IBU RUMAH TANGGA bisa produktif? Ini pertanyaan retoris karena fakta telah banyak membuktikan kebenarannya. Tanpa perlu berpanjang lebar, produktivitas perempuan sudah kita saksikan di mana-mana. Sebut saja teman saya, Bu Fahmi. Saat masih berjualan wingko di Bogor, saya mengenal pasangan Bu Fahmi dan Pak Fahmi yang menjual kue soes. Kami sama-sama menitipkan di sebuah lapak kue yang cukup ramai. Dari Bu Fahmi saya belajar tentang ketangguhan wanita yang ingin saya tiru.

Awal mula terjun ke bisnis kue basah terbilang tak sengaja, bahkan mungkin sebab kepepet. Mereka sekeluarga terbelit utang menumpuk sampai diteror oleh debt collector. Pak Fahmi bahkan pasrah dipukuli sebab tak punya lagi uang untuk dibayarkan. Setelah diadakan kompromi dan menjual aset yang mereka punya, keluarga itu pun pindah ke Bogor dari Tangerang. Mulai dari nol, tak tahu apa yang akan dikerjakan.

Saat itulah Bu Fahmi menyeruak jadi pahlawan keluarga. Bahkan saat jahitan pascamelahirkan belum sembuh betul, ia menyusuri toko-toko yang mungkin ia titipi kue buatannya. Dengan jalan kaki sebab mereka tak punya lagi kendaraan. Dia bertekad kuat untuk ikut menuntaskan masalah ekonomi dengan belajar membuat kue dari buku resep dan dari Internet. Ya, dari Internet! Dari sanalah ia merintis kesuksesan yang kini mereka cecap. Lambat laun banyak lapak dan kedai kue yang menampung soes buatannya yang memang enak. Pak Fahmi pun resign dan sepenuhnya membantu mengelola usaha yang kini beromset puluhan juta rupiah per bulan dengan aneka kue lainnya.

Alih-alih pindah ke apartemen karena ekonomi membaik, mereka lantas membuka beberapa lapak lagi agar penjualan bisa digenjot dan produksi ikut meningkat. Kedamaian ada di dalam hati di mana pun mereka tinggal atau memilih tempat untuk dihuni.




Dampak Covid-19 terhadap ekonomi

Dari situ saya merasa yakin bahwa potensi kaum wanita tak bisa dipandang sebelah mata. Buktinya, Pak Fahmi justru tertolong oleh kesigapan dan kekuatan istrinya yang notabene seorang wanita. Keterpurukan ekonomi sebuah keluarga, juga bangsa, saya yakin bisa dientaskan oleh keandalan wanita yang serbabisa. Bukan hanya mereka bisa multitasking--terbukti dari banyaknya pekerjaan domestik yang bisa di-handle--tetapi juga dari begitu banyaknya peran publik yang diemban oleh kaum hawa seperti Menteri Keuangan Sri Mulyani, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, juga Najwa Shihab yang kini menjadi idola.

Dampak wabah korona terhadap kehidupan kita memang luar biasa. Bukan hanya aktivitas fisik sosial yang dibatasi, tetapi sektor ekonomi juga terpukul cukup parah. Berdasarkan survei yang diadakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terhadap 1.548 responden di 32 provinsi, terungkap bahwa ternyata lebih dari 50 persen rumah tangga mengalami kesulitan keuangan akibat pandemi yang tak kunjung berakhir ini. Meskipun survei itu dirilis Agustus 2020, tetapi datanya masih relevan seiring perkembangan wabah terkini. Apakah kita cukup berharap agar pemerintah terus membantu publik dengan paket bantuan dan subsidi berbentuk uang demi mengurangi dampak wabah?



Berharap boleh saja, tapi tentunya jangan terus-menerus. Itu pun hanya untuk keluarga tertentu saja, yang memang pantas mendapatkan bantuan. Adapun kita yang merasa mampu, sebaiknya tidak ikut menikmati dan lebih memilih jenis usaha lain yang bisa kita olah jadi peluang jitu. Dengan sedikit jeli membaca keadaan, saya optimistis peluang usaha sebenarnya banyak yang akan mengantarkan kita pada kesuksesan meraup rezeki.

Ya, kita para ibu rumah tangga pun bisa berjaya sebagai tulang punggung keluarga selama wabah. Infografik di atas tadi memang sungguh memilukan, tapi bukan untuk disesali. Yang jelas kita bisa bergerak untuk melewati situasi penuh tantangan ini. Menurut Ir. Agustina Erni, M.Sc., yang menjabat sebagai Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), sebagian perempuan selama pandemi ternyata berperan sebagai tulang punggung keluarga. Betapa tidak, karena para suami yang di-PHK akhirnya turun tangan untuk membantu istrinya yang sebelumnya berdagang kecil-kecilan.

Ibu rumah tangga bisa berdaya


“Misalnya istri awalnya bekerja sebagai pedagang kecil-kecilan, setelah suami di-PHK maka pekerjaan suami pun ikut ke istri yaitu berdagang,” ujar Agustina Erni dalam webinar Kemen PPPA beberapa waktu lalu sebagaimana dikutip di laman Liputan6. Ini membuktikan bahwa para istri atau kaum ibu di rumah bisa berdaya untuk mendukung keberlangsungan ekonomi keluarga. 


Tepat seperti Makcik Kiah dalam potongan video berikut. Semula ia berjualan pisang goreng tapi perlu mencari peluang lain agar kehidupan ekonominya berkesinambungan pasca diberlakukan PSBB (pembatasan sosial berskala besar) di Malaysia sana. Ia kemudian menambah diversifikasi usaha ke penjualan barang retail berupa bumbu dan rempah dapur. Ia sadar bahwa pasar yang luas hanya bisa diraih lewat media online dalam bentuk website yakni toko online yang rapi.  


Lewat toko daring itu usahanya semakin dikenal dan semakin banyak konsumen yang datang sebagai pelanggan. Ini bukti betapa Internet begitu krusial pada masa kini. Dengan targeting konsumen yang tepat, analisis pasar yang bagus, dan pelayanan yang prima, maka usaha akan lancar--entah apa pun bentuk usaha yang digeluti. Produk seperti Makcik Kiah pun bisa, apalagi jasa yang semakin tak terbatas. Internet bukan hanya media untuk berinteraksi jarak jauh, tapi juga bisa digunakan untuk mendulang rezeki secara mudah.


10 peluang usaha online yang menjanjikan

Berpijak pada kisah sukses Makcik Kiah, saya jadi tergerak untuk menuliskan beberapa ide seputar peluang usaha online yang bisa digeluti oleh para ibu rumah tangga. Kenapa online? Ya karena sangat praktis, kita tak perlu ke mana-mana, barang bisa dipromosikan dan pembeli melakukan transaksi sendiri. Alasan kedua, usaha online lebih hemat. Paling cuma investasi awal untuk beli domain murah dan hosting lalu merawatnya setiap bulan/tahun. Dengan pemasaran yang jitu, uang akan menyerbu. 

Bisnis online hemat karena kita tak perlu memperkerjakan tenaga yang banyak. Banyak hal bisa diatasi oleh mesin, terutama mesin pencarian sebagai tenaga pemasaran sebagaimana kasus Makcik Kiah. Alasan ketiga bisnis online layak dipilih adalah karena jangkauan pasarnya sangat luas. Nyaris tak terbatas loh karena bisa berskala global, tergantung pasar mana yang kita kehendaki. Pokoknya memudahkan dan menguntungkan. Apa saja peluang usaha online yang saya maksud? 

1. Camilan rumahan

Selama tinggal di rumah (stay at home), orang cenderung banyak mengemil. Banyak beraktivitas di rumah bersama keluarga artinya pengeluaran ekstra untuk camilan yang bisa dikudap bersama. Inilah saat yang tepat untuk menjual aneka makanan ringan atau snack karena selama wabah konsumsi orang mengemil meningkat. Menyadari besarnya potensi itu, sebuah brand camilan terkemuka sampai merilis kampanye #NgemilBijak untuk merespons kebutuhan masyarakat mengudap sewaktu PSBB di rumah.

