi masuk sekolah dasar atau Xi sulung pindah sekolah), kami ajak mereka berkunjung ke sekolah baru tersebut agar mereka dapat beradaptasi dengan suasananya. Mereka juga kami ajarkan cara berinteraksi dan beradaptasi dengan teman baru dan membuat kegiatan untuk mempersiapkan mental mereka dengan rutinitas jadwal sekolah. Beberapa hal yang tak kalah seru untuk dilakukan menjelang tahun ajaran baru adalah menggambar di karton jadwal pelajaran, membuat kata-kata motivasi, dan mencicil rutinitas yang dijalani seperti ketika kembali ke sekolah. Peran kami sebagai mentor ini masih terus kami lakukan dan menjadikan kami terus belajar agar menjadi lebih baik. 

5. Menjadi ATM (Anjungan Tempat Memberi/Meminta) 

Saya sependapat dengan KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha), salah satu ulama muslim terkemuka yang menyatakan bahwa orangtua hendaknya bisa mengawal anak-anak mereka sehingga #KarenamuJADIBISA menjadi tempat pertama dan utama di mana anak mengenal hal-hal yang baik (menyenangkan). Akan menjadi hal yang membahayakan apabila mereka menemukan atau mendapatkan hal-hal yang menyenangkan justru dari orang-orang di luar orangtuanya yang tidak mengampu nilai positif keluarga karena dari sanalah mereka menemukan figur yang akan menjadi panutannya. 


Setiap orangtua, termasuk juga saya pasti ingin memenuhi keinginan anak seperti saat memasuki tahun ajaran baru sepanjang mungkin bisa diusahakan, sesederhana meminta dibelikan kotak bekal makanan bergambar Spiderman atau membeli alat melukis berupa tablet/drawing pad untuk mereka membuat buku komik, misalnya. Konteksnya bukan berarti memanjakan tanpa batas. Akan tetapi, hal ini juga terkait dengan peran kami sebagai pendengar yang baik dan sahabat terdekat bagi anak-anak kami. 

Mereka secara terbuka dan tidak sungkan atau ragu menjadikan kami sebagai ATM (Anjungan Tempat Memberi/Meminta) apabila mereka memiliki keinginan. Tentu saja kemampuan dalam memenuhi keinginan tersebut juga kerap kami diskusikan karena hal ini menjadi bagian dari mereka belajar mengelola keuangan (manajemen finansial). 

Merayakan Back to School with Home Credit Indonesia

Apakah hanya anak-anak yang merasakan bahwa tahun ajaran baru adalah sesuatu yang memiliki daya tarik sekaligus menjadi tantangan bagi kesehatan mental mereka? hehehe. Tentu saja tidak. Orangtua pun bisa menjadi bagian dari perayaan datangnya tahun ajaran baru atau back to school setelah liburan panjang usai. 

Biaya pendidikan dan barang-barang kebutuhan yang harus dipersiapkan setiap tahun ajaran baru tentu membuat adrenalin para orangtua meningkat. Buku pelajaran, alat tulis sekolah, tas, sepatu, seragam, gadget, komputer/laptop, meja belajar, peralatan bekal/makan-minum, sepeda (kendaraan antar jemput), bahkan hingga alat elektronik dan alat memasak untuk membuat sarapan dan bekal agar memenuhi nutrisi yang baik rasanya menjadi benda-benda yang diperlukan menjelang para krucil kembali ke sekolah.  



Keriuhan dan kemeriahan back to school ini terasa semakin meriah dan semarak dengan hadirnya Home Credit Indonesia dalam perayaan JFK (Jakarta Fair Kemayoran). Acara ini cocok banget bagi para ibu dan keluarganya yang mengincar beragam program dan promo menarik, khususnya yang berkaitan dengan momentum back to school. Banyak barang yang bisa kita dapatkan dengan harga relatif hemat, bahkan mendapat hadiah jika beruntung ketika datang ke event ini. 

Saya sangat tertarik dengan event ini karena para pengunjung bisa mendapat pengalaman unik dan ada berbagai kegiatan menarik di booth Home Credit Indonesia selama JFK berlangsung. Mereka membagikan testimonial mengenai pengalaman mereka yang bikin mupeng pada berbagai akun media sosial Home Credit Indonesia atau di website www.homecreditindonnesia.co.id. 
 


Para pengunjung yang datang ke booth Home Credit Indonesia dapat memperoleh reward dengan mengisi form di https://bit.ly/42YPTyT. Mereka juga bisa mendapatkan merchandise eksklusif Home Credit dengan cara mengunduh my home credit di appstore/playstore. Booth Pesta Juara Home Credit di Hall A3, Jakarta Fair Kemayoran terlihat banjir hadiah. Ibu-ibu mana yang tidak tergiur kaaan? 

Pengunjung di booth bisa mendapat free snack dengan bermain games interaktif, hadiah langsung voucher MAP, dan merchandise eksklusif Home Credit untuk tiap transaksi minimal Rp3.000.000, dan masih banyak lagi hadiah lainnya, seperti smartphone OPPO A16 yang diundi setiap minggunya. Waaah, benar-benar bikin pengunjung tersuntik semangatnya untuk menyambut back to school. Selain itu ada hadiah spesial berupa logam mulia total 8,5 gram dan Samsung A13. 

Dulu, ketika kami masih tinggal di sekitar Depok dan Bogor, duo Xi juga suka berkunjung ke pameran atau festival untuk mengisi liburan. Namun bagi saya yang kini tinggal nun jauh di bagian timur Pulau Jawa tentu agak riweuh alias repot jika harus datang ke JFK. Tetapi sekarang kendala itu bisa diatasi karena meski kami tidak dapat hadir di booth Home Credit Indonesia, layanan cicilan Home Credit Indonesia juga bisa ditemukan di lebih dari 22 ribu toko di Indonesia sehingga Semua Kebutuhan Jadi Bisa Terpenuhi. 

Nah, bagi para orangtua yang mempersiapkan momen back to school pada tahun ajaran baru ini bisa mengunduh aplikasi Home Credit Indonesia untuk mendapatkan update promo terbaru dan penawaran yang sangat menarik. Jika kesehatan mental para krucil sangat penting dijaga untuk menghadapi kembali kegiatan belajar di sekolah dan menjalani tahun ajaran yang baru dengan gembira, maka Home Credit Indonesia juga bisa menjadi salah satu solusi bagi keluarga untuk menjaga kesehatan mental serta memenuhi kebutuhan demi memperlancar proses belajar putra putri mereka. 
Keluarga yang memiliki kesehatan mental terjaga tentu memberikan sumbangsih dalam lingkungan belajar yang sehat dan nyaman bagi buah hati mereka, di rumah maupun di sekolah. Sepakat?