Cara Klaim Kacamata Melalui BPJS

Tanggal 20 bagi sebagian orang dianggap sebagai tanggal tua. Namun sampai setua ini pun saya gak pernah tahu siapa yang pertama kali mempopulerkan kata tanggal tua itu. Meski begitu, saya yakin orang itu pasti punya gaji karena gaji biasanya ditransfer tanggal 1, ya kaaan? Analisis ini memang absurd karena gak punya basis data samsek. Tapi ya sudahlah, lupakan saja, heuheuheu! 

Mungkin juga dikatakan tanggal tua karena dompet pada tanggal segitu sdh mulai berkerut. Semakin menuju akhir bulan, dompet mulai gampang diwiron atau dilipat-lipat karena isinya makin tipis. Di saat-saat seperti inilah tips dan trik ngirit mulai banyak dicari.

Semua kalangan pasti sudah tahu bahwa emak-emak punya power buat memutuskan hal-hal krusial terkait ekonomi keluarga. Apalagi di zaman pandemi, jelas hemat adalah pilihan utama. Lebih memilih beli beras ketimbang beli emas. Lebih memilih beli susu ketimbang beli baju. Pokoknya semangat menjaga kestabilan jumlah rupiah di dompet selalu membara di dada.

Dalam hal ini, tentu cuan akan jadi masalah, khususnya bagi saya jika mata yang sangat diandalkan untuk baca resep masakan, nonton drakor, atau membaca novel ini mulai sering melihat penampakan. Orang ganteng yang menjadi kelihatan dobel wajahnya ditambah efek ngeblur bukanlah sesuatu yang indah dinikmati. Kepala pun sering berputar seperti kipas angin duduk Modena yang bikin gampang merem dan jadi ketagihan nempel ke bantal.

Obrolannya jadi gak nyambung lagi deh. Nah, selain tanggal 20 Mei 2021 merupakan tanggal tua, saat itu juga jadi ajang bagi saya untuk membuktikan betul atau tidaknya BPJS bisa menjadi solusi bagi masalah saya.

Saat krisis dompet itulah saya langsung mengajak si sulung untuk meluncur ke tempat di mana saya bisa mengganti kacamata yang sudah terasa seperti kaca nako ini. Kacamata yang pernah ditebak harganya jutaan oleh teman sekantor ini, padahal sebenarnya gak nyampe lima ratus ribu, adalah kacamata terlama yang pernah saya pakai. Tapi rupanya umur emang gak bisa dibohongi. Kacamata gaek meski stylish ini sudah terpaksa harus diregenerasi.

DATANG KE FASKES MESKI KONDISI LEMAS

Senin menjelang subuh, saya sudah niat puasa untuk mencicil utang puasa Ramadan. Sebenarnya belum ada niat untuk  ganti kacamata. Ndilalah, pagi hari mata saya lumayan sulit untuk diajak kerja sama menulis outline untuk calon buku baru. Tanpa berpikir panjang kali lebar kali tinggi jadi volume, saya ajak Rumi si tukang komik untuk ikut ke klinik. Eits, kok ke klinik? 

Yups, fasilitas kesehatan (faskes) yang keluarga saya pilih emang sebuah klinik, tapi lumayan lengkap fasilitasnya, bahkan ada tempat rawat inap. Nah, berhubung sudah sering datang untuk periksa tensi yang sering naik turun kayak roller coaster, saya langsung daftar dan mengonfirmasi kepesertaan saya dengan kartu BPJS yang selalu setia menemani di dalam dompet. 

Gak pakai ribet antre atau printilan ini itu, saya langsung bertemu dengan dokter yang dengan ramah menyimak keluh kesah saya. Oh ya, prokes yang ketat bikin komunikasi emang ternyata rada bikin saya harus berusaha mengeluarkan tenaga lebih besar karena pada dasarnya suara saya terlalu lembut merdu merayu. Dialog saya dan dokternya jadi mirip si Malih dan Bolot. Gak usah dibayangkan deh. Benat-benar capek, tapi saya tetap semangat demi ganti kacamata.

Pembicaraan yang dilakukan ala lenong rumpi itu menghasilkan surat rujukan. Surat itu adalah surat pengantar dari dokter di faskes agar saya menemui dokter spesialis mata. Akan tetapi, berhubung klinik yang menjadi faskes saya tidak memiliki dokter spesialis mata, maka dokter memberikan surat rujukan tersebut. Ada beberapa tempat yang jadi rujukan, dua di antaranya rumah sakit besar dan satu klinik spesialis mata. 

Saya pilih untuk membawa surat rujukan itu ke klinik spesialis mata. Soale klo harus ke rumah sakit, saya mesti datang esok hari karena dokter tidak ada pada hari ini dan waktu pendaftaran di sana pun sudah tutup. Adapun klinik spesialis mata ini buka hingga jam lima sore dan masih bisa saya kejar hari ini juga.