Kita pun bisa menghasilkan uang meskipun produksi makanan ringan masih berskala rumahan. Yang penting bahan diusahakan bermutu dan terpilih lalu dimasak dengan higienis agar konsumen puas. Untuk soal kebersihan dan kemasan, kita bisa meminta tolong pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat karena mereka biasanya punya program pembinaan. 

Mereka akan memfasilitasi pembuatan produk dari awal sampai akhir. Untuk pemasaran, selain di jaringan koperasi, kita bisa membangun toko online sendiri. Online shop akan berguna untuk mengoptimalkan jangkauan produk dan memangkas potongan ini itu. Kita bebas mengelola produk camilan sesuai keinginan termasuk bentuk promosinya. Kalau tak bisa Membuat Website sendiri, kita bisa meminta jasa pembuatan toko online yang kini banyak di Internet. Semua praktis dan mudah, kita tinggal fokus dalam produksi dan membesarkan merek lewat digital presence di jagat maya.

2. Sayur matang

Lauk pauk siap santap juga punya pasar yang besar untuk digarap. Kebutuhan orang akan makanan pokok konsisten bahkan cenderung meningkat. Sebuah lembaga nirlaba di Filipina bernama FSSI yang membawahi banyak koperasi mengatakan bahwa usaha-usaha yang tumbuh dan malah meningkat selama pandemi adalah lini pertanian seperti sayur dan kebutuhan pokok sehari-hari. Sekarang semakin banyak penyedia aplikasi yang menyalurkan produsen sayur dan konsumen. Dan itu peluang yang bagus.





Nah, kita bisa memanfaatkan tren itu. Namun jika skemanya tidak cocok, kita bisa membuat website sendiri untuk memajang produk berupa makanan matang yang kita produksi. Entah itu berisi rempah atau sambal siap santap, keberadaan webpage akan memberikan boosting terhadap coverage produk andalan yang kita jual. Ini tak berbeda dari Makcik Kiah yang sukses mengubah pola penjualan dari offline semata menjadi online untuk melengkapi dan meluaskan pasar.

3. Cleaning service

Seorang teman yang juga relawan di sebuah komunitas sosial di kota kami justru meraup sukses dalam bisnis Cleaning Service. Pasalnya, permintaan atas jasa bersih-bersih cenderung naik secara positif karena warga jadi peduli pada isu kesehatan dan tak mau berisiko membersihkan sendiri lantaran takut kecapaian dan tambah sakit. Inilah peluang yang diambilnya. Suami saya kebetulan mendapat order untuk membuat poster usaha tersebut agar bisa disebarkan secara digital.

Tempat ibadah, pertokoan, sekolah dan kampus, juga perkantoran seperti bank sangat mengandalkan jasa CS atau cleaning service yang kini belum banyak digarap orang. Padahal kebutuhannya cukup tinggi loh, setidaknya di daerah kabupaten. PR teman saya adalah soal jangkauan usaha yang masih stagnan di kota kecil kami sementara jasa itu juga dibutuhkan di kabupaten lain. Saat ini dia sedang proses mencari ruko yang besar agar usahanya lebih terfokus sebab sementara ini hanya dikerjakan di rumah. Lalu
website khusus perlu dibuatnya untuk mempromosikan jasanya sebagai merek yang serius dan profesional. 

4. Produk lokal yang khas

Peluang usaha lain yang bisa kita kerjakan secara online adalah menjajakan produk lokal dalam berbagai bentuk. Ada kerajinan tangan berbahan kayu, alat makan berbahan bambu, aksesori mutiara, hingga kain tenun bisa kita sulap menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Kabar baiknya, semua itu bisa kita jual secara online dan pundi-pundi uang bisa mengalir ke kantong walau kita berjualan jarak jauh.



Pembeli asing pun bisa mengimpor barang kita ke negeri mereka asalkan produk itu bermutu dan harganya disepakati. Selain mengangkat potensi lokal, kita juga turut menambah devisa negara. Kita patut berbangga walaupun ibu rumah tangga tapi bisa berkiprah di kancah global. Masih tak ingin meng-online-kan usaha kita? 

5. Lowongan online

Peluang usaha yang jarang dilirik orang selama pandemi adalah membuka info lowongan pekerjaan secara online. Dalam sebuah sesi Instagram Live yang dihelat sebuah lembaga nirlaba beberapa waktu lalu, Indra Uno yang didapuk sebagai narasumber menuturkan sebuah ide yang sederhana tapi unik. Ketua Yayasan Mien R. Uno Foundation yang juga dikenal sebagai Coach Indra karena aktif mencetak para pengusaha muda di Indonesia itu mengusulkan agar kita membuka jasa penyedia lowongan pekerjaan.

Usulnya ini relevan karena kini semakin banyak orang yang terkena PHK sebagai imbas dari wabah yang belum juga mereda. Nah, tak ada salahnya kita menjembatani pencari tenaga kerja dan calon pekerja. Caranya mudah, lakukan secara online karena lebih praktis. Tak jarang pegawai tak tahu di mana ada lowongan terdekat dengan tempat tinggalnya. Begitu juga sebaliknya, para owner usaha atau pebisnis tak paham di mana bisa mencari tenaga kerja dengan cepat di daerah sekitar.

Berbekal sebuah website, kita bisa menjadi semacam marketplace tenaga kerja untuk daerah sekitar, satu kota atau satu karesidenan. Yang tugasnya menyalurkan tenaga kerja secara tepat sesuai kebutuhan yang mendesak. Kita akan mendapat komisi dari kegiatan itu atau dari iklan yang ditampilkan di website. Sangat menggiurkan bukan iklan lowongan di daerah yang bisa diakses secara real time kapan saja?  

6. Blogging

Sebagai bloger, tak mungkin saya mengesampingkan aktivitas ini sebagai salah satu peluang usaha online yang tak kalah profitable. Ya, blogging! Blogging kini bukan lagi sekadar curhat tanpa arah, atau pamer kebolehan tanpa tujuan. Banyak brand dan pemilik usaha yang kian memperhatikan posisi tawar bloger sebagai kekuatan yang layak dimanfaatkan untuk mempromosikan barang/jasa mereka.

Dari situlah profesi ini semakin menggeliat dan banyak digemari. Uniknya, sependek pengetahuan saya, bloger yang banyak berkiprah dan berprestasi justru para bloger perempuan. Meskipun tak terlalu aktif dalam komunitas, fakta di lapangan membuktikan bahwa sejumlah komunitas yang up-to-date dan terus hidup adalah komunitas bloger yang dimotori oleh para perempuan. Sebut saja Blogger Perempuan Network (BPN), Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN), Kumpulan Emak-emak Blogger (KEB), dan masih banyak lainnya yang digawangi oleh para srikandi bloger.

Data terakhir yang dirilis Antaranews tahun 2015 menyebutkan bahwa setidaknya ada 3,5 persen dari total 88,1 juta pengguna Internet di Indonesia. Ini menyitir penuturan Matahari Timoer, bloger senior yang kala itu menjabat Ketua Blogger Camp 2015. Hingga saat ini belum ada data terbaru.

Sedangkan menurut data yang dirilis oleh Hootsuite dan We Are Social, jumlah pengguna Internet di Indonesia per Januari 2020 adalah 175,4 juta dengan pengguna media sosial aktif sebanyak 160 juta. Memang tak disebutkan berapa jumlah bloger yang aktif, tapi angkanya menurut saya meningkat dari statistik tahun 2015 karena brand dan agency semakin banyak jumlahnya dan mereka gencar mengandalkan para bloger untuk membangun digital presence produk atau jasa mereka di dunia maya.


Domain murah bikin semringah

Sebagai ibu rumah tangga, aktivitas blogging sangat ideal. Bisa kita kerjakan di rumah sembari mengasuh anak-anak dan merampungkan tugas rumah tangga. Menulis bisa kapan saja dengan bantuan daily planner agar lebih tertata. Dengan konsistensi dan terus belajar, saya optimistis bisa mencapai posisi sebagaimana para bloger senior yang sudah lebih dulu maju. PR saya terbesar, dan utama, tentu saja harus migrasi ke domain berbayar agar blog tampil semakin bergengsi di mata klien.

