Kopi Pahit untuk Gendhis

GADIS PELAYAN yang rambutnya dikuncir ekor kuda itu kembali sekali lagi membawakan pesanan roti bakar dan secangkir kopi untuknya. Ekor mata perempuan bergaun warna turangga itu melirik cangkir yang sudah terisi kopi di hadapannya. Air, kopi, dan gula pada campuran berwarna hitam itu padu menyatu. Kopinya seperti perpaduan rasa bersalah, cemburu, dan takut yang kini bercampur aduk pada cangkir hatinya. Ia tidak membutuhkan creamer untuk mengubah tiga rasa itu. Baginya, mereka bertiga sudah cukup untuk menjadikan hidupnya penuh dengan keriuhan. 


Kabut di sore itu sudah mulai turun dan hujan tampaknya hanya menunggu waktu untuk jatuh ke bumi yang sebenarnya masih basah di sekitar Ungaran. Namun perempuan itu merasa ia mungkin akan tertahan sedikit lebih lama di tempat yang begitu hening ini. Sambil sesekali melempar pandangan pada perbukitan yang mulai gelap dan melahirkan kerlap-kerlip lampu dari bangunan-bangunan di bawah sana, ia memperbaiki letak syal yang melekat di lehernya yang jenjang. Matanya yang berbulu lentik alami lebih sering tertuju pada dua sosok yang saling menunduk di ujung area café yang saat itu lengang. Hanya empat yang terisi dari sekitar sepuluh meja di lokasi outdoor tempat ngopi yang sangat Instagrammable berlatar belakang pegunungan itu. Ekspresi mereka sulit ditebak. Masker menjadi penghalang komunikasi yang sangat nyata di masa pandemi seperti saat ini.

***


Hawa dingin mulai menggigiti kulitnya ketika telinga Gendhis mendengar suara Ryan yang sejak tadi terdiam dan membuat suasana canggung di sekeliling mereka. Sosoknya kini seakan hadir dengan segala pesonanya. Ketampanan wajahnya yang tertutup sebagian oleh masker seolah selalu mampu membius. Beberapa sosok perempuan yang berseberangan meja dengan mereka pun tak henti-henti memandanginya dengan tatapan penuh minat.


Ryan mulai berdiri dan berjalan ke pinggir lereng di sisi meja mereka. Ia berbicara sambil membelakangi Gendhis. “Enam tahun tidak banyak mengubahmu, Dhis. Aku tetap merasa nyaman dan damai ketika berada di dekatmu. Aku tidak pernah bisa berbohong tentang hal ini.” Matanya menerawang ke arah lembah di bawah yang kini tampak seperti kolam raksasa dengan kabut yang megah. 


Suara Ryan hanya lamat-lamat terdengar. Ia menjaga suaranya agar tidak terlalu keras. Gendhis tetap dapat mendengarnya meski sambil diam membisu. Meski begitu, matanya sudah mulai terangkat dari cangkirnya. Suasana tetap hening. Hanya semilir angin gunung yang tiupan lembutnya menyapu kulitnya. 


“Selama di Berlin hingga kembali ke Semarang aku selalu mencari kabar tentangmu. Enam tahun kulewatkan tapi tak seberkas kabar pun bisa kudapatkan. Hingga akhirnya aku bertemu Ratna, adikmu. Sungguh, aku sangat bersyukur sekarang bisa mengetahui keberadaan kamu dan Rayhan. Terima kasih juga karena sudah mau menemuiku.”


Ryan berbalik dan kembali duduk di hadapan Gendhis. “Maafkan aku. Aku sadar, Rayhan memang lahir di tengah kelengahanku. Namun aku berpikir dia bukanlah sebuah kesalahan. Selamanya dia akan menjadi bagian dari diriku Aku bersumpah, Dhis. Tak seorang pun berhak menyakitinya karena itu berarti juga menyakitiku. Aku bersedia melawan siapa pun demi dia, bahkan dunia sekali pun. Aku ingin bertemu dia. Tolonglah. Kumohon ….” 


Ryan memang berkata jujur. Ia tak pernah tahu keberadaan putranya itu. Tetapi kejujuran Ryan justru amat pahit dan menyakitkan bagi Gendhis. Ia seperti seekor rusa yang terluka akibat serbuan anak panah pemburu. Ia adalah seorang perempuan yang sadar masih memiliki luka yang basah. Gendhis merasa sampai saat ini dirinya harus menjaga nama baik Ryan dan tak pernah tahu sampai kapan. Ia terlalu memujanya.