Lokasi yang berada di pinggir jalan raya membuat klinik spesialis mata tersebut mudah ditemukan. Tapi entah mengapa saya merasa tersiksa. Bukan karena pelayanannya yang memang bagus dan profesional, tapi karena lokasinya berdampingan dengan toko roti yang aroma rotinya ketika dipanggang menyeruak dan membuat perut saya meronta-ronta. Rasa lemas akibat sedang berpuasa semakin terasa nelangsa hingga tebersit niat untuk membatalkannya.

Hanya saja, rasa gengsi untuk menyerah saya pertahankan karena Rumi ada di samping saya. Mana mungkin saya batal hanya karena melihat roti dan pentol yang sedang dia makan. Imej kekuatan daya tahan lapar saya bisa ambrol seketika dan saya belum rela.

Syukur alhamdulillah, pemeriksaan mata  saya dan Rumi berjalan dengan lancar. Mungkin karena klinik ini benar-benar spesialis mata sehingga klinik ini bisa sepenuhnya tahu apa yang harus dilakukan oleh mata-mata, eh mata kami. Pemeriksaan hanya memakan waktu tak sampai 30 menit, tapi yang lamanya seperti menunggu kepastian dari si dia yang belum ngelamar adalah menunggu antrean yang bejibun. Kayaknya klinik ini banyak banget fansnya melihat tak banyak klinik semacam ini.

Hasilnya seperti yang sudah saya duga, kami berdua perlu kacamata baru. Dokter yang memeriksa langsung tahu bahwa mata indah kami berdua memiliki keistimewaan dan butuh kacamata untuk menyempurnakan, hassyyaahhh. Saya dan Rumi mendapat rekomendasi optik rujukan yang sudah bekerja sama dengan BPJS. Salah satunya sudah pernah kami kunjungi ketika si bungsu penggemar kendaraan besar itu membeli kacamata berlensa minus pertamanya.

Tak menunggu lebih lama, setelah selesai periksa di klinik kami segera meluncur lagi ke optik untuk klaim kacamata. Optik ini lumayan lengkap koleksinya dan ramah pelayanannya. Dengan tubuh yang lemas akibat menghirup aroma roti, saya menguatkan hati untuk tetap betjalan menuju optik yang sudah ditunjuk.

Saat siang sudah makin terik, sampai juga kami di optik. Sebenarnya, saya agak tak yakin jika melihat tampilan optiknya. Sepertinya butuh dompet berisi berlembar-lembar untuk memilih kacamata  di sini. Kecut juga hati saya ketika melangkah memasukinya. Inilah yang mungkin disebut sindrom tanggal tua itu. Saya memang tak membawa uang lebih selain untuk isi BBM dan sepincuk nasi boran jika terpaksa. Tapi untuk membeli kacamata? Saya rela balik kanan bubar jalan.

Namun mental emak irit sudah merasuki saya sehingga tak surut usaha saya untuk mendapatkan kacamata, setidaknya untuk Rumi. Jadi dengan percaya diri ala model sekelas Gigi Hadid saya langsung menghadapi mbak pelayan di konter kacamata. 

Sekali lagi ia memeriksa mata kami dan kemudian mempersilakan untuk memilih model kacamata. Saya.dan Rumi memilih model seusai budget yang ada dalam standar BPJS. Berhubung kami mengambil pelayanan BPJS kelas 3, maka kami pun harus menyesuaikan dengan harga yang sudah ditetapkan sesuai kelas. 

Ternyata, Rumi bisa mendapatkan kacamata yang dibutuhkannya tanpa membayar apa-apa lagi. Berbeda dengan saya. Harga yang terkover hanya cukup untuk menopang frame kacamatanya saja. Adapun untuk lensa, saya harus menambah biaya karena  ada selisih harga. 



Duh, saya sempat galau untuk melanjutkan pembelian kacamata ini. Mungkin karena lensanya lebih complicated ya. Saya butuh lensa untuk minus, plus, dan juga silinder. Saat inilah saya baru benar-benar menyadari bahwa saya sudah semakin menua, heuheuheu.

Syukurlah ayah Xi memahami kegalauan saya dan menyuruh saya untuk tetap memesan kacamata itu. Dia tahu bahwa kegantengannya akan semakin bersinar jika mata saya bisa melihat tanpa terganggu. Akhirnya, dengan berbagai perasaan berkecamuk antara sedih, kecewa, senang, deg-degan dll dsb dst, saya memantapkan hati untuk mengambil pesanan itu.

Saya menambah kekurangan dengan sisa-sisa tabungan uang belanja yang sudah diirit-irit dan disuntik juga dengan dana dari ayah Xi yang baru dapat transferan job menulis. Alhamdulillah, nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Pengalaman ini membuat saya makin lega bahwa BPJS memang membantu banget. Oleh karena itu, kami berusaha untuk membayar iuran dengan tertib karena pelayanan BPJS terasa sekali manfaatnya. 

Bagaimana dengan pengalaman sahabat Xi yang lainnya nih?

Posting Komentar

0 Komentar