Sejauh ini saya baru dua kali mendapatkan job menulis dan nilainya ternyata sangat lumayan padahal blog masih berplatform gratisan. Pengin banget bisa makin serius, syukur-syukur bisa Beli Hosting Gratis Domain agar pengeluaran tak membengkak di saat pandemi begini. Setelah coba-coba menjelajahi kombinasi nama, saya menemukan xibianglala.com yang masih tersedia. Hanya dengan  Rp119.000 per tahun saya bisa mendapatkan nama diri yang membanggakan. Tinggal laporan ke suami nih, hehe. :)


Tanpa berpanjang lebar saya pun segera berkonsultasi dengan suami tentang hal ini. Pucuk dicinta ulam tiba, keinginan punya blog dengan domain TLD pun bakal segera terwujud. Apalagi begitu saya beri tahukan bahwa saya mendapat saldo Rp50.000 saat membuka akun program afiliasi di Exabytes, ia pun langsung mengiyakan dan memproses sisa pembayaran. Prosesnya cepat dan mudah, sekitar satu jam saja untuk bisa punya blog dengan alamat yang bergengsi.

Sebenarnya satu jam lebih sedikit karena proses redirect yang akan tersendat karena saya yang masih pemula. Syukurlah saya dipandu dengan sabar oleh Mas Panji dari CS Exabytes dari awal sampai blog bisa diakses dengan domain yang baru. Dengan opsi bayar lewat GoPay, beli domain di sini memang solutif banget. Kebetulan kami selalu menyediakan saldo di dompet digital itu. Tinggal scan barcode dan ikuti alur pembayaran di akun GoPay, pembayaran pun tuntas!

Hooray, ngeblog makin asyik dan semangat deh! Teman-teman yang masih ragu untuk beralih ke domain TLD, segera hapuskan keraguanmu. Pilih Exabytes sebagai mitra sukses untuk bisa eksis di dunia maya lewat tulisan atau bahkan meraup untung lewat toko online. Untuk sementara saya pilih ngeblog karena menyalurkan hobi sekaligus bisa meraih pundi-pundi rezeki.

Domain aktif, penghasilan bisa produktif!

Namun ke depan saya ingin punya lebih dari sekadar domain agar hasil bisa maksimal. Template dan jeroan tak bisa dioptimalkan kalau hosting masih gratisan. Paket Grow Pro sepertinya lebih cocok saya pilih karena kapasitas hosting sangat lega sampai 5 GB dan alamat email yang lebih personal dan profesional. Boleh jadi saya enggak paham semua teknisnya, tapi di mata ibu rumah tangga biaya 69.900 per bulan itu sungguh sangat kompetitif. Hitung-hitung buat menabung dan menjadikan blog sebagai investasi dengan return yang lebih besar.



7. Penulis

Peluang usaha berikutnya yang bisa dikerjakan secara online adalah menjadi penulis. Ya, kini peluang menulis buku terbuka lebar sekali. Bukan hanya lulusan kuliahan, tapi ibu rumah tangga pun bisa menghasilkan karya yang laris asalkan materinya dibutuhkan pembaca. Misalnya berupa pengalaman mendidik anak atau kisah sukses mengelola komunitas yang inspiratif. 

Saya mendadak teringat mendiang Ratna Indraswari Ibrahim, penulis difabel asal Malang yang terus produktif sampai beliau meninggal. Dia tetap tinggal di Malang walau cerpennya melanglang di Nusantara bahkan dunia. Tak ada batasan lagi antara Timur dan Barat berkat kecanggihan Internet. Peluang terpampang nyata.

Kemudahan Internet memang membuka kemungkinan agar karya kita dikenal di mana pun. Berbekal teknologi informasi, kita boleh tinggal di kampung, tapi buah pena kita akan mengantarkan pundi-pundi rezeki yang menggunung. Ya, syaratnya harus mau belajar dan ikut banyak kelas bersama mentor atau penulis profesional. Sesekali berbayar tak apa asalkan serius mengikutinya. 

Satu lagi yang tak boleh dilupakan adalah punya blog sebagai showcase karya. Blog personal akan berfungsi berlipat-lipat. Bisa untuk berlatih menulis, memamerkan karya, dan mendapat job dari klien dari mana saja. Entah menulis blogpost atau menulis buku biografi, juga copywriting usaha. Dengan blog atau portal pribadi, kunci kesuksesan telah kita pegang.

8. Konsultasi 

Jika punya skill atau kepakaran tertentu, kita bisa menjajaki peluang usaha online sebagai konsultan atau mentor untuk bidang yang kita kuasai. Misalnya jasa akuntansi/pembuatan laporan keuangan, pencanaan keuangan atau sebagai manajer investasi, konsultan penulisan, dan bahkan public speaking. Seorang teman di Jember bahkan mengadakan kelas public speaking untuk anak dan dewasa saat pandemi berlangsung. Kebetulan ia sudah dikenal sebagai pegiat literasi dan public speaker melalui portofolio di blog pribadinya. Nah, lagi-lagi tinggal punya blog untuk diseriusi kan?!

9. Guru privat 

Enggak jauh berbeda dengan poin sebelumnya, menjadi guru privat juga layak kita jajal sebagai peluang yang menguntungkan selama wabah di tahun 2021 ini. Kini banyak orangtua kewalahan menghadapi anak-anak saat PJJ atau Pembelajaran Jarak Jauh. Kita bisa memanfaatkan fenomena itu. Selain membantu orangtua untuk mengajari anak mereka, kita juga meraup rezeki untuk kelangsungan ekonomi keluarga.

Toh kelas tak harus berlangsung secara tatap muka. Kita bisa memanfaatkan teknologi seperti Zoom dan Google Meet untuk mengajar atau mendampingi anak belajar. Kalau ingin lebih serius, kita bisa menghimpun teman-teman yang mau menjadi guru/tutor online seperti itu. Lalu kita bikin website khusus berisi profil para pengajar yang kompeten agar pasar yang kita jangkau semakin luas. Intinya, jangan membatasi apa yang bisa kita lakukan sebab itu bisa membatasi apa yang akan kita dapatkan

10. Affiliate marketing

Jika kita tak punya produk atau tak tertarik berjualan barang, kita bisa memilih untuk menjual jasa. Salah satu peluang usaha online yang tak kalah gurih adalah affiliate marketing. Boleh dibilang tanpa modal tapi potensial mendulang profit finansial. Tinggal mendaftar pada penyedia produk yang kita minati, lalu kita ikuti langkah yang ditentukan.


Misalnya ikut Program Afiliasi Terbaik persembahan Exabytes Indonesia. Pada program afiliasi hosting Exabytes ini, kita akan diganjar komisi sampai 25% dengan cara meferensikan Exabytes ke sahabat, kerabat, atau siapa pun yang profilnya sesuai dengan kebutuhan. Bergabungnya gratis, dan cara gabungnya pun sangat mudah. Keuntungan yang bisa kita petik sangat besar dengan modal yang sangat minim, bahkan nyaris nol.


Dengan enam keuntungan yang unggul, tak mungkin kita tak tergoda untuk tidak berpartisipasi dalam program affiliate marketing ini. Saya pun sudah mendaftar dan tinggal menyebar link ke prospek yang potensial. Nah, berbeda dengan program afiliasi lain, affiliate marketing di Exabytes Indonesia menawarkan sejumlah kelebihan sebagai berikut.

1 | Komisi Besar: Besaran komisi bisa mencapai 25% cukup dengan mereferensikan Exabytes ke kenalan atau orang yang kita anggap membutuhkan. Mulai dari 1,2 juta rupiah, sangat besar kan ibarat gaji pekerja entry level sebulan di daerah? 