Perlahan Gendhis mulai mengangkat wajahnya yang sedari tadi lebih banyak memandangi kedua cangkir kopi di hadapannya. Selera kopi mereka tetap sama meski sudah enam tahun berlalu. Ia berusaha amat keras untuk melepas tatapannya dari kopi tersebut dan menatap Ryan langsung ke sorot matanya yang teduh. Ia tidak yakin sepenuhnya pada kekuatan dirinya. Saat itu ia hanya sanggup berkata, “Ryan, jika kamu mau, kamu bisa ikut aku sekarang.” Sebuah kalimat yang sulit untuk diartikan sebagai perintah atau ajakan. Tetapi ucapan itu sanggup membuat Ryan beranjak dan berjalan mengikutinya. Kedua cangkir kopi itu tak pernah tersentuh lagi ….

***


Gadis pelayan berkuncir kuda kini menghampiri meja di ujung area. Satu cangkir kopi datang bersama seporsi roti bakar yang sama seperti pesanan di meja pojok sana. Ratna tahu bahwa sisi terdalam hatinya masih menjadikan laki-laki yang tengah berbincang berdua dengan wanita manis itu sebagai pangeran dalam hidupnya. Gelombang cemburu sekaligus takut yang bergejolak di dadanya membuat ia harus memutuskan, sekarang atau tidak sama sekali. Ia tahu sikap yang akan diambilnya akan membuat laki-laki itu bertahan atau sebaliknya, pergi bersama dengan wanita di seberang meja itu.


Namun melihat mereka berdua bergegas meningggalkan tempat itu membuat Ratna terperanjat. Tanpa dapat ia tahan, cangkir kristal cantik yang ia genggam dengan kedua tangannya itu meluncur lepas. Cangkir cantik berhias bunga dan kupu-kupu itu jatuh berkeping-keping di dekat kakinya. Serpihan beling yang bertebaran tak sanggup membuatnya bergerak sedikit pun. Ia berusaha menahan isakannya yang kini semakin membuat bahunya bergetar. Kedua tangannya langsung menutup mulutnya dengan patuh. Satu hal yang ia tahu saat itu, ia telah kehilangan permata hatinya, pangerannya.

***


Enam tahun yang lalu Gendhis melarikan diri dari Ryan. Ratna adalah satu-satunya orang yang tahu penyebabnya. Gendhis bukan pergi atas keputusannya sendiri. Ia begitu panik menghadapi kehamilan yang dialaminya. Namun itu bukan alasan yang membuat Gendhis pergi dari Semarang. Dialah yang mengancam Gendhis hingga gadis malang itu tak sanggup bertahan lagi di kota berjuluk Kota Atlas. 


Ancaman untuk mengadukan kejadian itu pada pihak kampus membuat Gendhis ternyata lebih memilih mengorbankan hidupnya demi Ryan. Ancaman itu bisa menjatuhkan posisi Ryan sebagai dosen dan membatalkan rencana keberangkatan Ryan untuk meneruskan studinya ke Jerman. Gendhis tidak ingin menjadi penghalang dari kelanjutan cita-cita yang dipendam oleh Ryan sejak awal ia merantau ke kota ini. 

***


Gendhis, seorang gadis yatim piatu dan dinikahi secara siri oleh Ryan enam tahun yang lalu. Tak ada yang salah dengan hubungan Gendhis dengan Ryan. Mereka berasal dari keluarga yang sama-sama sederhana. Ratna pun sempat hadir pada saat ijab kabul sahabatnya itu. Namun setahun kemudian segalanya berubah. Ia jatuh cinta pada Ryan. Entahlah. Rasa cinta itu begitu kuat dan manis. Ia tidak sanggup menahan gelombang perasaan itu. Ia merasa ingin merebut Ryan dan menjadikannya sebagai miliknya seorang. Tak pernah ia mendapatkan penolakan karena dengan uang ayahnya yang seorang konglomerat ia bisa menggerakkan segalanya demi meraih apa pun keinginannya. 


Ia tidak pernah merasa bersalah karena berusaha mengambil Ryan, sesuatu yang bukan haknya. Kopi yang tumpah di lantai itu masih terasa panas bahkan panasnya ikut meresap hingga ke dalam sanubarinya.

***


Gendhis membawa Ryan menuju sebuah gundukan tanah berumput. Ia memetik beberapa bunga melati yang tumbuh di dekat batu nisannya. Ryan seketika jatuh berlutut dan tak sanggup bersuara melihat pemandangan di hadapannya. Ia hanya terisak-isak dengan aroma penuh luka. Gendhis bersuara lirih, “Seharusnya Februari ini Rayhan genap berusia enam tahun. Tetapi enam bulan yang lalu dia sudah pergi. Covid-19 merenggutnya dari kita. Dia sangat tampan seperti kamu, Ryan. Dia juga pintar dan anak laki-laki yang santun. Dia selalu bertanya tentang dirimu. Aku yakin kedatanganmu ke sini sudah menjadi kado ulang tahun terindah untuknya.”


Posting Komentar

0 Komentar