Terapi Bullying Ala Rumi

"Alhamdulillah ...." Rumi langsung sujud syukur setelah yakin bahwa ia tidak salah lihat namanya tertera sebagai pemenang lomba menulis bertema "Jika aku besar nanti, aku ingin menjadi .... " Ia berseru dengan senangnya, "Beneran aku yang menang, Bund?"
 
Tanggal 30 September 2021 adalah hari terakhir bulan tersebut yang dirayakan Rumi dengan penuh suka cita. Tulisannya berhasil memikat seluruh juri (10 orang) sehingga terpilih sebagai pemenang dalam gelaran Chuseok Angpao yang digagas oleh blog CREAMENO. Saya sendiri terkejut dengan keputusan itu karena sama sekali tak menyangka Rumi bisa terpilih. Malah saya sempat menyampaikan sedikit rasa pesimis, yang saya sesali belakangan, karena berpikir Rumi termasuk peserta yang didiskualifikasi. 


Isi tulisan Rumi memang lebih cenderung curhat tentang keinginannya jadi atlet dan sabeum taekwondo. Rumi pun mengisahkan awal mula ia bisa menyukai olahraga bela diri tersebut. Salah satu yang mendorongnya adalah peristiwa bullying atau perundungan yang dialaminya ketika duduk di kelas satu SD. 

Perlunya adaptasi

Sebagai orangtua yang benar-benar mengikuti perkembangan Rumi, saya tahu betul bahwa Rumi mengalami momen-momen berat yang membuatnya terpaksa berjuang untuk mengatasinya. Mungkin perbedaan aksen, postur tubuh hingga pencapaian di kelas yang terbilang bagus membuat beberapa anak merasa iri dan tidak menyukainya. 

Ada beberapa anak yang melakukan hal-hal "mengerikan" dengan mengekspresikan ketidaksukaannya dengan perilaku yang membahayakan anak-anak lainnya. Akan tetapi, saya sama sekali tidak menyalahkan si anak yg membully Rumi karena banyak faktor yang pasti mempengaruhi perilakunya tersebut. Salah satunya pola asuh atau parenting yang buruk di keluarganya dan hal tersebut akhirnya memang terbukti. 

Walhasil, saya dan suami berusaha mencari solusi utk ikut meringankan dan mengatasi masalah Rumi tersebut. Mulai dari menemui kepala sekolah untuk mengatasi para pem-bully Rumi, mempertimbangkan untuk mencari sekolah lain hingga mencarikan aktivitas di luar sekolah yang bisa membuat Rumi mengalihkan perhatian dan melampiaskan emosi secara positif hingga bisa menghilangkan traumanya. 

Hal itu jujur saja sangat sulit dilakukan. Kami benar-benar sering dibuat kelimpungan dengan kepribadian Rumi yang cenderung berubah menjadi terlalu peka (baper), mulai temperamental tapi mudah cengeng, malas belajar, dan mood swing yang sangat cepat berubah-ubah. Kami bersyukur hal tersebut tidak terlalu berimbas pada hubungan Rumi dengan adiknya. Setidaknya ia tetap memperlakukan adiknya dengan penuh kasih sayang. 

Bergerak aktif solusinya

Beberapa upaya akhirnya kami coba dan sedikit demi sedikit angin mulai berubah ke arah yang positif, seperti contohnya ketika ia mau dan tertarik untuk melakukan kegiatan-kegiatan seperti menggambar, menulis diari, ikut bela diri Taekwondo, dan sering ikut kegiatan berbagi lewat komunitas NBC juga ikut kajian di Masjid Namira kesayangannya. 

Satu per satu benang kusut trauma bullying yang dialami oleh Rumi mulai terurai. Ia menikmati kegiatan-kegiatan tersebut. Bahkan beberapa di antaranya ada yang menghasilkan pencapaian di luar ekspektasinya. Sebut saja ketika ia mendapat apresiasi menggambar dari salah satu blogger di Jepang yang membeli karyanya dengan harga fantastis bagi ukuran Rumi. Ia sangat senang dengan apresiasi tersebut. Pernah pula ia memenangkan hadiah buku-buku yang lumayan banyak dari lomba menggambar yang diselenggarakan oleh penerbit Noura. Rumi juga mendapat kenaikan sabuk dua tingkat langsung di ujian kenaikan tingkat taekwondo yang hingga saat ini rekor tersebut belum terpecahkan. 

Beberapa kali ia pun mengikuti event atau lomba (saya tahu betul bahwa Rumi benar-benar ingin berusaha mencapai sesuatu) dan ia membuktikan bahwa ia mampu. Ia juga mulai menggandrungi komik yang baginya dianggap bisa mengekspresikan ide atau gagasannya. Ia mulai memahami dan percaya bahwa ketika ia dapat mencapai sesuatu yang baik, akan ada reaksi positif atau negatif di sekelilingnya. Namun hal yang negatif harus berusaha dia enyahkan dan berupaya untuk memilih serta mengambil hal-hal yang positif saja. 

Jadilah tantangan menulis ala diari mengenai keinginan seorang anak jika ia besar nanti menjadi salah satu kegiatan favorit dan mengisi sebagian besar waktu Rumi di sela-sela pembelajaran sekolahnya yang memasuki penilaian tengah semester. 

Butuh terus memotivasi

Perjalanan Rumi mengatasi trauma perundungan yang ia alami memang belum sepenuhnya selesai. Bagaimanapun, alam bawah sadarnya kadang muncul mengingat peristiwa perundungan yang pernah Rumi alami. Sebagai orangtua, kami dituntut untuk terus sabar dan memberi penguatan serta motivasi yang bisa membangun kembali rasa percaya diri, keberanian, kerja keras dan kemandirian, tetapi tanpa kehilangan rasa empati, kasih sayang, dan kejujuran. 

Masih banyak anak-anak lain yang kini masih bergulat dengan bullying, baik sebagai pelaku maupun korban. Tidak ada hal yang tidak mungkin untuk memutus mata rantainya selain dengan upaya belajar memperbaiki pola asuh atau parenting sehingga bisa menciptakan ruang yang positif bagi anak-anak tersebut. Semoga! Apakah Sahabat Xibianglala juga punya pengalaman tentang bullying juga? Yuk kita sharing .... 

0 komentar:

Posting Komentar