2 | Tanpa Limit Referal: Tak ada batasan atas nominal yang bisa kita raup; semakin giat kita memburu klien, maka semakin besar pula komisi yang bisa kita peroleh.

3 | Cepat Cair: Kita tak perlu ragu atau menunggu dalam kondisi mengeluh karena akumulasi komisi langsung dibayarkan setiap awal bulan. Cepat tanpa ditunda-tunda!

4 | Nama Besar: Jaminan nama besar Exabytes yang telah berkiprah di bisnis web hosting selama lebih dari 15 tahun tak bisa disepelekan. Sudah banyak penghargaan yang mereka raih, dan itu adalah garansi kepuasan kita agar dengan mudah menjual nama baik Exabytes kepada calon klien.

5 | Accurate & Detailed Tracking: Pelacakan yang optimal sehingga kita bisa memantau jumlah penghasilan sejauh ini. Pelacakan bahkan mencakup 90 hari masa berlaku Browser Cookie. Menyeluruh kan?

6 | Dukungan Support Team: Dengan mengaktifkan program afiliasi dan support, kita akan dibantu jika menemukan kendala; sungguh sangat memudahkan karena tim afiliasi selalu siap sedia.

Itulah 10 jenis peluang usaha online yang bisa dilakukan ibu rumah tangga pada tahun 2021 dan bahkan menjadi peluang prosperous hingga tahun-tahun mendatang. Kuncinya adalah semangat belajar dan mendayagunakan teknologi, dalam hal ini Internet sebagai mitra kesuksesan. UKM atau jasa profesional harus akrab dengan website karena ranah digital akan membawa produk kita semakin global. Dari situlah potensi keuntungan finansial bisa bisa raih secara optimal. 

Kata siapa ibu rumah tangga tidak bisa produktif? Dengan menjajal peluang usaha online, seperti telah dibuktikan Makcik Kiah, kesempatan meraup rezeki ternyata terbuka sangat lebar. Mulai dari sekarang, mulai dari yang kecil terutama produk lokal di sekitar kita, mulai dari diri sendiri, lets' go digital now!

Wabah yang berlangsung selama 6 bulan lebih tak pelak mengubah pola kita dalam banyak hal. Cara berkomunikasi, mencari rezeki, dan bahkan berkegiatan sosial mulai beradaptasi dengan keadaan di masing-masing tempat. Wabah korona memang ujian yang tidak mudah, tapi jelas bukan alasan untuk kita menyerah dan berhenti melakukan kebaikan untuk sesama. Orang dari seluruh lapisan, baik di desa dengan rumah sederhana atau tinggal di apartemen mewah, tergerak untuk saling membantu.

Saat ini justru menjadi momentum yang tepat untuk melirik dan menggagas aneka kegiatan sosial karena bisa berdampak pada ringannya beban finansial banyak saudara kita yang membutuhkan. Ingatkah kita apada sabda Nabi tentang saat terbaik untuk bersedekah? Tidak lain adalah ketika kita sendiri takut didera kemiskinan. Inilah saatnya ketika setiap orang waswas terhadap keterbatasan dan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan primer. 

ZISWAF mampu mendongkrak kemandirian umat

Kualitas iman diuji pada momen sekarang ketika harga-harga barang kebutuhan pokok naik sementara penghasilan tak meningkat secara signifikan. Bahkan tak jarang pekerja yang di-PHK atau para pebisnis kecil yang gulung tikar akibat rendahnya daya beli masyarakat. Ya, wabah memang berpengaruh cukup parah. Bukan hanya dampak sosial, tapi juga ekonomi yang tak bisa dihindari.


Dari sinilah perlu digalakkan lagi semangat beraktivitas sosial. Komunitas-komunitas sosial perlu digiatkan kembali dan sebisa mungkin bersinergi sebab hanya lewat kolaborasi tujuan-tujuan besar bisa kita capai. Kita berada di era serbadigital, pada abad ke-21 di mana keterampilan wajib mencakup 4 hal pokok yang dikenal dengan 4C: communication, collaboration, creativity, dan citical thinking.


Manfaat ikut kegiatan sosial

Anak-anak harus diperkenalkan tentang manfaat berkegiatan sosial sejak belia sehingga ketika remaja dan dewasa akan terbentuk semangat filantropis sesuai kecakapan mereka masing-masing. Kesadaran itu akan membangun fondasi yang kuat sebagai pijakan kesuksesan dunia dan akhirat. Tidak percaya? Simak beberapa manfaat dengan aktif dalam kegiatan sosial berikut ini.

1 | Belajar berkomunikasi

Saat aktif sebagai relawan dalam komunitas sosial, kita dituntut untuk mampu berkomunikasi dengan relawan lain agar suatu kegiatan atau gerakan dapat berjalan dengan lancar. Tak mungkin aktivitas berjalan sesuai harapan tanpa koordinasi lewat komunikasi yang intens. Dari sinilah lambat laun kemampuan kita berkomunikasi akan terpupuk dan terasah.

2 | Bangun kepercayaan diri

Dari setiap aktivitas atau program yang berhasil kita laksanakan, kepercayaan diri lama-lama akan terbangun. Kita merasa punya andil dalam rangka mewujudkan kebahagiaan orang lain, maka kita mulai merasakan adanya self-worth atau nilai diri yang berdampak positif pada terdongkraknya self confidence. Kepercayaan diri bisa mempengaruhi kinerja kita pada lini hidup yang lain. 

3 | Tambah keterampilan 

Bergabung dalam komunitas sosial memungkinkan kita betambah keterampilan baru, misalnya manajemen organisasi atau cara menggalang dana. Ikut kegiatan sosial juga memberi kita peluang untuk mengasah kemampuan yang sudah ada. Misalnya kita bisa menulis lalu mendedikasikan keterampilan itu untuk terus mengabarkan spirit berbagi lewat tulisan. Seiring waktu kosakata akan meningkat dan gaya menulis akan membaik berkat praktik secara rutin. Asyik kan? 

4 | Perluas jaringan 


Tanpa kita sadari dengan aktif dalam kegiatan sosial maka jaringan akan bertambah luas. Kita sadar bahwa networking bisa membantu kita berkembang, baik secara personal, kompetensi profesional, maupun kemajuan finansial. Kita mengenal lebih banyak orang dengan beragam karakter dan latar belakang yang dapat memperkaya hidup kita, pergaulan kita luas, dan semakin membahagiakan.

5 | Membuka peluang 

Bertambahnya jaringan bisa berarti terbukanya peluang rezeki. Relawan dalam komunitas bisa jadi menggeluti suatu bidang usaha yang membutuhkan skill kita. Atau bisa pula relawan lain punya kerabat yang usahanya bisa dibantu oleh kompetensi kita. Saya teringat pada kisah suami yang aktif di komunitas nasi bungkus Lamongan sebagai videografer; bulan lalu ia mendapat proyek penggarapan video promosi usaha cleaning service dan pengadaan barang yang dimiliki salah seorang relawan. Nah, berkegiatan sosial lewat komunitas bisa menjadi pintu ‘keberkahan’ semacam itu.

6 | Membuka peluang 

Melibatkan diri dalam aneka kegiatan sosial akan memberi kita pemandangan terhadap kehidupan orang-orang yang kebetulan kurang beruntung. Pengalaman ini akan memunculkan perasaan semakin mensyukuri keadaan kita sendiri. Tak ada alasan untuk mengeluh sebab Tuhan telah memberi kita nikmat tanpa batas. Complain less, thank more, itulah sikap yang lama-lama akan terbangun: lebih banyak bersyukur tanpa menyalahkan keadaan. Semangat berbagi pun akan tumbuh semakin kuat.

7 | Pengalaman langka 

Ikut kegiatan sosial adalah pengalaman berharga yang tidak bisa dinilai dengan uang. Sungguh jadi pengalaman langka sebab tak butuh modal berupa uang untuk bisa aktif. Sebaliknya, butuh niat dan tekad kuat untuk bisa konsisten dalam kegiatan filantropis kepada sesama. Tenaga dan keterampilan pun bisa disumbangkan jika tak ada uang. 

Uniknya, kini tak sedikit perusahaan yang mempertimbangkan pengalaman menjadi relawan (volunteering) sebagai salah satu kriteria penting dalam rekrutmen karyawan karena mereka dianggap punya pengalaman berorganisasi dan manajemen proyek.

8 | Sehat dan bahagia 

Ada kebahagiaan tersendiri saat kita mengikuti kegiatan sosial, sesederhana apa pun proyeknya dan sekecil apa pun peran yang kita ambil. Sebagai contoh, menitipkan beberapa bungkus nasi di etalase depan Masjid Agung kota kami pun bisa membuat pikiran benderang dan hati tenang. Juli kemarin saya ikut menyiapkan daging kurban untuk kaum duafa di RPH Lamongan bersama komunitas sedekah dan berhasil membagikan 300-an paket daging dalam besek bambu.


Ada kepuasan tersendiri ketika besek itu berpindah tangan dan diiringi senyum indah dan doa yang tulus dari penerima. Sesuatu yang tak bisa dijelaskan dalam kata-kata, "something beyond happiness", begitu ujar seorang guru saat kita membantu orang lain. Perasaan unik itu tumbuh begitu istimewa tanpa perlu diuraikan lagi.

5 cara berbagi di saat pandemi

Melihat begitu banyaknya manfaat terlibat dalam gerakan sosial, baik lewat donasi uang atupun bantuan tenaga/pikiran, saya mempraktikkan lima cara berbagi yang sangat mudah tanpa harus meninggalkan rumah. Kalaupun mesti ke luar rumah, tak perlu waktu yang lama agar bantuan terlaksana. 

1 - Sarapan gratis

Setiap Jumat pagi kami sempatkan ikut membagikan nasi bungkus yang kami ikuti selama 2 tahun belakangan. Kadang kami turut membawa nasi, sesekali turut berdonasi uang, atau sekadar menyumbangkan tenaga saat pembagian hingga tuntas. Anak-anak kami libatkan agar tertanam jiwa sosial sampai dewasa nanti. Tentu dengan mengikuti protokol kesehatan selama pandemi.

Berbagi bahagia untuk lansia berupa uang dan makanan siap santap.

September lalu komunitas kami bekerja sama dengan Satlantas Polres Lamongan untuk membagikan nasi bungkus seperti biasa, hanya saja kali ini ditambah uang tunai dalam amplop dan selimut bagi mereka yang membutuhkan. Selain dibagikan di depan basecamp, nasi juga dikirimkan langsung kepada para penerima yang tidak mungkin menjemput ke basceamp.


2 - Bantu teman yang tak bisa makan

Seorang teman belum lama ini mengirimkan pesan lewat WA, mengabarkan bahwa ia butuh pinjaman untuk membeli lauk karena beras sudah punya. Beberapa bulan sebelumnya ia sempat meminjam juga uang karena sudah beberapa hari tak makan beras. Mereka sekeluarga hanya menyantap adonan tepung yang digoreng dengan tambahan gula.

Hanya bisa makan adonan tepung sungguh berat selama pandemi. 

Kami lantas mentransfer sesuai kemampuan. Nah, selama pandemi mestinya lebih banyak gerakan untuk mengetahui saudara atau teman kita yang tidak bisa makan tapi malu mengungkapkan. Kami sendiri pernah hanya punya uang 10.000 rupiah saat masih tinggal di Bogor dulu saat honor suami tak kunjung dibayarkan. Jadi kami tahu betul arti kelaparan sementara pinjam ke toko kelontong tak dikabulkan. 

 

3 - Sebarkan pesan positif

Sebagai ibu rumah tangga yang tak bisa banyak bergerak leluasa selama wabah, saya konsisten membagikan pesan positif dalam status WA atau Twitter tentang banyak hal. Tentang ajakan berbagi, memperbaiki diri, dan terutama mensyukuri keadaan. Bukan saatnya menyalahkan pemerintah, tapi kini kita perlu bangkit untuk bersinergi, untuk selalu bersemangat berbagi di era baru dengan cara yang kreatif. Berbagi ilmu dan inspirasi juga sedekah yang bermanfaat.

 

4 - Pinjamkan buku

Cara lain berbagi di era baru adalah dengan meminjamkan buku. Saya baca di salah satu tweet tentang program canthelan di Salatiga. Dalam program sederhana itu, orang bebas mengaitkan sayuran mentah, masker, dan bahkan buku agar bisa dinikmati orang selama wabah -- lebih-lebih bagi keluarga yang terinfeksi virus korona dan harus menjalani isolasi mandiri di rumah.

Buku, sumber ilmu yang sangat bermutu.

Saya lalu tergerak meminjamkan koleksi buku di rumah untuk sekolah si sulung yang kebetulan tidak punya banyak judul sementara mereka akan mengikuti penilaian literasi. Sudah sebulan lebih buku-buku itu ada di sekolah dan belum boleh diambil karena masih sangat dibutuhkan.  


5 - Donasi lewat LAZ

Yang tak kalah penting adalah berdonasi lewat lembaga yang tepercaya, seperti LAZ Ucare Indonesia. Tanpa harus meninggalkan rumah, kita bisa menyumbang untuk apa saja: infak, sedekah, zakat, dan donasi sesuai kemampuan. Berbekal jaringan Internet dan smartphone atau laptop, donasi dengan mudah kita kirimkan. 

 Berdonasi sangat mudah dan praktis.

Kenapa pilih LAZ UCare Indonesia

Memilih lembaga penyalur zakat dan dana amal yang kredibel sangat penting. LAZ (lembaga amil zakat) yang andal bisa mendukung penyaluran yang amanah sehingga donasi kita betul-betul terdistribusi kepada mereka yang sangat membutuhkan. Beberapa alasan berikut bisa dipertimbangkan untuk memercayakan donasi atau ZISWAF kita pada LAZ UCare Indonesia.

  • Programnya terbilang Unik, dari penamanaan misalnya Madrasah Inspirasi, Dokter Sapa Warga, Doctor Goes to School, hingga pemberdayaan para janda agar bisa mandiri melalui bantuan modal dan pendampingan usaha.
  • LAZ Ucare Indonesia Cerdas atau taktis dalam menjalankan program. Sebut saja sedekah Jumat untuk mendukung aktivitas belajar anak-anak pemulung di Sekolah Kami, Bekasi. Sepintas sederhana hanya berupa nasi kotak, tapi dampaknya luar biasa sebab anak-anak itu makin bersemangat belajar lantaran merasa diapresiasi dan didukung untuk mencapai cita-cita mereka.

  • LAZ UCare Indonesia terbukti Amanah, sebab dipercaya oleh LAZ lain atau lembaga-lembaga penting untuk menyalurkan dana sosial bersama-sama. Kemitraan dengan instansi pemerintah, pihak swasta, maupun individu adalah bukti bahwa LAZ Ucare adalah organisasi yang mumpuni dalam menghimpun dana ZISWAF dan dana sosial lain lalu menyalurkannya dengan penuh tanggung jawab. Bank Mandiri Syariah, Toyota Indonesia, Isuzu, Euro Management, ZIS Indosat dan masih banyak lagi pernah bermitra dengan LAZ Ucare Indonesia.
  • Di era serbacanggih ini, tim LAZ Ucare Indonesia mampu merespons kebutuhan umat untuk menampung ZISWAF mereka. Kontak melalui email, WhatsApp, dan media sosial selalu Responsif tanpa kendala sehingga proses berdonasi aman dan nyaman. Beramal lewat website sangat praktis, tinggal klik klik klik, selesai. 
  • Kelebihan LAZ Ucare Indonesia lainnya adalah energi yang terus dilancarkan lewat media sosial, salah satunya Instagram. Sifat Energik ini memijarkan optimisme bagi siapa pun yang menjadi follower-nya. Bukan hanya dorongan untuk berbagi, tetapi juga ajakan untuk hidup lebih mulia dan terarah. Bagaimana kita bisa hidup dengan kaya dalam pengertian seluas-luasnya dan terus mengembangkan diri.
View this post on Instagram

Di kala krisis seperti saat ini, penting bagi kita untuk mengatur budget investasi. Selain investasi dunia, gak lupa sama yang satu ini yaa,... Investasi Akhirat! Jika investasi dunia memiliki tujuan untuk menyelamatkan diri di hari tua atau untuk memenuhi kebutuhan hidup semasa di dunia, maka investasi akhirat memiliki tujuan untuk menyelamatkan kehidupan kita di akhirat, tentu kita semua ingin selamat dunia akhirat bukan? Jadi Investasi Akhirat ini bisa berupa sedekah, infaq dan wakaf yaa Sahabat! Tips UMin: 1. Mulai dari hal yang kecil 2. Kecil tapi konsisten, Allah lebih suka 3. Setelah konsisten bisa dinaikkan jumlahnya sesuai dengan kemampuan finansial Sahabat UCare Kalau zakat mah kan ya wajib untuk yang sudah terkena nisab. Nah infaq, sedekah dan wakaf bisa jadi opsi untuk kamu yang belum wajib zakat :)! Selamat mencoba, kecil tapi konsisten, Allah lebih suka.

A post shared by LAZ UCare Indonesia (@lazucare) on


Kini tak ada alasan untuk berpangku tangan sambil mengutuk keadaan. Tak ada gunanya merutuk tentang wabah yang tak kunjung musnah. Inilah saatnya membuka hati, untuk mengembangkan Semangat Berbagi di Era Baru. Kita harus yakin bahwa berbagi membuat hidup kita semakin berenergi.


Tak ada yang berkurang, hati justru semakin tenang. Tak ada yang merugi dengan berbagi, malah imbalan berlipat berkali-kali dalam bentuk yang tidak pernah kita sangka. Nantikan kejutan dari Tuhan berkat donasi atau bantuan yang kita ulurkan demi membangun kemandirian saudara-saudara kita yang membutuhkan. Cinta berbagi tanpa henti, aksi nyata terus berderap dengan penuh harap.  


“Tulisan ini diikutsertakan dalam rangka Lomba Blog LAZ UCare Indonesia 2020.”


Saya dan suami sudah lama menyukai kopi. Bukan hanya ketika pindah di Lamongan, tetapi sejak tinggal di Bogor dulu. Kopi telah menjadi bagian dari gaya hidup kami. Bukan cuma menggandrungi sebagai tren seperti kopi kekinian yang banyak beredar, tetapi sebagai bagian tak terpisahkan untuk menemani kesibukan kami sehari-hari. Menulis atau bersantai bareng keluarga, kopi selalu ada.

Berbagai merek kopi

Banyak merek yang sudah kami cicipi. Di Bogor ada kopi Liong Bulan yang sudah begitu legendaris. Saking terkenalnya, pemerintah kota konon turut perhatian saat ada kabar merebak tentang tututpnya satu gerai Liong Bulan. Lalu ada kopi Cap Teko yang juga khas, ditambah Cap Piala dari produsen yang sama. Lebih dari itu, kota lain punya potensi kopi yang juga menarik.

Kami pernah mencicipi gurihnya kopi Owa khas hutan Petungkriyono Pekalongan, lalu kopi Osing Banyuwangi, kopi AAA Jambi, dan yang paling unik adalah kopi ekselsa khas Wonosalam Jombang. Rasa fruity-nya yang membuat kopi ini berjaya, di lidah seolah ada sensasi rasa nangka. Belum lagi kopi Jember dan kopi Lombok dengan cita rasa lokal yang nikmat.

Tugu Buaya dan Singa

Maka hati saya begitu semringah ketika suami membawa pulang kopi bermerek Tugu Buaya khas Surabaya. Kopi ini ternyata telah berkiprah selama 40 tahun yang bermula dari pabrik kecil di Riau. Singkat kata, suami akhirnya berhasil mendapatkan kopi ini di Toko Tugu Buaya yang berlokasi di Jl. Kalibutuh No.5-7, Tembok Dukuh, Kec. Bubutan, Surabaya. Walau dalam bentuk renceng, rasanya tetap mantap.

Setelah mencicipinya, saya jadi tak sabar berkunjung ke pabriknya langsung. Minimal mewawancarai gerai di toko tempat suami membelinya. Merek kedua kopi yang ingin kami buru adalah kopi Singa yang jauh lebih tua usianya, nyaris satu abad dibanding kopi lain di Jawa Timur. Kiprah bisnis selama puluhan tahun menjadi jaminan dan bikin kami semakin penasaran untuk mengulik aroma kopi dan kiat kesuksesan bisnis mereka.

OYO Kembang Kuning bikin pikiran bening

Berkunjung ke Surabaya, urusan menginap tak perlu jadi masalah. Kami sekeluarga pernah mendengkur di OYO 771 Kembang Kuning Residence Syariah yang berarti kami sangat nyaman menginap di sana. Sebagai bagian dari OYO Hotels Indonesia, standar kenyamanan dan fasilitas OYO Kembang Kuning tak perlu diragukan. Saya sendiri menyaksikan anak-anak begitu betah di kamar ini. Parkirannya lapang dan lingkungan sekitar dipenuhi banyak penjual makanan yang enak tapi terjangkau.
Jajanan murmer di sekitar hotel OYO Kembang Kuning

Halaman parkirnya luas dan rindang.

Gampang dikenali dari jalanan

Bikin betah menginap karena nyaman
Menginap di OYO Rooms adalah bukti cinta kami terhadap jaringan hotel global ini. Sekaligus manifestasi cinta kasih kepada keluarga dengan memilihkan penginapan terbaik dalam rangka membangun memori liburan yang berkesan hingga kapan pun. Jogja menjadi destinasi liburan berikutnya saat liburan sekolah nanti. Nenek moyang saya berasal dari Jogja sehingga banyak hal yang bisa saya kulik di Kota Gudeg ini. Urusan menginap bakal beres karena Hotel Murah di Jogja bisa kami percayakan lagi pada jaringan OYO.

Menelusuri Jogja demi mengingat kenangan masa kecil sungguh bakal menyenangkan. Akomodasi beres bebrkat OYO yang harganya terjangkau. Selisih harga dari hotel lain bisa kami manfaatkan untuk membeli oleh-oleh seperti bakpia untuk keluarga tercinta di Lamongan. Memang keberadaan OYO benar-benar memudahkan liburan karena penginapan tak perlu dipusingkan.

Follow yuk!

Inovasi OYO bukan seputar luasnya jaringan penginapan dan fasilitas lengkap tapi harganya aman di kantong, tetapi seputar aplikasi yang kini menawarkan kemudahan. Salah satunya kode referral yang bisa kita bagikan. Baik pemberi atau penerima kode akan diganjar kesempatan menginap di kamar seharga 66 ribu rupiah. Enak banget kan? Cukup instal aplikasi OYO di smartphone atau tablet lalu nikmati keunggulannya. Pesan kamar gampang, banyak promo lagi.


Buruan follow akun IG dan Twitter-ya agar tak ketinggalan dengan aneka informasi menarik seputar liburan dan penginapan murah meriah tapi mewah. Cinta keluarga? Ya menginap di OYO dong! Kamarnya nyaman, harganya bersaing. Keluarga bakal senang, terutama anak-anak. Kebersamaan bersama akan menciptakan memori indah, tentang kepedulian orangtua yang memilihkan penginapan terbaik bagi mereka. OYO jawabannya!

Daripada menyewa apartemen yang harganya mahal, lebih baik menginap di jaringan hotel OYO yang sudah dirancang dengan baik untuk menjamu kita sesuai harapan. Uang yang ada bisa kita sisihkan untuk berinvestasi atau membeli oleh-oleh saat liburan. Akur?



Minggu malam itu saya mendengar sayup-sayup percakapan kedua anak lelaki saya ketika melintas di depan pintu kamar mereka. Mereka janjian besok duduk di kursi kereta yang saling berhadapan. Mereka pun sudah memastikan pembelian tiketnya lewat online sehingga enggak usah antre beli tiket di loket stasiun lagi. Keduanya juga tidak ingin bangun kesiangan yang bisa menyebabkan ketinggalan kereta. “Adduuuuuhh ... aku sudah enggak tahaaaaannn ingin cepat-cepat pagi. Ya ampun, aku kok kayak terobsesi gini ya?”

Entah belum mengantuk atau terlalu antusias dengan rencana perjalanan esok hari. Namun yang pasti, obrolan mereka itu meninggalkan kesadaran tersendiri dalam pikiran saya. Kesadaran bahwa generasi masa depan kita memiliki zaman dan gaya hidup yang berbeda pula.
Ada Pelajaran di Setiap Perjalanan
Senin adalah hari yang dipilih untuk perjalanan kami ketika itu. Meskipun duo Xi –begitu  saya menyebut dua anak lelaki kami, Rumi (9 tahun) dan Bumi (7 tahun)– harus minta izin pada guru di kelasnya, tidak tampak raut wajah khawatir karena absen pada hari itu. Tak apalah, sesekali anak-anak kami harus “bersekolah” di alam bebas dan bertemu dengan berbagai pengalaman baru.

Hari Senin itu pula semua agenda bisa kami gabungkan. Saya perlu ke toko buku untuk mencari bahan tulisan plus refreshing. Suami saya juga akan menghadiri acara bedah buku yang akan diselenggarakan di sana pada hari itu. Kami pun pernah menjanjikan pada duo Xi membelikan buku sesuai pilihan mereka. Kebetulan suami mendapat hadiah berupa voucher belanja buku dan barang-barang kebutuhan di sebuah pusat perbelanjaan. Kedua toko tersebut tidak ada di kota tempat tinggal kami. Kemacetan yang justru tidak terlalu parah di hari kerja ketimbang di hari Sabtu atau Minggu semakin memantapkan kami berangkat ke Surabaya di hari yang tidak biasa untuk berlibur itu.

Kota Pahlawan memang menjadi kota besar yang terdekat dengan tempat tinggal kami. Akses transportasi yang kami gunakan adalah kereta komuter Sulam (Surabaya-Lamongan) dan Surabaya Bus (Bus Botol). Kami sering berdiskusi sepanjang perjalanan (terkadang membuat penumpang lain kepo dan ingin ikutan juga) tentang berbagai hal yang kami temui. Bukan sebuah kebetulan, seiring dengan perjalanan pada hari itu pengalaman yang kami dapatkan adalah hal-hal berbau teknologi seputar transaksi digital, termasuk di dalamnya Quick Response (QR).
Teknologi QR Jurang atau Jembatan?
Saya berusaha menggunakan semua media, bahkan sekadar “jalan-jalan” untuk belajar karena ada ungkapan bahwa “semua tempat adalah sekolah dan semua orang adalah guru”. Dengan semangat itulah kami juga mendirikan Saung Literasi yang dijadikan tempat belajar segala hal berbau literasi, termasuk literasi digital secara menyenangkan. Memang belum banyak melekat di masyarakat, tetapi setidaknya sudah mulai bergeliat.
Sebagai pribadi yang masuk dalam golongan usia kaum milenial, saya dan suami memiliki pengalaman yang tentu berbeda dengan anak-anak saya. Saya hidup di masa peralihan ketika hal-hal manual dan digital bergerak saling berkelindan dan mencicipi teknologi tersebut yang mengalir semakin lama deras tak terbendung. Hal-hal semacam ini menimbulkan gagap teknologi (gaptek) bagi siapa pun yang tidak siap dan tidak mau belajar.


Adapun anak-anak kami adalah generasi yang sejak lahir sudah bersentuhan dengan teknologi. Pada akhirnya, ada banyak hal yang harus dikomunikasikan oleh kedua belah pihak beda generasi ini. Oleh karena itu, diskusi, dialog, dan bertukar pengalaman adalah salah satu cara untuk menyambungkan kedua pemahaman tersebut.
Ketika memesan tiket kendaraan atau hotel, membayar tagihan, dan berbelanja secara daring tidak jarang kami melibatkan duo Xi. Mereka sering bertanya ini dan itu yang semakin lama semakin banyak dan kritis. Tentu tidak mudah bagi kami sebagai orangtua untuk menjawab hal-hal yang berkaitan dengan teknologi. Apalagi kami tentu harus menerjemahkannya ke dalam bahasa mereka agar bisa dipahami. Syukurlah kini banyak sekali sumber-sumber informasi, baik melalui media sosial atau situs-situs yang bisa membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, termasuk lewat Festival Edukasi Bank Indonesia atau #feskabi2019.

Satu contoh adalah ketika memesan tiket kereta komuter ke Surabaya tersebut. Model pemesanan dan pembayaran tiket secara online ini sering kami gunakan melalui KAI Access yang dibayar lewat LinkAja. Ketika memesan tiket transportasi atau ketika berbelanja alat-alat elektronik, gawai, buku, perabot rumah, isi token listrik, bayar tagihan PDAM, dll, saat itulah duo Xi ikut belajar dan semakin mengerti langkah-langkah mengisi form pemesanan hingga cara pembayarannya. Tips berhemat, berdonasi, dan menginvestasikan dana di bank yang kini mulai banyak dilakukan secara online juga sudah mulai diterapkan sedikit demi sedikit oleh mereka.

Terkait perjalanan kali ini, hal khusus yang baru kami sadari adalah pertemuan duo Xi dengan berbagai kegiatan “unik” yang dilakukan oleh beberapa petugas. Salah satu di antaranya ketika ponsel ayah mereka diperiksa oleh petugas di pintu masuk stasiun. Ponsel itu ditempelkan pada alat seperti kamera untuk dipindai. Wajah mereka terlihat khawatir juga penasaran menyaksikan kegiatan tersebut. Mereka memerhatikan gambar berbentuk persegi empat yang di dalamnya terdapat pola tidak keruan, lalu ditempelkan pada suatu alat dan menghasilkan suatu bunyi tertentu.


Hal semacam itu mereka temui lagi di gerai-gerai toko makanan (food court) di stasiun Pasar Turi Surabaya. Rasa penasaran mereka memuncak ketika kondektur Surabaya Bus turun ke halte dan (lagi-lagi) menempelkan ponselnya ke gambar tersebut yang ada di sebuah papan. Rupanya sedari tadi mereka tidak henti memerhatikan, tetapi masih terkesima dan menahan diri untuk bertanya. Barulah ketika istirahat, kegiatan itu mereka tanyakan. Rasa penasaran rupanya sudah tidak tertahan lagi.
QR Code dan Kotak-kotak Rahasia
Bagi anak kami yang masih duduk di sekolah dasar penjelasan yang sedikit teknis mungkin akan menyulitkan mereka, juga saya. Namun saya membuat strategi dengan mencari gambaran bahwa kotak berpola awut-awutan itu adalah sebuah kode rahasia. Fungsinya agar mudah dibaca oleh pemindai sehingga informasi di dalamnya dapat disampaikan dengan cepat dan ditanggapi dengan cepat juga. Orang menyebutnya dengan kode (untuk) respon cepat. Itulah alasan kode itu dinamakan QR (Quick Response) code. Orang yang ingin tahu isi kode itu harus mempunyai ponsel atau smartphone yang sudah terpasang pemindai QR code tersebut.

Saya mengatakan bahwa teknologi selalu berubah dan berkembang maju. QR code (kode matriks dua dimensi) adalah perkembangan teknologi dari barcode (kode satu dimensi). Seketika itu duo Xi mencari-cari barcode yang ada di produk makanan mereka, lalu memerhatikannya dengan saksama. Ternyata di sana juga terdapat QR code-nya. Jika di dalam barcode cuma tersimpan informasi secara horizontal, maka QR code bisa menyimpan informasi secara horizontal dan vertikal. QR code bisa menyimpan dan memuat informasi yang lebih banyak daripada barcode.

Saya pun mengisahkan bahwa awalnya QR digunakan dalam bidang manufaktur (produksi di pabrik), tetapi sekarang QR sudah digunakan untuk keperluan yang lebih luas, termasuk dalam bidang komersial (perniagaan/perdagangan). QR code ini memungkinkan orang-orang bisa berinteraksi secara cepat melalui ponsel dengan efektif dan efisien. Kini banyak pelaku usaha yang menggunakan QR dengan memasukkan logo perusahaan, klip video atau foto, dan informasi lainnya.

QR ini bisa memiliki tampilan yang lebih kecil dari barcode karena kemampuannya menampung informasi sehingga bisa tampil sepersepuluh dari kode batang. Kapasitasnya juga tinggi karena dia bisa menyimpan data numerik hingga 7.089 karakter, data alphanumerik hingga 4.296 karakter, dan kode binari hingga 2.844 byte. Kecanggihan ini mau tidak mau membuat duo Xi terpesona. Begitulah trik saya menjelaskan pada anak-anak yang menyukai gaya detektif-detektifan ini. Tinggal klik kodenya, maka terbukalah rahasia informasinya.
QR code juga lebih tahan kerusakan karena bisa memperbaiki kesalahan hingga 30% sehingga datanya masih bisa disimpan atau dibaca meskipun kotor atau rusak. Tanda segi empat di tiga sudutnya berfungsi untuk menjaga simbol tetap terbaca dengan hasil yang sama sekalipun dibaca dari sudut mana pun sepanjang 360 derajat. Kecanggihan-kecanggihan inilah yang menjadi alasan QR banyak digunakan dalam berbagai keperluan.

QR dan Langkah yang Serbadigital


Saya sudah memahami dan tidak akan merasa aneh lagi jika sekarang QR mulai banyak ditemukan dalam berbagai kegiatan, seperti untuk kepentingan pendidikan (presensi dan validasi ijazah atau transkrip nilai sehingga otentikasinya terjaga), di perpustakaan (untuk pembayaran denda atau layanan umum), di kartu pelajar (akses informasi KBM bagi para siswa, guru, dan orangtua), di produk makanan (informasi alergi, kandungan kalori, dan nutrisi serta masa kedaluwarsa), di halte bus (informasi keberadaan bus bagi penumpang maupun pengelola), dan kini yang sudah populer adalah model transaksi pembayaran digital berupa e-money. Uang virtual ini bisa dipakai untuk membayar tol, parkir, belanja di toko daring, makan di kafe, ojek online, bahkan menyumbang untuk masjid lho. Efektivitas dan efisiensi yang menjadi dasar kehidupan masyarakat milenial jelas tergambar dalam pembayaran digital semacam ini.


 QR untuk Transaksi yang Praktis dan Mudah
Pengalaman kami dalam bertransaksi QR melalui aplikasi seperti LinkAja atau OVO sudah akrab dalam kehidupan kami sehari-hari karena telah menjadi andalan untuk berbagai keperluan atau kebutuhan. Tinggal di kota kecil yang relatif serba terbatas tentu menjadi sangat terbantu. Beragam transaksi, mulai dari usaha, berbelanja, dan membayar kebutuhan harian hingga pemesanan tiket transportasi dan akomodasi kami lakukan dengan aplikasi tersebut.


Kepraktisan adalah alasan yang melekat ketika saya memilih model pembayaran digital ini. Praktis karena saya hanya membutuhkan smartphone dan akses internet. Hal ini menghindarkan saya membuang waktu hanya untuk membayar tagihan sehingga tenaga atau waktu bisa dihemat dan kami gunakan untuk melakukan kegiatan produktif lainnya. Sebagai ibu rumah tangga dengan berbagai aktivitas yang menguras energi, kepraktisan adalah sebuah hal yang sangat diutamakan.
Penggunaan QR juga mudah dan memberi kemudahan, terutama ketika banyak hal yang harus dilakukan dalam waktu yang hampir bersamaan. Saat saya sedang menulis atau berbisnis ala ibu rumah tangga, tetapi di saat itu pula saya perlu menyelesaikan transaksi keuangan, maka transaksi melalui fitur-fitur pada dompet digital tidak mengharuskan saya beranjak dari tempat beraktivitas. Sepertinya frasa “mudah dan cepat” dalam bertransaksi merupakan hal yang sulit dilepaskan bagi emak milenial yang ingin ikut #majukanekonomiyuk.

Cashless dan Sumber Daya Alam yang Terjaga
Kehadiran dompet digital saat ini tentu sedikit demi sedikit akan mengubah perilaku sebagian dari kita, termasuk saya. Uang kertas atau koin akan semakin jarang dipergunakan. Meski demikian, saya tetap mengajarkan dan berusaha menerapkan pada duo Xi serta murid-murid di Saung Literasi untuk merawat uang (fisik) yang hingga kini masih mereka gunakan. Bukan sebagai bentuk pemujaan berlebihan pada uang, tetapi sebagai bentuk penghargaan warga negara terhadap simbol kedaulatan negara yang harus dihormati dan dibanggakan. Peralihan dari sistem pembayaran manual menuju transaksi serba digital memang tidak bisa berubah sekaligus.

Berbeda dengan uang kertas atau koin, uang digital tidak membutuhkan perawatan lebih rumit dan relatif aman. Kita enggak perlu ribet membawa uang fisik yang memakan banyak tempat. Hal lain yang menurut saya lebih penting adalah terkendalinya penggunaan sumber daya alam, seperti kertas. Dompet digital akan menjadikan gaya hidup cashless dan hal itu dapat membantu upaya menjaga lingkungan.
QR Code Bisa Hemat karena Dapat Cashback
Sebagai ibu rumah tangga yang menjadi pengendali keuangan rumah tangga, saya sangat beruntung jika mampu berhemat dalam pengelolaan keuangan. Transaksi #pakaiQRstandar, baik dalam keperluan transaksi kebutuhan sehari-hari maupun dalam dunia usaha memberikan banyak efisiensi biaya. Sekarang ini, siapa sih yang menolak penawaran pemberian bagi para pembeli berupa persentase pengembalian uang tunai atau uang virtual atau terkadang pemberian suatu produk setelah berbelanja? Banyak transaksi QR yang memberikan keuntungan dengan memberikan cashback dan hal itu sangat membantu untuk penghematan keuangan keluarga sekaligus #gairahkanekonomi.


Cashback tersebut bisa kita gunakan dalam transaksi atau pembelanjaan berikutnya dan saya sering kali mendapatkan kelebihan dari hal itu. Ketika berbelanja, saya sering mendapat cashback tersebut dan cashflow (arus) keuangan keluarga kami terbantu menjadi lebih positif.


Alasan-alasan itulah yang menurut saya membuat transaksi digital menjadi gaya hidup yang semakin digandrungi kaum milenial. Saya dan keluarga kini menjadi bagian dari itu meski tinggal di daerah yang belum sepenuhnya mengadopsi nilai dan gaya hidup digital. Keberadaan smartphone dan akses internet membuat kami mampu mengikuti derap perkembangan. Praktis, mudah, cepat, relatif aman, cashless, dan memberikan banyak keuntungan dibanding transaksi manual serta kenyamanan karena transaksi bisa dilakukan di mana pun dan kapan pun serta memberi nilai tambah yang mendukung mobilitas kaum milenial sehingga bisa menikmati momen kebersamaan dengan keluarga atau sahabat secara lebih berkualitas.


Ketika saya ingin menyumbang untuk masjid atau santunan bencana misalnya, dompet digital membuat hal itu semakin mudah dan cepat. Saya selalu bilang pada anak-anak dan murid saya bahwa kemajuan teknologi harus membuat kita semakin manusiawi. Uang memang semakin lama hanya menjadi deretan angka, namun dengan rela berbagi uang akan menjadi berharga dan membawa bahagia. Bukan tidak mungkin Saung Literasi kami pun akan menggunakan teknologi QR ini. Duo Xi bilang, tinggal klik kode QR-nya, lalu terbukalah rahasia informasinya. Secepat dan sesimpel itu!
x